Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
21 | HADIAH VIAN


__ADS_3

Esok harinya, siang hari sepulang sekolah.


"Reva, besok kau ada rencana?" tanya Vian sambil menyeka keringat yang menghujani wajahnya.


Reva terdiam, berpikir sejenak. "Rencana? Tidak ada," jawabnya.


"Bagus. Kalau begitu apa kau bisa menemaniku ke suatu tempat?" tanya Vian drngan semangat.


Reva mengernyitkan alis, menatap Vian cukup lama. "Mau ke mana?"


"Temani aku belanja."


"Eh, belanja apa? Memangnya kau tidak bisa sendiri?" tanya Reva lagi. "Oh atau jangan-jangan kau menyuruhku ikut denganmu supaya kau bisa suruh-suruh aku membawakan belanjaanmu?" ucap Reva menebak-nebak.


Vian memasang wajah aneh. "Mana mungkinlah. Lagi pula tenagamu yang kecil begitu mana bisa aku manfaatkan," ledek Vian.


Reva merengut sambil menepis lengan Vian. "Bodoh." Tiba-tiba ia memegangi kedua lututnya. "A-Aduh, lututku sakit sekali. Mana bisa jalan kalau begini."


Vian mengetuk kepala Reva. "Bohongmu itu tidak profesional. Sudah jangan banyak alasan. Sebelum aku sendiri yang datang ke rumahmu, minta izin dengan ibumu. Memangnya kau mau?"


"Iya, iya. Jam berapa? Jangan tiba-tiba datang ke rumahku seperti waktu itu!" kata Reva sambil mengangkat telunjuknya, memberu peringatan.


"Jam 09.00. Tidak lebih, tidak kurang," jawab Vian. "Tapi kalau kau terlambat sedikit, siap-siap saja. Aku akan menjemput ke rumahmu."


Esok paginya.


"Vian, bukannya aku sudah bilang jangan jemput ke rumahku?" teriak Reva begitu di depan rumah. Dengan Vian tentunya.


Vian memasang muka santai, merasa tidak bersalah. "Ingat kesepakatan kemarin?" tanya Vian.


Reva mengangguk. "Kesepakatan yang mana?"


"Kalau kau terlambat, aku akan menjemput ke rumahmu," jawab Vian yang disambut dengan anggukan kepala Reva.


"Lalu? Aku kan tidak terlambat," ujar Reva tidak mau kalah. Ia merasa sudah tepat waktu.


Vian menatapnya. "Coba lihat jam di ponselmu baik-baik."


Reva melihat jam di ponselnya, menunjukkan pukul 09.01. Ia langsung menghadapkan layar ponsel itu tepat ke muka Vian. "Lihat! Ini masih jam sembilan. Jam sembilan!" teriaknya.


Vian balik menghadapkan layar ponsel ke wajah Reva. "Memang masih jam sembilan, tapi lewat satu menit. Terlambat," balas Vian.


Reva membulatkan matanya. "Apa? Hei, hanya satu menit. Bagaimana mungkin kau menyebutnya sebagai terlambat?"


"Tentu saja terlambat. Sudahlah, ayo bergegas pergi sebelum siang!" ajak Vian. Reva berjalan mengikuti Vian. "Kita mau ke mana?"


Vian melihat sekeliling. "Ke sana terlebih dahulu," ucapnya sembari menunjuk toko itu.


"Kau mau membeli apa? Untuk siapa?" tanya Reva lagi.


"Sudah kubilang sebuah hadiah untuk perempuan," jawab Vian.


Jawaban Vian mengejutkan Reva. "Hadiah? Untuk perempuan?" tanyanya.


Vian mengangguk. "Iya. Memangnya ada apa?" Vian balik betanya.

__ADS_1


Reva menggeleng kuat-kuat. "Vian ingin memberikan hadiah kepada perempuan? Apa itu orang yang dia sukai?" tanya Reva dalam hati.


"Makanya aku membawamu ke sini. Kau perempuan. Aku ingin minta pendapat, hadiah apa yang sekiranya cocok untuk perempuan. Kau punya saran?" tanya Vian.


Reva terdiam, tidak mendengar suara Vian karena banyak melamun. Menyadari hal itu, Vian menepuk bahu Reva, membuatnya terkejut.


"A-Ada apa? Apa kau bilang tadi?" tanya Reva.


Vian menghela napas panjang. "Hadiah yang cocok untuk perempuan. Kau punya saran?" Vian mengulangi pertanyaannya.


