
Esoknya, setelah pergi ke Semala.
“Reva pacarku yang paling cantik. Apa kau tidak merindukanku?” tanya Vian begitu melihat Reva sedang menyapu di kelas.
Reva menatapnya dengan datar. “Pacar? Sejak kapan kita pacaran?” tanyanya dengan nada datar pula. “Dan juga aku tidak merindukanmu.”
Vian tercengang. “Aduh, pacarku yang lucu sedang marah karena tidak kukabari seharian, ya? Baiklah. Maafkan aku, ya.” Vian mendekatinya sambil memohon-mohon.
“Pergilah, Atau kau akan aku sapu juga seperti debu-debu ini!” tegas Reva. Vian memandangi Reva. “Memang berbeda sekali sifat antara Reva dan Erva.”
Vian merebut sapu dari Reva. “Apa yang terjadi padamu? Tiba-tiba marah padaku.” Vian tiba-tiba tersentak. “Apa jangan-jangan kau sedang periode, ya?”
Reva membuang muka. “Tidak tahu,” ketusnya.
“Reva pacarku yang suka marah.”
“Sudah kubilang kita belum pacaran!” teriak Reva. Tiba-tiba ia terdiam, menyadari kata-katanya.
Sementara Vian memasang senyum. “Oh, jadi begitu. Mau aku tembak sekarang juga supaya resmi pacaran? Bukan hal yang sulit,” kata Vian dengan bangganya.
Reva pura-pura mengambil kembali sapu dari tangan Vian. “Bu-Bukan seperti itu!”
Vian tertawa puas. “Makanya jangan marah sama aku terus. Kalau aku dimarahi terus, nanti aku tidak suka padamu lagi. Kalau aku tidak suka, nanti tidak akan ada yang suka padamu.”
Reva membuka matanya. “Memangnya hanya kau yang bisa menyukaiku?”
“Tentu saja. Hanya aku yang boleh menyukaimu. Hanya aku yang boleh mengganggumu. Tidak boleh orang lain. Kau juga hanya boleh menyukai aku seorang,” tambah Vian.
“Aduh, pemaksaan sekali ini.” Reva melihat jam dinding yang berdetak. “Karena kau sudah memakan waktuku sekitar 4 menit 37 detik, maka kau harus membantuku piket hari ini.”
“Kau bahkan menghitungnya sampai sedetail itu?” tanya Vian. Reva mengangguk dengan bangga.
"Aku pintar, kan? Cepat puji aku!"
“Pintar. Sepertinya pacarnya Vian ketularan pintarnya Vian,” tambah Vian.
Ia menarik hidung Reva hingga membekas merah.
“Aku kalah lagi,” gumam Reva. “Iya, iya. Aku ketularan pintarmu. Sekarang bantu aku piket.”
“Siap, laksanakan,” kata Vian sambil membuat gerakan tidak karuan.
Seharusnya Vian tidak piket pada pagi itu. Ia juga cukup malas dalam membersihkan kelas. Tapi karena ada Reva bersamanya, ia mendadak rajin. Mungkin ingin melakukan performa.
__ADS_1
"Pacarku Reva, kau tidak menanyakan bagaimana perasaanku ketika pergi ke Semala kemarin, ya?" tanya Vian sambil mengelap kaca.
"Mengapa aku harus bertanya?" balas Reva yang tak mengalihkan pandangannya dari debu-debu di lantai.
Vian berhenti mengelap kaca. Ia menyeburkan kain lap itu ke dalam ember. "Ih, tidak seru. Harusnya kau tanya sama Vian-mu ini. Aku pasti ceritakan dengan detail sedetail-detailnya."
Sementara itu, Reva masih menyapu, tidak berhenti. "Begitu? Tapi Reva-mu ini tidak ingin tahu sama sekali apa yang dilakukan oleh Vian kemarin."
"Ah, Reva. Padahal ingin sekali 'kan, dengar ceritaku? Dasar ahli silat lidah." Vian kembali mengambil kain yang ia masukkan dalam ember, memerasnya, lalu mengelapkan lagi pada kaca.
Reva menghela napas. "Selesaikan piketnya lebih cepat. Mungkin aku akan bersedia mendengar ceritamu walaupun sedikit."
Vian menghentikan pekerjaannya. Ia menatap Reva sebentar, lalu tersenyum. "Reva memang beda," gumamnya.
Setelah selesai piket, Reva kembali duduk di bangkunya. Vian duduk di sebelahnya, sambil berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Reva, kemarin aku beli sesuatu untukmu di Semala. Entah kau suka atau tidak, tapi sebaiknya kau suka," kata Vian. Ia menyodorkan sebuah paper bag pada Reva.
Reva melihat isinya. "Ini... Kau membeli semua ini untukku?"
