
Siang hari di sekolah, jam istirahat. Tidak seperti pagi yang tenang, siang hari cuaca mendadak berubah. Rintikan hujan terdengar mengetuk-ngetuk atap sekolah. Angin mulai bertiup kencang.
"Kemarin sangat panas, sepertinya sekarang akan turun hujan lebat," ujar Kevin.
Vian mengangguk. "Benar. Padahal tadi pagi masih cerah."
"Ah, tiba-tiba aku ingat. Tadi Ibu Wali Kelas memanggil kita," ujar Kevin sambil menatap Vian.
Vian mengernyitkan alis. "Lagi? Ibu Wali Kelas tidak ada bosan-bosannya memanggilku. Reva, kau mau ikut?"
Reva menggeleng. "Aku tidak dipanggil. Untuk apa ikut? Kalian saja yang pergi."
"Baiklah. Tunggu kami di sini."
Reva berdiri di depan jendela paling belakang. Ia melihat selembar foto di laci meja Kevin, sepertinya foto tadi pagi. Rasa penasaran terus bermunculan di kepala Reva.
"Vian tidak akan tahu kalau aku melihat foto ini. Memangnya ada apa di foto ini?" tanya Reva pada dirinya sendiri.
Ia melihat foto itu lebih dekat, memperhatikan setiap orang dalam foto itu. "Dia bilang ini adalah foto kelulusan SMP Kevin. Coba lihat, di mana Kevin?"
Matanya tertuju pada sebuah wajah. Bola matanya berkedip cepat. "Eh, muka ini? Mengapa mirip sekali denganku? Ini bukan mukaku, kan?"
Hujan semakin deras disertai gemuruh. Reva terduduk melihat foto itu. Cuplikan-cuplikan kejadian di masa lalu bermunculan di kepalanya. Ia memegangi kepalanya, ada sensasi seperti dipukul menggunakan palu.
"Ada apa ini? Tiba-tiba aku sakit kepala. Orang yang ada di foto ini, mengapa mirip sekali denganku? Ada apa ini?"
Sementara itu, di lain sisi.
"Hujannya semakin deras. Sebaiknya kita kembali lebih cepat, dari pada seragam ikut basah," kata Kevin.
Vian mengangguk.
Mereka tiba di kelas yang sunyi, tidak ada orang sama sekali.
"Vin, bukannya Reva tadi di dalam kelas sendirian?" tanya Vian sambil mengerutkan dahinya. Matanya mencari-cari.
"Iya. Ke mana dia pergi?"
"Reva? Kau tidak sedang bersembunyi, kan?" tanya Vian sambil mencari-cari. Tidak ada suara sama sekali.
"Re-"
Ia menghentikan ucapannya ketika melihat tubuh Reva yang telah terbaring.
"Reva!"
Vian mendekati Reva. Ia mengerak-gerakkan kepalanya. "Maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini, Reva."
Vian mengangkat tubuh Reva, menggendongnya ke luar kelas.
Di jalan, ia bertemu dengan Bella.
"Vian? Apa itu Reva? Apa yang terjadi padanya?" tanyanya dengan wajah panik.
"Aku kurang tahu. Sekarang aku harus antar dia dulu."
__ADS_1
"Aku... Aku akan ikut," sahut Bella.
Reva dibaringkan pada sebuah kasur dalam UKS. Wajahnya pucat, berbeda dengan wajahnya yang sebelum ditinggal Vian dan Kevin.
Vian duduk di sebelahnya, menatap dalam wajah Reva.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Bella. Ia ikut duduk di dekat Reva, memegangi tangannya.
Vian menggeleng. "Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Ketika aku dan Kevin kembali dari ruang guru, dia sudah pingsan di sebelah meja Kevin."
"Sejak kecil, fisiknya memang sangat lemah. Reva sering sakit-sakitan. Terkadang dia pingsan secara tiba-tiba seperti ini. Aku jadi khawatir," kata Bella.
TOK!!! TOK!!! TOK!!!
Seseorang mengetuk pintu.
"Biar aku yang buka," kata Bella. Ia segera beranjak, membuka pintu itu.
