
Beberapa jam setelahnya.
Reva meregangkan tangannya, mulutnya membuka lebar. "Ah, akhirnya selesai juga pelajaran matematika itu. Rasanya otakku sudah berbelit-belit," katanya.
Sebuah ketukan pelan mendarat di kepalanya. Ia mengerutkan dahinya, lalu membuka mata kanannya. "Ada apa? Jangan mengangguku!"
Reva kembali menguap, kali ini lebih lebar.
"Kalau kau membuka mulutmu lebih lebar lagi, aku bisa ikut tersedot ke dalam mulutmu itu," ledek Vian.
Reva menjulurkan lidahnya. "Biar saja. Bukannya lebih baik kalau kau ikut masuk? Setidaknya kau tidak akan menggangguku lagi."
Reva membenamkan kepalanya. "Aku mengantuk. Jangan mencoba untuk menggangguku! Kalau kau tetap mengganggu, aku akan memukulmu hingga babak belur," ancamnya.
"Oh ya? Aku jadi ingin tahu seberapa hebatnya kau memukulku hingga babak belur," kata Vian sambil menyimpul senyum.
"Ah, kau terlalu berisik," ujar Reva. Ia membuang wajah, menutup telinganya, lalu kembali merebahkan kepalanya pada meja.
Setelah pelajaran matematika yang menguras otak, pelajaran selanjutnya adalah biologi. Biasanya guru biologi datang lebih cepat. Tetapi hari ini sudah sepuluh menit berlalu, tidak juga datang guru itu.
"Baguslah guru itu terlambat masuk. Kita bisa sedikit lega," kata Edward. Ia mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah.
"Sepertinya Ibu Mei sedikit mengerti perasaan kita. Setelah otak terputar-putar karena pelajaran matematika, dia masuk lebih lambat dari biasanya," sambung Ferdy.
Dimas mengangguk. "Iya. By the way, mengapa hari ini panas sekali?" tanyanya.
Ferdy mengeluarkan buku dari tasnya, lalu menjadikannya sebagai kipas. "Anak ipa, masa perkara begini dibikin susah? Makanya lain kali pakai otak. Kan ada yang namanya buku, bisa dijadikan kipas. Contohlah anak ipa sepertiku."
Edward menatapnya dengan wajah datar. "Apa kau bilang? Sorry, bahasa monyet, aku kurang paham," ledeknya.
"Aduh, kasihan sekali nasibmu, wahai anak muda," balas Dimas meledek Ferdy. "Tapi cuaca hari ini memang lebih panas dari biasanya."
"Iya. Biasanya kalau cuaca sepanas ini, tidak lama lagi bakal ada hujan deras yang mengguyur," sambung Lizha.
"Fer, pinjam bukumu. Aku mau pakai juga," kata Dimas.
Ferdy memasang wajah cemberut. Ia mendengus. "Setelah apa yang kau katakan padaku, kau masih mau meminjam bukuku? Jangan mimpi!"
"Dasar anak ini terlalu dramatis. Sesama teman jangan pelit!" bentak Dimas. Ia merebut buku milik Ferdy.
"Bukannya kau juga punya buku? Pakai buku sendiri!" balas Ferdy.
Dimas tidak menghiraukan, ia tetap merebut buku milik Ferdy.
Bella menepuk dahinya. Ia berjalan mendekati pintu kelas. Ada sebuah tombol di sebelahnya. "Kalian semua berisik!" teriaknya.
Bella menekan tombol itu dengan kuat. Sebuah kipas angin yang menggantung di langit-langit kelas mulai bergerak.
__ADS_1
"Apakah ini yang dinamakan..."
"Sumber energi utama?"
"Kipas angin!" teriak mereka bersamaan.
Bella berdiam di dekat pintu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya mengintip dari jendela kelas. Tiba-tiba ia berlari, bergegas duduk di bangkunya.
"Ibu Mei is coming!" teriaknya.
"Jangan beebohong, Bel! Kalau bohong, nanti lidahmu dipotong," kata Dimas.
"Siapa coba yang mau bohong? Kalau tidak percaya lihat saja sendiri!" balas Bella.
Vian menepuk mejanya, membuat suasana menjadi hening kembali. Hanya terdengar suara baling-baling kipas angin yang masih berputar.
"Anak-anak yang pintar. Biar aku yang memeriksa ke sana," kata Vian.
Vian melangkahkan kakinya mendekati jendela, tepat sebelah pintu. Langkah kakinya terdengar jelas. Suasana kelas masih sunyi, tidak ada suara siswa. Matanya mengintip melalui jendela itu.
"Bagaimana ini, Kapten? Apa target memang ada?" tanya Dimas.
Vian diam sejenak, tiba-tiba mengacungkan jempolnya.
"Objek terlihat di depan mata. Ketinggian 1,7 meter. Dia bergerak dengan kecepatan 2 m/s," jelas Vian yang disambut dengan suara kagum dari teman-temannya.
