Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
41 | RENCANA PERTEMUAN


__ADS_3

Masih di malam itu, kamar Vian.


"Aku ingin bertemu dengan Erva lagi". Kata-kata itu membuat Vian dan Kevin terdiam. Suasana kamar Vian lengang, menyisakan suara jam dinding yang berdetak. Jarum pendeknya sudah bergerak di angka delapan.


"Apa? Kau bilang mau bertemu dengan Erva lagi?" Vian mengulangi ucapan Reva.


"Iya. Aku ingin bertemu dengannya lagi. Ada banyak hal yang tidak kuketahui. Aku rasa bertanya langsung pada Erva adalah pilihan yang tepat."


"Ya, benar juga. Tapi bagaimana caramu untuk bertemu lagi dengannya? Kau mau ke Semala?"


Reva menghela napas pelan. "Itu permasalahannya. Apa salah seorang di antara kalian ada yang punya kontak Erva? Atau orang lain yang mungkin berhubungan dengan dia?"


"Aku..." Vian menjauhkan ponsel darinya, lalu menatap Kevin. Tatapan itu memberi pertanyaan, apa yang harus kujawab?


Kevin mengangkat alis, lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Vian sambil berbisik, "Berikan saja kontak Erva yang kau dapat. Dari pada dia mengamuk lagi. Memangnya kau mau?"


Vian mengangguk sambil mengacungkan jempol. "Siap, Kapten," bisiknya.


"Vian?"


"O-Oh, iya Reva. Aku punya kontak Erva. Aku akan mengirimkannya padamu."


"OK. Aku tunggu."


Telepon ditutup oleh Reva.


***


Di lain sisi, Erva sedang duduk-duduk di teras rumah memandangi langit pekat bertabur bintang. Angin malam berembus menerpa rambutnya.

__ADS_1


Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini pun ia sendiri. Tidak jarang Ibunya bekerja sampai lembur. Kesepian selalu menemaninya.


Terdengar nada dering. Ponselnya menyala, ada panggilan dari nomor tak dikenal. Erva mengerutkan dahi, dalam hati bertanya-tanya, "Siapa yang meneleponku?"


"Halo?"


"Halo."


Mata Erva membulat, lalu bilang, "R-Reva?"


Terdengar deheman gadis itu. "Iya. Ini Reva. Apa benar ini Erva?"


Erva menyimpul senyum di wajah, buru-buru mengangguk. "Iya. Ini aku. Ini Erva."


"Oh, begitu. Syukurlah dia memberi nomor yang benar," ucap Reva.


"Iya. Oh, iya, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Erva. Suasana teras rumah yang lengang, menyisakan deru angin.


"Syukurlah."


"Aku mendapat kontakmu dari Vian. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, terkait permasalahan tadi siang," kata Reva.


Erva menghela napas. "Ternyata begitu. Apa yang ingin kau tahu, Reva?"


"Semuanya tentang ingatan masa kecil kita. Apa di akhir pekan kau ada waktu?"


Erva diam, berpikir sejenak. "Hmm... Tunggu sebentar aku lihat kalender di ponsel."


Jari-jari Erva bergerak dengan cepat mendapatkan kalender di ponselnya. Ia mengusap-usap layar ponsel, matanya memburu kalender itu.

__ADS_1


"Aku tidak ada urusan di hari itu," katanya.


"Baiklah. Kau bisa pergi ke Shomba?"


"Akan aku usahakan. Di mana bertemunya?"


"IC Cafe di Shomba."


Erva mengangguk. "Baiklah. Sampai bertemu di hari Minggu."


Telepon ditutup.


Erva memandangi angka-angka yang tertera layar ponselnya. Kedua sudut bibirnya terangkat. Wajahnya diterpa cahaya rembulan.


"Reva, aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Akhirnya hari ini, hari pertemuan kita, datang juga. Kalau saja Ibu tahu, bagaimana kira-kira tanggapannya?"


Erva tersentak, lantas menepuk kedua pipinya. "Tidak, tidak, tidak. Ibu tidak boleh tahu dulu. Ibu pasti tidak akan percaya kalau aku bilang sudah bertemu dengan Reva hari ini. Kalau aku bilang begitu, Ibu pasti akan menyuruhku datang ke psikiater terus. Kalau begitu, biarlah aku rahasiakan dulu."


Erva buru-buru masuk ke kamarnya. Ia membuka-buka laci yang terletak di sebelah tempat tidurnya. Ada sebuah buku bersampul dua ekor kucing. Satu hitam, satu putih. Itu adalah diary yang telah ditulis Erva selama Reva tidak ada. Ada beberapa foto yang ditempel di dalam buku itu, foto masa kecil Reva dan Erva.


"Aku akan memperlihatkan ini padamu, Reva. Kau pasti akan percaya, kan?" Erva merebahkan diri di kasur, mulai membolak-balik halaman buku itu. Senyumnya masih terpasang di wajah.


"Kalau kau sudah percaya, aku akan kembali membawamu ke rumah ini, lalu memperlihatkannya langsung pada Ibu. Kemudian kita akan berkumpul lagi."


***


Halo, readers.


Mulai sekarang dan seterusnya, novel ini bakal dilanjutkan sama adiknya Author. Why? Karena idenya Author selalu hilang kalau mau melanjutkan novel ini. Author juga ada kesibukan lain, jadi dia deh yang lanjutkan. Tapi Author bakalan tetap aktif buat mendukung novel-novel kalian kok.

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah dukung novel ini juga, ya.


See you😘😘


__ADS_2