Ia terkejut mendapati Kevin tengah berdiri di hadapannya. "Kevin? Untuk apa kau datang ke sini?"
"Ada yang ingin kusampaikan pada kalian," jawabnya.
Bella mempersilakannya masuk. "Apa yang ingin kau sampaikan?"
Kevin memperlihatkan foto kelulusannya pada mereka.
"Ada apa dengan foto ini? Bukannya kau sudah memperlihatkan ini pada kami?" tanya Bella.
Kevin mengangguk. "Benar. Aku melihat foto ini di lantai, tepat di dekat Reva pingsan tadi. Seharusnya kalian paham apa yang kumaksud."
"Sepertinya begitu. Apa lagi di dalam foto ini ada Erva. Ketika kita tinggalkan dia sendiri di dalam kelas, mungkin dia melihat foto ini. Salahnya, aku menyimpan foto ini di laci, tempat yang mudah dilihat," tambah Kevin.
Vian mengusap-usap kepala Reva. "Ada sesuatu yang bermunculan di kepalanya, membuatnya sakit, bahkan sampai pingsan seperti ini. Akhir-akhir ini dia memang sering sakit kepala. Entah apa lagi yang muncul di kepalanya."
Vian tiba-tiba menatap Bella. “Bella, apa kau bisa menjelaskannya padaku?” tanyanya.
Bella terbelalak. "Apa maksudmu?" tanyanya. Ia terlihat gugup.
"Reva bukanlah anak kandung ayah dan ibunya, kan? Selain itu, kau sudah melihat bukti bahwa Reva memiliki saudara kembar."
"Tapi bagaimana mungkin kau menarik kesimpulan seperti itu?" tanya Bella lagi.
"Aku ke rumah sakit, mendapatkan informasi kalau Reva pernah dibawa ke sana. Lebih mengejutkan lagi, ibumu yang mendonorkan darah untuknya. Reva mengalami sakit kepala, apa kau tidak kasihan melihatnya seperti ini terus? Cepat atau lambat dia pasti mengetahui ini. Sebaiknya katakan saja," pinta Vian.
“Aku akan mengatakan yang sebenarnya, sesuatu yang tidak pernah kubocorkan pada siapapun,” jawab Bella. Ia mengambil tarikan napas panjang. “Reva bukanlah anak kandung dari Bibi Anggi dan Paman Andika.”
***
Malam yang mencekam. Hujan deras mengguyur kota tak henti-hentinya. Sambaran kilat kadang menyertainya. Di bawah jembatan gantung, beberapa polisi sedang berjaga. Cuaca yang tidak bersahabat bukanlah alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.
“Evan, apa yang sedang kau lamunkan?” tanya salah seorang polisi penjaga yang sedang duduk.
“Ah, aku memikirkan istri dan anakku di rumah. Hujan deras seperti ini Bella sangat ketakutan,” jawab Evan. Evan adalah ayah Bella yang berteman baik dengan Andika.
__ADS_1
“Oh, begitu. Berapa usia Bella saat ini?”
“Delapan. Delapan tahun,”
jawab Evan sambil menghitung jarinya.
“Pasti rasanya menyenangkan punya seorang malaikat kecil. Sudah hampir sepuluh tahun aku dan Anggi menikah, tapi kami belum juga dikaruniai seorang anak.” Andika memandang rintikan hujan.
“Dokter telah mendiagnosis bahwa Anggi tidak dapat hamil. Baik aku maupun dia menginginkan anak, tapi kalau keadaan sudah begini, kami hanya bisa pasrah.”
“Apa kalian tidak terpikirkan untuk mengadopsi anak?"
“Tapi anak dari mana? Kami tidak pernah menemukannya. Aku hanya berharap semoga ada titipan kecil dari Tuhan, seorang anak,” ucap Andika.
Suara petir menggelegar. “Benar. Teruslah berdoa, Andika. Keajaiban itu bisa datang kapan saja.”
Evan menyorot lampu senter ke sungai. Ia melihat sesuatu yang terapung. Ia memicingkan matanya, mencoba untuk melihat lebih jelas. “Andika, coba lihat ke sana!” kata Evan sambil menunjuk-nunjuk ke arah objek itu.