Vian mengangguk. "Benar. Kau tidak boleh bilang tidak suka. Karena itu adalah barang yang aku pilih dengan teman baruku."
***
“Oh iya, apa salah seorang di antara kalian bisa membantuku membeli oleh-oleh?” tanya Vian dengan semangat.
Erva dan Rani saling pandang. “Oleh-oleh untuk perempuan, ya?” Rani balik bertanya.
Vian tersenyum, mengangguk dengan cepat.
"Untuk ehm-mu, ya?"
Vian mengangguk lebih kuat. "Aduh, kau terlalu peka jadi perempuan. Andaikan ehm-ku itu sepeka kau, pasti aku dan dia sudah berpacaran."
"Oh, jadi kau hanya dianggap teman, ya?" tebak Rani. Ia sambil tertawa.
"Rani..."
Vian menepuk dahinya. "Ah, sayang sekali itu benar. Tapi tidak apa-apa. Aku ini tidak akan pernah menyerah untuk membuat gadis terlalu pintar itu peka."
"Kalau begitu belikan dia oleh-oleh yang menarik. Oh iya, orangnya seperti apa?" tanya Rani dengan semangat. Ia memajukan kepalanya untuk mendengar lebih jelas. Erva yang melihat tingkahnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dia itu cantik, manis, lucu, perhatian, cerewet, suka marah, dan yang paling penting dia itu suka sama aku," jawab Vian sambil menepuk-nepuk dada dengan bangganya.
__ADS_1
Rani terdiam, wajahnya datar. "Kepercayaan dirimu terlalu tinggi. Kalau memang dia juga suka sama kau, terus mengapa tidak pacaran sejak dulu?"
Vian menghela napas. "Kan sudah kubilang dia itu tidak peka. Dikiranya aku bercanda kalau aku bilang suka sama dia."
"Aduh, kasihan. Kalau dia tidak peka-peka, masih ada Erva. Kalian kalau dilihat-lihat cocok juga," ujar Rani. "Oh iya, untuk oleh-oleh, Erva bisa menunjukkannya padamu. Kalian pergi berdua saja. Aku masih harus menjaga toko. Bye," katanya sambil mendorong-dorong Erva dan Vian agar cepat pergi.
Dengan paksaan Rani, akhirnya mereka berdua pergi. Suasana hangat tadi berubah menjadi canggung.
"Kata-kata Rani tidak perlu dipikirkan. Dia memang suka berbicara asal," kata Erva membuka percakapan. Vian mengangguk. "Tenang saja."
Erva membawanya pada sebuah toko tak jauh dari tempat Rani. "Di dalam toko ini banyak barang yang bisa dijadikan oleh-oleh. Selain itu, ada juga jajanan khas daerah sini yang dijadikan oleh-oleh."
"Apa kau bisa bantu aku memilihkannya? Aku tidak begitu tahu selera perempuan," pinta Vian. Ia melihat Erva sudah seperti melihat Reva.
Erva mengangguk pelan. "Baiklah. Ikutlah denganku."
Erva memasuki sebuah toko. Ia mengambil sebuah syal berwarna hitam bergaris merah yang tergantung di dalam toko. "Ini adalah syal khas Semala. Bahannya lembut, mungkin dia akan menyukainya."
"Erva, bisakah kau pakai syal itu? Aku ingin lihat seperti apa jika perempuan memakainya." Erva diam sejenak, akhirnya ia setuju. Ia melingkarkan syal itu di lehernya.
Vian terdiam. "Dia cocok memakai syal itu. Dia adalah kembaran Reva. Kalau dia cocok memakai syal itu, Reva pasti cocok juga," pikirnya.
"Ini cantik sekali. Aku akan membeli ini," kata Vian.
"Oh iya, apa lagi yang khas dengan Semala?"
"Kue susunya. Cita rasa yang manis, teksturnya lembut, siapa yang tidak menyukainya? Sebagai perempuan, aku sangat suka." Setelah membeli syal, Erva membawa Vian untuk melihat kue susu yang dimaksudnya.
Tak terasa setengah jam berlalu. Ia sudah membeli sesuatu untuk Reva. Mengobrol dengan Erva juga dirasa telah cukup puas.
"Terima kasih, Erva, atas bantuanmu sore ini."
Erva tersenyum kecil. "Sama-sama. Itu... Apa kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan?" tanyanya dengan suara kecil.
Vian melihat wajah malu-malu Erva, persis seperti Reva. Refleks ia tersenyum. "Tentu saja."
Bersamaan dengan itu, ayah Vian juga telah menjemput. "Sudah selesai bersenang-senangnya?"
Vian mengangguk. "Tentu."
"Sekarang saatnya pulang."
Vian menatap Erva sebentar, memberikan kode lewat jemarinya, "Sampai jumpa lagi."
__ADS_1
***