Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
28 | KECELAKAAN


__ADS_3

“Setelah itu aku masuk ke dalam ruangan Reva. Dia terbaring lemah. Tangannya diinfus, kepalanya diperban. Banyak luka-luka di tubuhnya. Kalau kau melihat Reva yang saat itu, kau pasti tidak akan tega,” jelas Bella.


“Aku pikir kau tahu siapa keluarga Reva yang sebenarnya. Aku senang kau mau menceritakannya. Aku juga berjanji tidak akan membocorkan hal ini pada Reva. Tapi apa kau tidak kasihan padanya, Bel? Dia selalu sakit kepala akhir-akhir ini. Dia juga mulai mengingat sesuatu,” ujar Vian.


Bella mengangguk. “Aku selalu ingin Reva baik-baik saja. Aku juga ingin membantunya menghilangkan sakit kepalanya itu. Tapi bagaimana caranya?”


“Entahlah. Di satu sisi, kita tidak boleh membocorkan rahasia ini pada Reva. Tapi di sisi lain kita juga ingin membantunya mengungkap kebenaran. Aku tidak tahu ingin memilih yang mana,” jawab Vian.


“Apa kita terus menyimpan rahasia ini saja?” tanya Kevin.


Vian berpikir sejenak. “Mau sehebat apa pun kita menyembunyikannya, kebenaran pasti terungkap. Reva pasti akan tahu dengan sendirinya. Aku yakin itu.”


“Ya. Untuk saat ini, sebaiknya kita tutup mulut dulu dari Reva. Aku tidak ingin menambah bebannya," sahut Bella.


"Pelajaran apa setelah ini?" tanya Kevin. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah satu. Lima belas menit lagi masuk kelas.


"Bahasa Indonesia. Tenang saja, Pak Ridho sedang absen hari ini. Jadi kita ada jam kosong," jawab Bella.


"Oh, begitu."


Tangan Reva bergerak-gerak, dahinya mengerut.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Bella.


"Mungkin mimpi buruk," jawab Vian. Ia memeriksa dahi Reva, mulai lembap karena keringat.


"J-Jangan," lirih Reva. Ia mencengkeram tangan Vian dengan kuat.


Reva semakin gelisah. Hingga akhirnya ia terbangun. Napasnya tidak karuan, juga keringat mengucur deras dari tubuhnya.


"Reva, ada apa?" tanya Vian.


Wajah itu yang pertama kali ia lihat ketika sadar. Kantong mata Reva terisi penuh oleh air mata. Ia tak kuasa menahan tangisnya.


"Reva, ada apa? Kau bermimpi buruk lagi?" tanya Vian lagi.


Reva mengangguk, segera memeluk tubuh Vian. Tubuhnya gemetaran. Saat ini ia hanya membenamkan wajahnya pada tubuh Vian.


Vian mengusap-usap kepalanya dengan lembut. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu takut lagi. Ada aku di sini," ucapnya.


"Apa kau mengalami mimpi buruk lagi?" tanya Vian.

__ADS_1


Reva mengangguk pelan.


"Begitu. Tenangkan dulu dirimu."


"Kau tidak perlu takut, Reva. Ada kami di sini. Minumlah dulu, kau sangat pucat," kata Bella. Ia membawa segelas penuh air.


Reva melepaskan pelukannya, balik menatap Bella. Ia hanya mengangguk. Tangannya bergetar-getar memegangi gelas itu.


"Apa perlu aku bantu?" tawar Bella.


Reva menggeleng. "Aku bisa melakukannya sendiri," jawabnya pelan.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Kevin bertanya.


Reva mengangguk. "Sekarang jauh lebih baik."


"Kalau begitu, aku ingin pergi mengembalikan sesuatu ke kelas," kata Kevin yang langsung beranjak ke luar.


Bella menyusul. "Aku juga ada keperluan sebentar di kelas. Aku akan kembali lagi."


Vian menatap mereka heran. Sementara Reva masih memegangi tangannya. "Kau tidak akan pergi juga, kan?"


Vian mengukir senyum di wajah. "Mana mungkin aku pergi meninggalkanmu juga. Tenang saja, aku akan tetap di sini," katanya sambil menepuk-nepuk pelan kepala Reva.


Telunjuk Vian mendarat di bibir Reva, mengisyaratkannya untuk berhenti bicara. "Sttt... Kau baru saja sadar, sudah banyak bicara. Kau itu masih lemah."


