
Matahari mulai tergelincir ke arah barat.
"Kevin, hari ini kau ada waktu luang?" tanya Vian.
Kevin menghentikan bacaannya, menatap Vian. "Waktu luang, ya? Ada. Setiap hari juga ada. Memangnya ada urusan apa?"
"Bagus. Aku ingin mengajakmu bermain game di rumahku. Kau mau, kan?"
Kevin bergumam. Ia mengusap-usap dagunya. "Bukannya tadi kau hanya berbohong soal game itu di depan Reva. Mengapa tiba-tiba mengajakku untuk main game sungguhan?"
"Aku jadi tertarik main game denganmu. Kita ini belum pernah main game bersama. Ayo singgah dulu ke rumahku!" ajak Vian bersemangat.
"Sekarang?" tanya Kevin.
Vian buru-buru mengangguk. "Iya, sekarang. Kau tenang saja, aku akan membuatkan makan siang juga untukmu. Setuju saja dengan ajakanku."
Kevin menghela napas panjang. "Baiklah, baiklah. Aku terima ajakanmu."
"Aku pulang," ucap Vian begitu memasuki rumah. Ia menatap sekeliling, ada ayahnya sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel.
"Ayah, hari ini pulang lebih cepat?" tanya Vian.
Ayahnya menatap, mengangguk. "Kebetulan sudah tidak ada urusan di rumah sakit."
Kevin ikut masuk. "Selamat siang," ucapnya.
Ayah Vian memicingkan matanya. "Siapa dia? Temanmu?"
Vian mengangguk. "Iya, dia teman sekelasku, Ayah. Namanya Kevin."
Kevin ikut mengangguk sambil tersenyum. "Selamat siang, Paman."
"Oh, selamat siang," jawabnya. "Aku pikir kau membawa pacarmu itu ke sini. Rupa-rupanya hanya teman."
"Aku belum pacaran, Ayah. Dia itu baru calon," sahut Vian.
"Gerakanmu lambat sekali. Kalau dia diambil orang bagaimana?" tanya ayahnya lagi. "Oh, atau jangan-jangan kau ditolaknya?"
"Tidak mungkin, Yah. Aku ini sudah profesional. Aku saja belum beraksi. Tenang, perjalanan masih panjang. Waktu juga masih banyak," kata Vian menyombongkan dirinya.
"Diambil orang baru tahu rasa."
"Tidak akan," sahutnya lagi. "Ayo, Kevin! Kamarku ada di lantai dua."
Mereka menaiki tangga, tiba di lantai dua. Begitu naik ada sebuah pintu di sebelah kanan. Di sana kamar Vian.
"Ini kamarmu?" tanya Kevin begitu memasuki sebuah ruangan berukuran sedang. Ada sebuah kasur di sudut kanannya, berdekatan dengan jendela.
"Kalau bukan kamarku, kamar siapa lagi? Duduklah dulu. Aku akan mengambil air," kata Vian.
__ADS_1
"Oh iya, apa aku bisa meminjam ponselmu? Aku harus mengabari adikku dulu kalau aku terlambat pulang."
"Ambil saja di atas laci itu. Kodenya 0901," kata Vian. Ia bergegas ke luar, meninggalkan Kevin sendiri di dalam kamarnya.
Kevin melihat sebuah meja kecil di sebelah kasur. Di atasnya ada ponsel.
"Macam-macam saja pakai kode. Memangnya apa 0901?" tanya Kevin.
"Halo. Apa ini Khaira?"
"Halo. Iya, ini Khaira. Tunggu, ini siapa?"
"Ini aku, Kevin. Aku sedang di rumah teman, bakal pulang lebih lambat. Sampaikan pada Ibu, ya."
"Hmm. Kau tidak menginap, kan?"
"Tidak. Sudah, aku tutup teleponnya."
Bersamaan dengan itu, Vian datang dengan dua gelas es jeruk di tangannya.
"Sudah selesai urusanmu?" tanyanya.
Kevin berdehem. "Sudah. Terima kasih." Ia meletakkan ponsel itu kembali di atas meja kecil.
"Aku membawakanmu es jeruk. Minumlah dulu."
Tiba-tiba ponsel Vian berdering.
Kevin bergerak tanpa mengucapkan beberapa patah kata. Ia meraih ponsel itu. Alangkah terkejutnya ia melihat penelepon di ponsel Vian.
"Ini... Erva?" tanyanya sambil menghadapkan layar ponsel ke wajah Vian.
