
Kembali ke UKS.
"Saat itu, hujan sangat deras. Ayah juga sedang bertugas. Aku hanya tinggal bersama ibuku, hanya berdua," kata Bella. Ia kembali bercerita.
***
Sementara di rumahnya, anak dan istrinya masih terjaga. Ia mengetuk pintu berkali-kali. Tak lama istrinya membukakan pintu.
"Meli, ikutlah denganku ke rumah sakit,” kata Evan begitu melihat istrinya.
“Apa? Rumah sakit?” tanya Meli. Anak mereka, Bella, menampakkan wajahnya.
“Ayah, ada apa?” tanyanya. Evan mendekap putrinya, lalu menggendongnya. “Ada hal penting yang harus diselesaikan. Kita harus ke rumah sakit.” Evan langsung membawa istri dan anaknya memasuki mobil.
“Apa yang terjadi? Kau belum menjelaskannya padaku,” tanya Meli begitu memasuki mobil.
Ia semakin dibuat heran karena pakaian Evan basah, seperti baru saja berendam di air.
Evan tak mengalihkan pandangannya. Ia fokus menyetir. “Seorang anak perempuan baru saja kami temukan. Ia hanyut di sungai tempat kami menjaga. Sekarang dia berada di rumah sakit, membutuhkan darah O. Bisakah kau membantunya?”
"Anak perempuan?" Meli mengangguk. “Baiklah. Aku bisa.”
“Anak perempuan? Mengapa dia bisa kekurangan begitu banyak darah, Ayah?” tanya Bella dengan polosnya.
“Ayah tidak tahu, sayang. Sepertinya dia mengalami kecelakaan. Kepalanya bocor, mengeluarkan banyak darah. Kondisinya saat ini tengah kritis,” jelas Evan.
Begitu tiba di rumah sakit, mereka langsung menemui perawat tadi. “Istriku bergolongan darah O. Ia bersedia mendonorkan darahnya,” kata Evan.
“Baiklah. Mari ikutlah denganku,”kata perawat itu. Meli mengikut perawat itu masuk ke dalam ruang UGD. Bella spontan memeluk ayahnya.
“Pakaian Ayah basah kuyup, sayang. Kalau kau memeluk Ayah, kau juga akan terikut basah dan kedinginan,” jelas Evan. Bella tak memedulikan kata-katanya. Ia benar-benar takut karena hujan yang deras. Ia melihat pakaian Andika yang terkena darah.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai mentransfusikan darahnya, Meli kembali menemui mereka. “Anak itu akan menjalani operasi. Mereka bilang kemungkinan operasi ini berhasil sangatlah kecil. Kita hanya bisa berdoa semoga Tuhan menolong anak malang itu.”
__ADS_1
“Sekarang sudah larut malam. Apa tidak sebaiknya kalian pulang ke rumah? Untuk anak itu, aku akan menunggunya di sini. Aku juga sudah memanggil Anggi untuk datang ke mari. Sebentar lagi dia akan tiba,” ucap Andika sambil memegangi ponselnya.
“Ponsel paman tidak rusak walaupun basah?” tanya Bella. Ia memperhatikan pakaian Andika yang basah dan berlumur darah.
“Tidak. Ponsel paman tahan air.”
“Baiklah. Besok aku akan ke sini lagi untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Jaga dirimu, An,” ucap Evan. Ia kemudian pergi bersama istri dan anaknya.
Esoknya, setelah penantian yang cukup panjang.
“Bagaimana kondisi anak itu?” tanya Evan begitu menemui Andika di depan pintu utama rumah sakit.
“Saat ini dia masih terbaring lemah. Sekarang dia sudah dipindahkan ke ruangan Mawar. Ikutlah denganku.” Andika menunjukkan ruangan yang dimaksud, ruang Mawar No. 3. Di dalam ruangan itu telah ada Anggi, istri Andika, yang sedang menjaga si gadis kecil.
“Selamat pagi, Bibi,” ucap Bella.
“Selamat pagi, Bella,” jawab Anggi.
“Bagaimana kondisinya saat ini?” tanya Meli. Ia berjalan untuk melihat anak itu lebih dekat.
“Iya. Dokter bilang ada benturan keras di kepalanya. Sepertinya kondisinya sangat parah karena itu,” tambah Anggi.
Bella menatap gadis kecil yang terbaring lemah itu. “Apa dia akan bangun?” tanyanya. Bella melihat perban di kepala dan infus di tangannya.
“Dia pasti akan bangun,” jawab Meli dengan penuh kepercayaan. “Setelah dia bangun, kita bisa menanyakan siapa dirinya.”
