Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
25 | FOTO KELULUSAN


__ADS_3

Hari berikutnya di sekolah.


"Ini foto kelulusan yang kujanjikan kemarin. Di dalam foto ini ada Erva," kata Kevin sambil meletakkan selembar foto berukuran 6R di meja Vian.


Vian mengambil foto itu, dahinya berkerut. "Kecil sekali fotonya. Apa tidak ada yang lebih besar dari sini?"


Kevin memasang ekspresi datar. "Hanya itu yang aku punya. Sebaiknya kau tidak meminta macam-macam lagi. Masih untung aku punya fotonya."


"Iya, iya, aku mengerti," sahut Vian. Ia memicingkan matanya, memperhatikan setiap wajah dalam foto itu.


"Ah, tidak terlihat sama sekali. Mukanya terlalu kecil," keluhnya. "Apa ini tidak bisa di-zoom?"


Kevin balas mengerutkan dahinya. "Kau pikir ini layar ponsel bisa di-zoom?" Ia mengambil foto itu. "Masa tidak terlihat? Walaupun mataku minus, aku tetap bisa melihatnya dengan jelas," sahutnya.


"Tentu saja terlihat. Sekarang kau memakai kacamata," balas Vian. Ia menarik kacamata Kevin.


"Hei, kembalikan benda berhargaku! Kalau kau menyentuh kacanya dengan jarimu itu, aku akan penggal kepalamu menjadi tiga bagian!" ancam Kevin.


"Tapi kau lumayan tampan ketika melepas kacamata, Kevin," ucap Vian.


Kevin terdiam. "M-Memangnya benar?" tanyanya.


Vian mengangguk pelan. "Of course. Aku berani bersumpah. Tapi-"


"Tapi apa?"


"Aku lebih tampan, tentunya," sambung Vian dengan bangganya.


Kevin memasang ekspresi datar. Ia lalu merebut kacamatanya dari Vian. "Iya sudah."


Vian tersenyum bangga. Ia merogoh-rogoh ke dalam tasnya.


"Apa yang sedang kau cari?"


"Benda yang bisa membuat aku semakin handsome," jawab Vian. Ia mengeluarkan sebuah kotak kacamata berwarna biru gelap.


"Oh, kacamata."


Vian mengeluarkan sebuah kacamata dari dalamnya, lalu ia pakai.


"Baiklah. Aku ingin lihat fotonya sekali lagi."


Kevin menyodorkan foto kelulusannya.


"Apa sekarang kau sudah bisa melihatnya?" tanya Kevin.


Vian mengangkat satu alisnya, lalu mengangguk. "Dibandingkan dengan yang tadi, yang sekarang terlihat lebih jelas."


Mata Vian bergantian menatap wajah yang terpampang di foto itu. Matanya tertuju pada wajah seseorang. "Wajah ini..."


Tiba-tiba pintu terdorong, mengejutkan Vian dan Kevin.


"Apa yang sedang kalian lihat? Aku ingin lihat juga," ucap Bella.


Vian membenarkan posisi kacamatanya. "Ternyata kau, Bella. Bukannya sudah aku bilang, jangan mendorong pintu itu terlalu keras? Kalau rusak nanti aku yang disalahkan."


Bella menghela napas. "Iya, iya, Ketua Vian. Aku sudah mengerti."

__ADS_1


"Sepertinya lain kali kau harus memindahkan pintu itu ke tempat lain, Vian," bisik Kevin yang disambut oleh gelak tawa dari Vian.


"Kalau bisa, sejak dulu sudah kulakukan," balasnya.


"Hei, hei, kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa yang sedang kalian lihat? Vian sampai memakai kacamatanya. Ada apa?" tanya Bella. Ia mendekati mereka.


"Foto kelulusan yang dijanjikan Kevin kemarin," jawab Vian sambil menunjukkan selembar foto.


"Wah, aku ingin lihat juga."


Bella menunjuk seseorang yang duduk di bangku paling bawah. "Hei, siapa si cupu ini? Orang yang lain terlihat sangat keren, tapi dia sendiri yang cupu."


Kevin menggertakkan giginya, menatap tajam ke arah Bella. "Bella, apa kau bilang?"


Vian menelan ludah. "Y-Ya, itu adalah Kevin. Tapi kau jangan asal mengatakannya sebagai si cupu. Bukannya di foto itu, Kevin juga terlihat keren dengan jas yang dipakainya?"


"Ya, aku tidak punya pilihan lain selain mengiyakan kata-katamu. Lalu, di mana orang yang kau sebut sebagai Erva itu?" tanya Bella lagi.


Vian menunjuk sebuah wajah. "Perhatikan gadis ini. Sepertinya ini orang yang dimaksud oleh Kevin. Bukankah begitu, Kevin?"


Kevin memicingkan matanya, lalu mengangguk. "Seratus persen benar. Itu dia yang namanya Arselya Erva."


Bella terkejut. "Wah, dia memang mirip sekali dengan Reva. Benar-benar mirip, hampir tidak ada bedanya."