“Apa itu?” tanya Andika. Ia berjalan ke pinggir untuk melihat objek itu lebih dekat. Diarahkannya lampu senter ke objek itu. Mata Andika terbelalak mendapatinya. “I-Ini manusia!” teriaknya. Tanpa pikir panjang ia terjun ke sungai.
“Apa? Manusia?” tanya Evan yang juga terkejut. Ia berlari ke pinggir, menyorot senter untuk memberi penerangan pada Andika. “Pak Rus, tolong pegang senter ini! Aku akan membantu Andika!" teriak Evan.
Pak Rus datang menggantikan Evan memegangi senter. Sedangkan Evan turut terjun ke dalam sungai. Air sungai terasa sangat dingin. Hujan membuat pergerakannya melambat. Evan dan Andika membawa tubuh gadis kecil itu ke pinggir.
“Anak kecil di tengah sungai? Bagaimana mungkin?” tanya pak Rus begitu melihat tubuh gadis kecil itu. Ia terkejut bukan main.
“Apa dia masih hidup?” tanya Evan. Andika memeriksa denyut nadinya. Terasa begitu lemah, nyaris tak ada denyut. Kepala gadis itu mengeluarkan darah terus-menerus.
“Dia masih hidup, sebaiknya cepat bawa ke rumah sakit!” teriak Andika. Ia mengangkat gadis itu dan meninggalkan kawanan polisinya.
“Bergerak lebih cepat, Andika. Aku membawa mobil. Kita antar dia menggunakan itu,” kata Evan. Mereka mempercepat langkah kaki. Evan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi di tengah hujan. Sementara Andika mendekap gadis itu. Darah tak kunjung berhenti mengalir dari kepalanya.
Mereka tiba di rumah sakit, menuju UGD. Para tenaga medis yang berjaga segera menanganinya.
“Tolong, anak ini begitu lemah,” ujar Andika.
“Kami akan mengerahkan seluruh kemampuan kami. Anda tunggulah di luar,” kata dokter. Ia bergegas memasuki ruangan, menutupnya rapat-rapat. Di dalam suara mereka tidak dapat terdengar dengan jelas.
Andika mengambil tempat duduk tak jauh dari pintu masuk UGD. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Napasnya jadi tak karuan. Evan datang, duduk di sebelahnya. “Aku harap anak itu bisa diselamatkan,” katanya.
Andika memandangi Evan, masih dengan wajah cemasnya. “Anak itu begitu lemah. Napasnya pendek, denyut nadinya sangat lemah, dan kepalanya bocor,” kata Andika dengan suara yang bergetar. Terlihat jelas pakaian Andika penuh dengan darah karena mendekap gadis itu.
“Iya. Tapi bagaimana mungkin seorang gadis kecil bisa hanyut di sungai di cuaca ekstrim seperti ini?” tanya Evan tak percaya. Ia menepuk dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Bersamaan dengan itu, seorang perawat keluar dari ruangan.
“Apa yang terjadi dengan anak itu?” tanya Andika.
“Pasien dalam kondisi yang sangat kritis. Ia kehilangan begitu banyak darah. Sekarang ia membutuhkan tranfusi darah, golongan darah O. Saat ini kami tidak memiliki persediaan darah O. Apakah di antara kalian ada yang bergolongan darah O?” tanya perawat itu.
Evan dan A saling pandang. “Maaf. Tapi golongan darahku AB,” jawab Andika. Ia semakin panik karena persoalan golongan darah itu.
“Aku bergolongan darah B,” tambah Evan.
“An, apa golongan darah istrimu?”tanya Evan tiba-tiba.
“Dia golongan A,” jawab Andika. Ia mulai mondar-mandir, tidak tahu harus apa.
__ADS_1
“Meli!” teriak Evan yang membuat mereka terkejut. “Meli, seingatku dia bergolongan darah O. Aku akan pergi menemuinya,” tambah Evan. Ia bergegas pergi meninggalkan Andika dan perawat itu. Dikemudikannya mobilnya dengan kecepatan penuh.