
**Alurnya kurang ngefeel nih. Soalnya author lagi fokus sama novel genre fantasi (belum di upload).
Jadwal up tetap tiga hari sekali, ya. Dalam waktu itu, author bakalan tetap mampir ke karya kalian**.
***
Suasana rumah Erva lengang, menyisakan jam dinding yang berdetak.
"Selain itu, apa yang kalian sembunyikan dariku?"
Vian tidak berani menegur terlebih dahulu. Ia hanya diam, memperhatikan Reva yang lesu. "Aku tidak tahu sepenuhnya apa yang terjadi. Tapi yang bisa kupastikan, Erva memang saudari kembarmu."
Reva masih tidak tenang. Seperti ada kegundahan dalam hatinya. Ia ingin segera pulang, menenangkan diri. "Sebenarnya aku siapa?" itu yang selalu ia pikirkan. Pertanyaan itu terus muncul dalam benaknya. Ia tidak tenang, ingin segera memecahkannya.
Ia beralih menatap Bella yang dari tadi terdiam. Tanpa basa basi langsung menanyakan hal yang bergentayangan di kepalanya. "Apa yang kau sembunyikan dariku?"
Bella terkejut, menatapnya. "Apa yang kau maksud?"
Reva mendekatkan kepalanya pada Bella. "Siapa aku sebenarnya? Pasti ada hal yang kau sembunyikan," tambah Reva. Seisi ruangan senyap.
Bella beranjak dari sofa. "Kau baru siuman, jangan banyak bicara dulu," Bella meninggikan nadanya.
Vian datang menengahi mereka. "Reva, Bella, sudah cukup. Hentikan!"
Reva menatapnya tajam. "Diam kau! Aku tidak ingin kau menengahi kami. Pergi dan tinggalkan kami!" Ia membentak. Ruang tamu semakin senyap.
"Aku akan mengatakan apa yang kuketahui. Aku yang akan menjelaskannya," balas Vian.
Bella berdeham. "Vian, tak masalah. Aku akan menyelesaikan ini dengan Reva."
"Tidak, Bella. Ini karena aku. Dia ingin mencari kebenarannya, kan? Baiklah. Aku akan katakan semuanya."
Reva balas menatapnya dingin. "Tidak ada yang disembunyikan. Aku ingin tahu semuanya."
__ADS_1
Vian menghela napas kesal. "Baik. Aku mengerti. Aku akan mengatakan semua yang kusembunyikan darimu."
Ia menatap Reva tajam. "Kau memiliki saudara kembar di Semala. Namanya adalah Erva. Mimpi yang sering kau alami itu adalah sebagian dari ingatanmu yang telah hilang. Dan benda yang bergantungan di lehermu itu..." Vian menunjuk kalung Reva. "Itu adalah gelang yang sama dengan Erva."
Reva mendorongnya. "Tidak mungkin. Aku tidak mungkin memiliki saudari kembar."
"Lalu siapa orang yang duduk di sebelahmu itu?" Vian masih menunjuk-nunjuk Erva.
"Kalau dia memang kembaranku, itu artinya ibu dan ayahku, bukanlah orang tua kandungku?"
Bella angkat bicara. "Mereka bukan orang tua kandungmu."
Mata Reva membulat. "A-Aku memang tidak bisa mengingat kejadian sebelum masuk rumah sakit saat delapan tahun. Tapi..." Matanya berkaca-kaca. Ia berhenti sejenak. "Tidak mungkin. Aku tidak bisa ingat apa pun. Beberapa kejadian memang sering muncul dalam mimpi, kadang membuatku sakit kepala. Tapi... Tapi aku tidak tahu lagi. Membayangkannya saja sudah membuatku sakit kepala." Ia mulai menangis.
Tatapan tajam Vian menghilang. Emosinya meredup melihat gadis itu menangis. Ia menyeka air matanya. "Maaf, aku terlalu emosi. Maafkan aku," kata Vian.
"Kau sudah menyembunyikan hal sebesar ini," ucap Reva sambil tersedu-sedu.
Vian mengangguk. "Ya, kau paati kesal padaku, bahkan membenciku. Aku hanya tidak ingin membuatmu sakit kepala ketika mengingat masa lalu. Oleh karena itu, aku diam. Tapi aku terpancing olehmu, makanya aku mengatakan yang sejujurnya padamu."
***
"Reva, sudah pulang?" tanya ibunya sambil menyelipkan senyuman.
"Ibu, bisakah Ibu memberi tahuku sesuatu? Aku ingin Ibu mengatakannya dengan jujur," pinta Reva dengan berlinang air mata. Ia memohon pada ibunya sambil terduduk.