“Sepertinya dia seumuran dengan Bella. Entah siapa dia atau dari mana dia berasal. Nasibnya sungguh malang,” ucap Anggi. Ia menatap Evan dan Andika. “Apa tidak ada yang kehilangan anak ini?”
Evan menggeleng. “Untuk sementara ini tidak ada. Setelah melihat bagaimana kondisinya pada malam itu, dapat dipastikan anak ini mengalami kecelakaan yang cukup besar.”
“Ya, kau benar. Aku harap ia dapat segera bangun. Tapi Evan, ada sesuatu yang menjadi masalah,” tambah Andika.
Evan menatapnya dan bertanya, “Apa masalahnya?”
__ADS_1
“Setelah ke luar dari ruangan operasi, dokter mengatakan anak ini kemungkinan mengalami amnesia. Benturan keras di kepalanya membuatnya kehilangan ingatannya. Setelah bangun nanti, dia tidak akan bisa mengingat apa pun,” jelas Andika.
“Masalah ini akan menjadi semakin rumit. Aku telah menyebarkan informasi mengenai anak ini, tapi belum ada yang mengonfirmasinya. Bagaimana jika ia mengalami kecelakaan dan orang yang bersamanya saat kecelakaan itu telah meninggal dunia? Dengan kata lain, ia tidak memiliki siapa pun lagi.”
“Jika benar seperti itu, aku dan Anggi akan mengangkatnya sebagai anak. Kebetulan kami telah mendamba-dambakan kehadiran seorang anak. Mungkin anak ini pemberian Tuhan agar kami diberi kesempatan untuk merawatnya,”jawab Andika.
Evan tersenyum. "Mungkin saja.”
Setelah kejadian itu, tidak ada yang mengonfirmasi perihal anak yang mereka temukan di sungai. Mereka beranggapan anak ini tidak memiliki keluarga lagi. Oleh karena itu, Anggi dan Andika yang kebetulan tidak memiliki anak memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak.
Beberapa hari berlalu. Saat itu orang yang berada di sisinya adalah Anggi. Ia melihat gelang, satu-satunya perhiasan yang dikenakan anak itu. Anggi terus menatap anak itu. Tak lama jari-jemarinya yang mungil mulai bergerak. Perlahan-lahan ia tersadar. Mungkin saat itu dia tengah bingung mengapa berada di tempat seperti itu.
“Bibi ini siapa? Lalu siapa aku?” kata itu yang pertama kali ia lontarkan pada Anggi. Dengan berbekal gelang yang dikenakan anak itu, Anggi dapat menjawab pertanyaannya. “Namamu adalah Reva. Aku ini Ibumu.”
Setelah itu Anggi memanggil dokter untuk memeriksanya lebih lanjut. Di depan ruangannya, Bella terlihat masih menunggu. Ia memegang sebuah boneka beruang. “Bibi, apa dia sudah sadar?” tanya Bella.
“Dia sudah sadar. Saat ini sedang diperiksa oleh dokter. Setelah dokter ke luar, kau boleh menjenguknya,” jawab Anggi sambil tersenyum. “Oh iya, Bella, dapatkah kau membantu Bibi?”
Bella tanpa pikir panjang langsung mengangguk, mengiyakan perkataan Anggi.
“Rahasiakan soal ini,” kata Anggi sambil memberi isyarat untuk tutup mulut.
“Apa yang dirahasiakan, Bibi?” tanya Bella lagi.
Bella merendahkan badannya. “Mengenai siapa dia sebenarnya. Namanya adalah Reva. Mulai sekarang dia adalah anak Bibi dan Paman Andika. Berjanjilah pada Bibi, kau tidak akan mengatakan yang sebenarnya padanya. Bisakah Bibi percaya padamu?” tanya Anggi. Ia menjulurkan kelingkingnya, meminta Bella untuk berjanji.
Bella melihat ujung kelingking Anggi.
“Mengapa Bibi memintaku untuk merahasiakan ini? Mengapa Bibi tidak mengembalikannya pada keluarganya?”
“Dia tidak memiliki keluarga, Bella. Lagi pula sekarang dia hilang ingatan. Seperti yang Bibi katakan, mulai sekarang dia adalah anak kami. Revania Amanda,” jawab Anggi. Ia member jeda sejenak. “Kau hanya perlu menjalankan apa yang Bibi pinta. Bertemanlah dengannya, jangan bongkar rahasia ini. Kau berjanji?” tanyanya lagi, masih menyodorkan jari kelingkingnya.
Tidak bisa menolak lagi, Bella balas memeluk jari kelingking Anggi. “Aku berjanji, Bibi. Aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada Reva. Aku akan berteman dengannya.”
__ADS_1
Anggi tersenyum sambil mengusap lembut kepala Bella. “Anak yang pintar.”