Reva menggeleng. "Tidak, Vian. Kau salah. Aku sudah cukup kuat sekarang."


"Jangan membohongi aku. Wajahmu itu tidak bisa berbohong. Lihat, masih sangat pucat. Sebaiknya habiskan dulu minumanmu."


"Aku tidak mau. Aku sudah cukup minum," sanggah Reva.


Vian menaikkan alisnya. "Begitu? Kalau kau tidak mau minum, aku akan membantumu minum. Bukankah ini sangat romantis?" goda Vian.


Pipi Reva memerah. Ia segera merebut gelas dari Vian. "Aku... Aku bisa minum sendiri."


"Iya, aku tahu."


"Lalu kapan aku bisa menceritakan mimpi padamu?" tanya Reva.


"Kalau kau sudah sehat, aku akan mendengarkannya," jawab Vian.

__ADS_1


"Aku sudah sehat. Apa kau masih tidak mau mendengarkannya, Vian?" tanya Reva lagi. "Kau bisa memeriksa dahiku, sudah tidak panas sama sekali." Ia mengarahkan tangan Vian ke dahinya.


"Tidak ada gunanya membujukku. Suhumu memang tidak panas, tapi kau itu masih basah karena berkeringat."


Reva melukis ekspresi cemberut. "Tapi aku sudah tidak bergemetar. Kau bisa lihat sendiri. Napasku juga sudah stabil, tidak seperti tadi," kata Reva terus membujuk.


"Kau itu masih lemah. Titik," sahut Vian.


Reva menatap dalam ke arah Vian. "Apa kau masih belum mau mendengarkan apa yang aku alami? Aku tidak tenang kalau tidak menceritakannya. Apa kau benar-benar menolakku?" tanyanya lagi. Ia menunjukkan ekspresi penuh harap, membuat Vian menyerah.


Vian memalingkan wajahnya. "Setidaknya jangan gunakan senjata itu untuk membujukku, Reva."


"Apa kau benar-benar tidak ingin mendengarkannya? Dengan begini aku bisa sedikit tenang," kata Reva lagi.


Vian menghela napas. "Baik, baik. Aku menyerah. Aku akan mendengarkan ceritamu."


***


Saat itu cuaca tidak bersahabat. Hujan deras mengguyur jalan yang disertai dengan sambaran petir. Ditambah dengan gelapnya langit semakin menambah suasana mencekam. Hanya ada lampu mobil, satu-satunya penerangan. Di dalam mobil itu terdapat seorang pria berkacamata tengah mengemudi. Di sebelahnya ada anak perempuan yang terlihat sangat ketakutan.


"Ayah, apa masih jauh?" tanya anak itu. Ia memeluk erat boneka beruangnya. Sesekali ia melihat ke luar jendela mobil. Tangannya bergetar.


"Kita baru setengah perjalanan, Reva," jawab pria berkacamata itu tak mengalihkan pandangannya. Ia berusaha untuk fokus mengemudi.


"Aku takut," katanya lagi.


"Kalau kau takut, kau bisa mencoba untuk tidur, seperti Erva," kata Ayahnya. Reva menoleh ke belakang, melihat satu lagi anak perempuan sedang tertidur dengan lelapnya.


"Tapi-"


Tiba-tiba petir menyambar. Cahaya secepat kilat itu bagai membelah langit. Gemuruh terdengar sangat keras.


"Aaaa!" teriakan Reva dan suara guntur itu membangunkan Erva.


"Emm... Apa kita sudah sampai?" tanya Erva sambil mengusap kedua matanya. Sementara itu di bangku depan Reva memejamkan matanya. Tubuhnya bergetar.


"Gu-guntur. Aku takut," ucapnya. Tangisannya dapat didengar oleh Erva dan ayahnya.


"Reva, jangan menangis! Kita akan segera sampai dan segera memberikan kejutan pada ibu. Kau jangan menangis!" Erva mencoba menenangkan Reva. Ia mendekatinya, menyelip di antara dua kursi depan.


"Iya, tenang dulu. Ayah harus fokus mengemudi," sambung Ayahnya.

__ADS_1


Namun hujan saat itu cukup deras. Ayahnya tak dapat melihat jalan dengan jelas. Dari arah yang berlawanan, sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Ayah mereka tak dapat melihat dengan jelas hingga tabrakan keras itu tak dapat dihindarkan.


***


__ADS_2