Vian sama terkejutnya dengan Kevin. "Apa? Bagaimana mungkin?" ia balik bertanya. Ia kembali menatap Kevin.
Sementara Kevin mengangkat kedua bahunya. "Bukannya ini ponselmu? Mengapa kau bertanya padaku? Aneh."
"Ini lebih aneh lagi. Aku rasa aku tidak pernah bertukar nomor dengannya. Aku dan dia memang pernah berbicara sejak aku ke Semala, tapi kami tidak pernah bertukar kontak. Bagaimana mungkin?" Vian menggaruk-garuk kepalanya.
"Coba angkat saja dulu. Siapa tahu ada yang penting," usul Kevin.
Vian mengangguk, menyetujui ide Kevin. Ia menyapu layar ponselnya ke atas, menerima panggilan itu.
"Halo, dengan Vian di Shomba."
Kevin tiba-tiba melemparnya dengan bantal.
"Aduh, Kevin, apa permasalahanmu?" tanya Vian kesal.
"Mengapa kau menjawab seperti penelepon kuis berhadiah dua juta? Jangan melawak, lah," sambung Kevin sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri.
__ADS_1
Vian tertawa. "Ya, sudah. Mendekatlah. Kita dengar suara si penelepon ini."
Ia kembali sibuk dengan ponselnya. Jarinya menekan tombol speaker di ponselnya hingga terdengar jelas suara penelepon itu.
"Halo?" katanya dengan suara yang pelan.
Mereka berdua terkejut, saling pandang.
"Benar-benar suapa perempuan. Jadi kau sudah selingkuh dari Reva, Vian?" tanya Kevin menuduh-nuduh.
"Tidak mungkin, lah," sanggahnya. Ia mendekatkan layar ponsel ke wajahnya.
"Halo, siapa ini? Mengapa kau bisa tahu nomor ponselku?" tanya Vian.
"Ini aku, Erva. Apa benar ini Vian?" ia balik bertanya.
Vian berdehem. "Benar, ini Vian. Ada perlu apa meneleponku?" tanya Vian lagi.
"E-Eh? Tadi Rani bilang-" tiba-tiba suaranya tidak terdengar.
"Apa? Rani?!" teriak Vian. Ia memasang muka datar.
"Rani, apa yang kau lakukan? Berhenti main-main!"
Terdengar suara tawa dari telepon. "Bercanda. Padahal sudah hampir berhasil membuat kalian berbicara lewat telepon. Erva, kau mengacaukannya," balas Rani.
"Sudah, kalau tidak ada urusan yang penting aku tutup saja. Bye." Telepon terputus, Vian kembali meletakkan ponselnya. "Kerjaan si Rani rupanya. Dia memang jail."
Kevin kembali melemparnya dengan bantal. "Hei, mengapa kau tutup teleponnya?"
Vian mendengus, menatap tajam Kevin. "Memangnya ada apa? Bukannya kita sudah tidak ada urusan dengan mereka?"
Kevin menepuk dahinya. "Itu informasi. Bukannya yang menelepon itu adalah Erva? Kita bisa cari tahu informasi dari dia."
"Ah, kau benar juga. Tapi memangnya dia mau memberikan informasinya ke orang yang baru dikenal?" tanya Vian.
Kevin bergumam. "Oh, iya. Aku lupa. Si misterius itu tidak akan percaya dengan mudah," katanya. "Tapi dari mana dia dapat nomormu? Terus bagaimana bisa kau punya nomornya di ponselmu?"
Vian mengusap keningnya. "Aku baru ingat. Si Rani pernah meminjam ponselku. Aku kira untuk apa, ternyata untuk tukar-tukaran nomor ponsel."
"Jadi kalian sudah tukar-tukaran nomor?" tanya Kevin.
Pertanyaannya dijawab dengan lemparan bantal dari Vian. "Tentu saja tidak. Sudah kubilang itu adalah kerjaan Rani. Berapa kali harus kuberi tahu? Kau ini memang bebal," gerutu Vian.
Kevin meraih bantal itu, memasang wajah tidak terima. Ia balik menyerang Vian. "Ya, sama saja. Artinya kalian sudah tukar-tukaran nomor. Berapa kali harus kuberi tahu? Dasar anak pintar."
Vian memasang wajah datar. "Terima kasih atas pujiannya."
"Sama-sama," jawab Kevin dengan wajah yang sama datarnya. "Sekarang bagaimana?"
__ADS_1
"Ya, main game. Tujuan awalmu datang ke sini bukannya main game? Ayo!" ajak Vian bersemangat.