"Bedanya? Ada. Kau perhatikan lagi wajahnya. Dia tidak pandai tersenyum seperti Reva. Intinya, senyum Reva yang paling manis," kata Vian.


"Ya, aku setuju padamu. Selama sekelas dengannya aku tidak pernah melihat Erva tersenyum. Setiap hari dia selalu memasang ekspresi datar," sambung Kevin.


"Melihat orang yang sangat mirip seperti ini, bagaimana mungkin bisa?" tanya Bella lagi.


Kevin dan Vian saling tatap, lalu menepuk dahi masing-masing.


Kevin mengangguk. "Padahal sudah bisa disimpulkan. Memangnya ada orang yang sangat mirip hampir seratus persen seperti ini?"


Bella terdiam. "Tidak mungkin."


"Tentu saja. Hanya saudara kembar yang mencapai tingkat kemiripan seperti ini," tambah Vian.


Mata Bella membulat. "Jadi maksudmu, Reva dan Erva adalah saudara kembar? Begitu?"


Kevin dan Vian mengangguk. "Tepat sasaran. Bisa dipastikan mereka adalah saudara kembar."


"Sudah selesai? Sekarang waktunya kalian untuk piket," kata Vian.


Bella menepuk dahinya. "Ya ampun, aku hampir lupa. Baiklah, aku segera piket," katanya. Ia bergegas mengambil sapu dari sudut belakang.


Kevin menunjuk dirinya. "Memangnya aku piket hari ini?"


"Tentu saja. Mulai hari ini, aku tetapkan kau piket dengan Bella. Sekarang pergi bantu Bella!" suruh Vian.


Kevin hanya dapat menurut, meskipun hati sangat menolak.


"Alvian, dipanggil Ibu Wali Kelas ke ruang guru sekarang," ucap Shindy yang tiba-tiba datang.


"Baik."


Beberapa saat setelah meninggalkan kelas, Reva tiba.

__ADS_1


"Selamat pagi," ucapnya. Matanya bolak-balik menatap Kevin dan Bella sedang piket.


"Pagi, Rev," balas Bella.


"Hari ini kau juga piket?" tanya Reva.


"Aku? Ya. Vian baru saja menyuruhku piket hari ini," jawab Kevin dengan nada kesal.


Reva mengangguk, ia menuju ke bangkunya. "Lalu di mana dia?"


"Tadi dipanggil ke ruang guru. Sampai sekarang belum kembali. Kau tidak bertemu dengannya di jalan?" Bella balik bertanya.


"Tidak ada," jawab Reva. Ia melihat selembar foto di meja Vian. Matanya berkedip cepat, memperhatikan jajaran orang dalam foto itu. "Ada foto? Ini foto milik siapa?"


Bella dan Kevin mematung.


"Vin, aku serahkan padamu," bisik Bella.


"Menyebalkan," balas Kevin. Ia mendekati Reva.


"Ya, itu adalah foto kelulusanku sewaktu SMP. Tadi Vian ikut melihatnya."


"Oh, begitu. Aku juga ingin lihat," sahut Reva sambil melayangkan senyuman.


Reva memperhatikan setiap wajah dalam foto itu mulai dari barisan bawah. Tiba-tiba seluruh pandangannya menjadi hitam. Ia melepaskan foto itu.


"Hei, siapa ini? Lepaskan tanganmu!" perintahnya.


"Tidak mau. Apa yang kau lihat tadi?"


Reva balas memegangi tangan itu. "Vian, kau... Lepaskan tanganmu dari mukaku. Aku tidak bisa melihat apa-apa."


"Kalau kulepaskan, nanti kau melihat sembarangan," sahut Vian. Ia memberikan foto itu pada Kevin, sedangkan tangan lainnya masih menutup mata Reva.


Reva menggeleng kuat. "Tidak, tidak. Aku tidak akan melihat sembarangan."


"Kau berjanji?"


"Iya, iya. Aku janji."


"Peluk dulu jari kelingkingku."


"Bagaimana caranya aku bisa memeluk kelingkingmu? Melihat saja aku tidak bisa."


Kelingking Vian menyentuh hidung Reva. "Sudah aku beri petunjuk. Sekarang lakukan tanpa melihatnya."


Reva menghela napas, lalu mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Vian.


Vian tersenyum puas, lalu melepaskan tangannya dari wajah Reva. "Anak pintar."


Sementara mata Reva berkedip cepat. "Lihat apa yang sudah kau lakukan. Pandanganku jadi buram."


"Anggap saja sebagai hukuman," balas Vian.


Reva melihat wajah Vian dengan jelas, ia memakai kacamata. "Kau... Untuk apa memakai kacamata?"


"Tidak untuk apa-apa. Bukannya aku lebih berkharisma ketika memakai kacamata?" jawabnya sambil mengukir senyum di wajah.

__ADS_1


Rona merah di wajah Reva tak dapat disembunyikan. Ia segera memalingkan wajahnya. "B-Biasa saja. Memangnya apa bedanya kau berkacamata dan tidak?"


"Begitu, ya? Baiklah."


__ADS_2