"Semua itu tergantung dari bagaimana orang yang akan kau beri hadiah itu. Apa dia sangat berharga bagimu?" tanya Reva. Matanya tertuju pada sebuah bandana yang terlihat elegan. Ia menyentuhnya.


"Tentu saja. Sangat berharga bagiku," jawab Vian. Ia menatap Reva, mengambil bandana itu. "Meskipun dia membuatku jengkel, tapi aku menyayanginya," tambahnya.


Reva semakin terkejut dibuatnya. "Apa ini? Mengapa aku tidak suka mendengar ucapannya?" pikir Reva. Ia menepuk-nepuk pipinya, langsung menjawab, "O-Oh. Apa kau tahu kesukaannya? Misalnya hobinya?"


Vian berpikir sejenak. "Dia seperti tidak punya hobi. Setiap hari menggangguku. ah, aku tahu apa yang dia sukai. Dia sangat suka tidur sampai selalu bangun terlambat, tidak ingat waktu," jelas Vian.


"Vian bahkan tahu kebiasaannya. Siapa gadis yang disukainya itu?" tanya Reva dalam hati. "Kalau begitu berikan saja jam tangan. Kau bilang dia sering lupa waktu, kan? Nah, sepertinya jam tangan adalah ide yang sangat bagus," kata Reva.


"Boleh juga. Kalau begitu ikut aku ke tokonya," kata Vian sembari menarik tangan Reva. Ia memasuki sebuah toko jam tangan, tak jauh dari toko sebelumnya.


"Vian, kau bisa melepaskan tanganku sekarang," ucap Reva. Ia lebih banyak menunduk, seperti kehilangan semangat.


"Tidak mau. Nanti kau hilang," jawab Vian. Ia mempererat pegangannya.


Reva semakin kesal dibuatnya. Ia menatap Vian tajam. "Bodoh. Mana mungkin aku hilang di dalam toko begini!"


"Bebal. Ikuti saja kata-kataku!" balas Vian. Ia memandangi jam tangan dari balik kaca. Reva turut melihat-lihat ham tangan yang terjajar dengan rapi. "Semua pilihannya terlihat sangat cantik. Kau harus menyesuaikan jam tangan yang akan kau beli dengan tangannya," ucap Reva.


"Cukup. Kau menyakiti hati kecilku," kata Reva sambil membuang muka.


Vian tertawa mendengar ucapan Reva. "Aduh, Reva. Aku hanga bercanda. Jangan merajuk terus, aku susah membujuknya," goda Vian. Ia memilih sebuah jam tangan, memasangkannya pada Reva.


"Harus kuakui, seleramu sangat jelek, Vian," balas Reva meledek. Ia melepaskan jam tangan yang dipasangkan Vian, lalu memilih sebuah jam tangan dari kaca. "Coba lihat itu! Jam tangan berwarna hitam dengan jarum berwarna emas. Bukankah terlihat lebih elegan?"


"Mungkin. Ah, Mbak, tolong jam tangan yang itu," ucap Vian sambil menunjuk jam tangan yang dimaksud Reva. Ia memasangkan jam tangan itu pada Reva.


"Pilihan yang bagus. Sepertinya akan cocok di tangan orang yang ajan menerima hadiahmu," komentar Reva.


"Baiklah. Aku akan membeli ini," kata Vian. Tanoa berpikir panjang lagi ia langsung membeli jam tangan itu dan mengajak Reva untuk keluar dari toko. "Reva, bisakah kau tunggu aku sebentar? Sepertinya aku meninggalkan sesuatu di toko perhiasan yang kita kunjungi sebelumnya," kata Vian.


"Baiklah," jawab Reva singkat. Ia berdiri di depan toko jam tangan, menunggu Vian. "Siapa orang beruntung yang disukai Vian?" gumamnya.


Tak lama kemudian, Vian menghampirinya. "Sudah selesai. Apa kau mau pergi ke tempat lain? Aku bisa menemanimu," tawar Vian bersemangat.


Reva merengut, menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku mau langsung pulang."


"Tapi aku bahkan tidak memberimu apa pun, setidaknya-"


"Aku mau langsung pulang," potong Reva. Suaranya terdengar lebih datar dari sebelumnya.


Di jalan ia lebih banyak diam, bahkan ketika tiba di depan rumahnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pub, ia langsung memasuki rumah, menutup pintu dengan segera.


"Ya sudah. Besok saja aku berikan," kata Vian. Ia langsung bergegas pulang.