"Seberapa dekat objek dengan markas, Kapten?" tanya Ferdy.
"Cepat lari, Kapten!" teriak Ferdy dan Dimas bersamaan.
Edward menarik tangan Vian, membawanya kembali ke bangkunya. Sementara siswa yang lain mulai bergaduhan. Mereka kembali ke posisi masing-masing.
Vian menepuk-nepuk lengan Reva berkali-kali. Ia berbisik, "Reva, Ibu Mei sudah dekat."
Reva berdehem, tapi tetap pada posisi tidurnya. "Sudah kubilang jangan ganggu aku. Kau mau macam-macam sama aku?"
"Ya, karena kau sendiri yang tidak bisa diberi tahu, maka jangan salahkan aku kalau aku melakukan ini," balasnya. Vian menarik kepala Reva.
"Vian bodoh. Itu sakit!" teriak Reva.
Gagang pintu bergerak, pintu terdorong masuk.
"Kubilang jangan macam-macam denganku, kau ini-"
Vian menutup mulutnya. "Kau yang bodoh. Ada guru, tapi masih saja teriak-teriak. Untung aku baik."
Ibu Mei memasuki kelas dengan membawa senyum ramahnya. Di pegangnya sebuah buku tebal di tangannya, buku biologi.
__ADS_1
"Selamat siang, anak-anak," katanya sambil melayangkan senyum.
"Siang, Ibu Guru," sahut para siswa.
Reva menatap Vian. Karena kesal, ia menginjak kaki Vian.
Vian balik menatapnya, memasang senyum sambil menjulurkan lidah. "Tidak sakit," bisiknya.
"Hari ini kita kembali membahas pelajaran di pertemuan sebelumnya, yaitu sistem saraf. Berhubung materi kita sudah habis, apa ada yang ingin ditanyakan?" tanya Ibu Mei.
Suasana kelas kembali senyap, tidak ada suara selain Ibu Mei.
"Kalau tidak ada yang bertanya, Ibu yang akan balik bertanya pada kalian," sambung Ibu Mei.
Tiba-tiba semua siswa menoleh ke arah Vian. Mereka seolah memberikan kode, kau saja yang bertanya agar kita semua selamat.
"Tidak ada?" tanya Ibu Mei lagi.
Vian menghela napas. Ia mengangkat tangannya. "Saya ada pertanyaan, Bu," katanya.
Ibu Mei kembali tersenyum. "Baik, Alvian. Ada pertanyaan apa?"
"Sistem saraf, erat kaitannya dengan otak, karena otak bertugas sebagai pemberi 'perintah' atas rangsangan yang diterima oleh indra. Saya ingin bertanya, apakah otak akan tetap bekerja seperti semula apabila ada kerusakan pada bagian hippocampus?" tanya Vian.
Ibu Mei tersenyum. "Pertanyaan yang bagus, Vian. Bagian hippocampus adalah bagian yang mengelola ingatan. Pada banyak kasus, ketika bagian itu rusak, maka bagian yang lain tidak akan terkena dampaknya. Hanya saja, hal ini akan memengaruhi ingatan seseorang. Tentunya kalian sudah tahu mengenai amnesia, bukan?"
Vian mengangguk-angguk. "Benar, Bu. Saya pernah mendengar amnesia banyak macamnya."
"Ya. Ada yang kehilangan ingatan untuk kejadian di masa lalu, ada juga yang kehilangan ingatan terhadap apa yang baru saja terjadi. Tapi pada umunya, orang yang amnesia kehilangan ingatan mengenai peristiwa masa lalunya," sambung Ibu Mei.
"Apa tidak ada cara untuk menyembuhkan amnesia itu, Bu?" tanya Kevin.
"Ada yang bisa sembuh, ada juga yang tidak. Cara pengobatannya juga bermacam-macam," jawab Ibu Mei.
"Tiba-tiba kelas biologi menjadi ruang konsultasi," kata Bella.
"Memangnya masalah? Lagi pula ini juga bisa menambah pengetahuan. Ibu Mei juga tidak mempermasalahkannya," sahut Kevin.
"Sudah, tidak masalah sama sekali. Oh iya, apa ada pertanyaan lainnya?" tanya Ibu Mei lagi.
Semua siswa kompak menggeleng.
"Baiklah, kalau begitu siapkan kertas selembar dan alat tulis. Kita ulangan harian hari ini," kata Ibu Mei.
Ferdy mengangkat tangan. "Bukannya tadi Ibu bilang akan memberi pertanyaan pada kami jika tidak ada yang bertanya lagi?"
Ibu Mei mengangguk. "Benar. Bukankah ulangan harian juga memuat pertanyaan? Sudah. Sekarang lakukan saja perintah Ibu."
__ADS_1
Bella ikut mengangkat tangan. "Tapi ini mendadak sekali, Bu."
"Siap tidak siap, kalian tetap harus siap."