"Apa yang kau maksud? Mengapa kau jadi seperti ini?" Ibunya duduk, menyeka air mata yang membasahi pipi putrinya. "Katakan apa yang ingin kau tanyakan."
Reva memandangi wajah ibunya dengan serius. "Siapa aku yang sebenarnya?"
Ibunya terkejut dengan pertanyaan Reva. "Reva, tentu saja kau adalah putriku. Mengapa bertanya seperti itu?"
"Tidak. Aku bukanlah putrimu. Aku benar, kan?" Air mata Reva kembali mengalir. Ia membiarkannya keluar, sudah tidak bisa membendungnya lagi.
__ADS_1
Ibunya memeluknya erat. "Kau putriku. Selamanya adalah putriku, Reva. Dari mana kau beranggapan kalau kau bukanlah putriku?"
"Aku ingin Ibu mengatakan yang sebenarnya. Siapa aku sebenarnya, Bu?" tanya Reva lagi. Ia masih merasa belum puas dengan apa yang diucapkan ibunya.
"Anggi, sudah seharusnya kita katakan apa yang sebenarnya." Suara itu mengejutkan mereka. Reva dan Anggi menatapnya bersamaan.
"Ayah, apa Ayah bisa mengatakannya padaku?" tanya Reva lirih.
Andika mengangguk, berjalan mendekatinya. "Ayah akan mengatakan yang sebenarnya padamu."
"Andika, apa yang kau katakan?" sambar Anggi yang berusaha menghentikan suaminya.
"Ini sudah seharusnya kita katakan padanya, Anggi. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan lagi," jawab Andika. Ia mengalihkan pandangannya pada Reva.
"Revania Amanda. Kehadiranmu adalah kebahagiaan bagi kami yang tidak memiliki anak."
"Apa maksud Ayah?"
"Reva, Ayah dan Ibumu adalah sepasang suami istri yang tak kunjung memiliki anak. Sudah hampir sepuluh tahun kami menikah, tapi tak juga dikaruniai seorang anak. Di tengah kegelisahan itu, Ayah menemukanmu hanyut di sungai. Malam itu cuaca sangat buruk. Hujan lebat, petir menyambar berkali-kali, udara juga membuat tubuh serasa membeku. Ayah menemukanmu dalam keadaan memprihatinkan. Kepalamu bocor, kau kehilangan banyak darah, tubuhmu sangat lemah. Malam itu juga Ayah dan Ayahnya Bella membawamu ke rumah sakit."
Reva terdiam, masih menyimak.
"Kau kehilangan banyak darah, tapi tak ada yang memiliki golongan darah sepertimu, golongan O. Aku pikir kau tidak akan bisa terselamatkan malam itu. Tapi tiba-tiba Ayahnya Bella datang membawa istrinya. Ia bersedia mendonorkan darahnya, yang kebetulan cocok denganmu. Nyawamu terselamatkan." Andika berhenti sejenak. Ia mengusap lembut kepala putrinya. "Tapi sayang sekali. Malam itu juga, kau sudah kehilangan ingatan. Kepalamu terbentur hebat, itulah penyebabnya."
Reva terkejut bukan main. "Jadi, aku bukanlah anak kandung kalian?"
"Bukan. Tapi kehadiranmu justru membawa kebahagiaan bagi kami. Setelah kejadian itu, kami berusaha untuk menemukan keluargamu. Kami menyebarkan informasi tentangmu, tapi tak ada yang mengonfirmasinya. Jadi, kami mengangkatmu sebagai anak kami." Andika melihat benda bergantungan di leher Reva. "Gelang ini adalah satu-satunya petunjuk yang kami miliki, yaitu kau bernama Reva. Maafkan kami yang tidak bisa mengatakan yang sebenarnya padamu. Tapi ketahuilah, kami sangat menyayangimu, Reva."
Reva tidak dapat menahan air matanya. "Tidak, kalian tidak salah. Aku yang seharusnya meminta maaf, Ayah."
Ibunya mendekapnya, ia ikut menangis. "Kau juga tidak salah, Sayang. Maaf, Ibu hanya tidak ingin kehilanganmu. Makanya Ibu merahasiakan semua ini. Ibu juga yang meminta Bella untuk merahasiakan ini. Maaf, ya."
"Sudah kubilang. Ibu dan Ayah tidak bersalah. Aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku akan tetap menjadi putri kalian, Revania Amanda." Reva tersenyum, memeluk erat kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ya. Kau adalah putri kami."