__ADS_1


Keesokan harinya, setelah hari sakit hati bagi Reva.


Vian datang, memasuki kelas. Ia mengetuk-ngetuk pelan kepala Reva. "Anak pemalas. Sejak kapan kau suka tidur di kelas?"


Tak ada respons. Reva semakin membenamkan kepalanya. "Jangan ganggu aku!" bentaknya.


"Reva hari ini galak sekali, tidak seperti biasanya," kata Vian. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Apa kau sedang PMS?" bisiknya.


"Sudah kubilang jangan mengganggu!" teriaknya lagi. Ia memperlihatkan wajahnya dengan mata bengkaknya, entah karena habis menangis atau kurang tidur.


Vian tersentak. "Eh, kau bergadang tadi malam?" tanya Vian lagi, namun kembali tak direspons. Vian menarik sebuah bangku, meletakkannya di sebelah meja Reva.


"Aku belum mengucapkan terima kasih untuk kemarin. Oh iya, Va, kakakku sangat menyukai hadiah yang kau rekomendasikan kemarin," kata Vian sambil tersenyum.


Reva segera menatap Vian. "Kakakmu? Jadi hadiah yang kemarin itu untuk kakakmu?" tanya Reva untuk meyakinkan.


Vian mengangguk. "Kau pikir untuk siapa?" Vian balik bertanya. Tiba-tiba saja Reva berteriak kencang.


"Kalau begitu percuma saja aku cemburu sampai menangis tadi malam. Vian bodoh. Selalu membuatku salah paham," gumam Reva.


"Oh jangan-jangan kemarin kau tidak mau berbicara karena marah. Apa kau cemburu? Wah, Reva ternyata menyukaiku," goda Vian.


Wajah Reva yang merona tiba-tiba ia palingkan dari tatapan Vian. "Te-Tentu saja tidak. Kau itu menyebalkan, suka menggangguku, tidak pernah merasa bersalah. Mana mungkin aku menyukaimu," sahut Reva, masih membuang muka.


"Eh, Reva jahat sekali. Masa kau membiarkan aku sendiri yang menyukaimu? Tidak adil. Kau harus menyukai aku juga!" balas Vian.


Pipi Reva semakin memerah. "Dasar pemaksaan. Tapi bercandamu berlebihan, bodoh."


"Dasar, Reva, si anak yang tidak peka. Apa kau masih marah?" tanya Vian mengalihkan topik. Reva mengangguk kuat-kuat sambil merengut.


"Kalau marah terus kau bisa cepat tua. Nanti tidak ada yang suka padamu," kata Vian. Ia membuka tasnya, merogoh isinya.


"Biar saja aku tua. Aku tidak peduli," tambah Reva sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Aduh, galaknya. Tapi tenang saja, kau masih punya aku yang akan selalu menyukaimu."


"Ya ampun, Vian. Jangan menggodaku terus!" teriak Reva.


Vian tertawa. Ia mengeluarkan sebuah paper bag kecil dari dalam tasnya. "Berikan tanganmu. Ada sesuatu yang ingin aku berikan," ucap Vian.


"Kalau mau menyuapku agar tidak marah, sebaiknya tidak usah," sahut Reva.


"Ini mana bisa digunakan untuk menyuap," balas Vian. Ia langsung menarik paksa tangan Reva, meletakkan paper bag itu ke tangan mungilnya.


"Ini apa?" tanya Reva begitu menerima barang itu.


"Kalau mau tahu, lihat saja sendiri," jawab Vian sambil tersenyum. Ia mempersilakan Reva untuk membuka paper bag itu.


Mata Reva tertuju pada benda di dalamnya. "Ini, bukannya yang kemarin?" tanya Reva. Ia mengambil sebuah bandana berwarna navy-biru kehitaman, dari dalam paper bag itu. Ia menatapnya sambil terkagum-kagum.


Vian tersenyum puas. "Iya. Kemarin aku lihat kau sangat menginginkan ini, jadi aku membelinya untukmu. Apa kau suka?" Vian balik bertanya.


Reva mengangguk, balas tersenyum. "Ini cantik. Tapi mengapa kau harus membelinya? Aku tak begitu menginginkannya."


"Tidak masalah. Ini hadiah dariku untukmu, Reva. Harus diterima dan harus dipakai!" tegas Vian. Ia meraih bandana itu, memakaikannya ke kepala Reva.

__ADS_1


"Dasar pemaksaan. Tapi, terima kasih banyak, Vian."


__ADS_2