Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
31 | MIRIP


__ADS_3

Vian duduk di dekat jendela.


“Ayah, sebenarnya Ayah ingin mengunjungi tempat seperti apa? Tidak biasanya Ayah pergi ke Semala. Apa lagi sekarang mengajakku.”


“Kau akan tahu ketika kita telah sampai nanti,” jawab ayahnya. Mereka melintasi sebuah jalan raya yang curam. Rute perjalanan mereka banyak disambut oleh jalan berlubang yang menghambat perjalanan.


Vian melihat ke luar jendela. “Memangnya perjalanan ke Semala memang menguji nyali seperti ini?” tanya Vian yang mulai tampak bosan terus-terusan berada di dalam mobil. “Lalu apa tidak ada jalan lain untuk pergi ke Semala? Kita bisa saja mati di perjalanan, Ayah.”


“Ini sudah di pertengahan jalan. Jalan rusak memang akan sering kita jumpai. Tapi sebentar lagi, ketika kita sudah dekat dengan semala, jalan akan kembali mulus. Bersabarlah sedikit,” sahut ayahnya lagi.


“Ayah, pembatas jalan itu sudah rusak. Mengapa tidak ada yang memperbaikinya?” Vian menunjuk sebuah pembatas jalan yang telah tidak berbentuk. Bukan hanya itu. Di sekitar pembatas jalan itu juga terdapat beberapa bekas rem mobil.


Ayahnya ikut melihat apa yang disaksikan Vian. Ia memicingkan matanya untuk melihatnya dengan jelas. Setelah itu ia kembali bersandar pada bangku mobil. “Entahlah. Sepertinya bekas kecelakaan. Mungkin kecelakaan yang telah lama.”


Vian memutar kepalanya. Ia melihat sekali lagi jalan itu. “Tebing setinggi begitu bekas tempat kecelakaan? Parah sekali. Apa mungkin orang yang terlibat dalam kecelakaan itu telah meninggal dunia?”


“Ya. Mungkin saja. Apa lagi jika mereka sampai jatuh dari tebing setinggi itu. Kemungkinan untuk selamat sangatlah kecil. Ayah juga sering mendengar bahwa tempat itu sudah banyak menelan korban jiwa. Terdengar menyeramkan, ya?”


Sambil memasang ekspresi datar, Vian menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak. Apa Ayah takut?” godanya.


Ayahnya tertawa kecil, memalingkan wajahnya. “Jangan bercanda. Ayah tidak sepengecut itu.”


Beberapa saat di perjalanan, akhirnya mereka lalui. Jalan mulus telah terlihat, pertanda telah tiba di Kota Semala. Vian mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia mengarahkan ponsel itu pada pemandangan Kota Semala yang baru ia saksikan.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya ayahnya.


Vian tersenyum hingga memerlihatkan giginya. “Mengabadikan pemandangan di Kota Semala. Ternyata begini kondisi di Semala. Indah juga.”


Mobil melaju, menjelajahi Kota Semala lebih dalam. Bangunan-bangunan tinggi yang sama persis dengan di Shomba. Mereka melewati tepian Semala. Dari sana tampaklah Kota Shomba yang hanya dibatasi oleh sungai.


“Lain kali kalau ke sini, aku akan membawa calon pacarku,” ucap Vian sambil memotret beberapa objek di Semala.

__ADS_1


“Dasar anak muda,” kata ayahnya. “Tuan, kita telah tiba di pusat Kota Semala. Anda ingin pergi ke mana terlebih dahulu?” tanya Pak Sopir.


“Florist. Bawa kami ke sana,” jawab ayahnya. Pak Sopir tanpa berkata-kata lagi langsung mengemudikan mobil menuju tempat yang dimaksud.


Vian tampak bingung mendengar jawaban dari ayahnya. “Tunggu, Ayah. Apa mungkin Ayah ingin melamar seorang wanita sebagai pengganti Ibu?”


Ayahnya memasang ekspresi datar. “Tentu saja tidak.”


“Ya ampun, Ayah. Ternyata ini alasanmu membawaku ke Semala. Makanya sejak awal kau tidak ingin memberitahunya, kan?” tanyanya lagi tanpa memedulikan ucapan ayahnya sebelumnya. “Ayah kejam sekali.”


Ayahnya masih memasang wajah datar, menggelengkan kepalanya. “Sudah kubilang bukan begitu.”


“Ayah, kalau ingin menikah dengan wanita lain, aku akan kabur dari rumah bersama kakak,” ancam Vian. Ayahnya menepuk dahi Vian.


“Sudah kubilang bukan. Memangnya siapa yang mau menikah dengan siapa? Kesimpulanmu terlalu salah,” jawab ayahnya kesal.


Vian kembali tercengang. “Jadi bukan itu, ya?” tanyanya. Nada suaranya dipelankannya sedikit. Ia lalu menertawakan dirinya sendiri. Tapi tetap saja masih menjadi pertanyaan besar bagi Vian. Mengapa ayahnya pergi membeli buket bunga?


Tak beberapa lama, sopir menghentikan mobilnya. “Kita telah sampai, Tuan.” Ayah Vian memberikan beberapa lembar uang, lalu bergegas turun dari taksi. Vian turut turun, melihat tempat yang menjadi tujuan ayahnya.


“Pemakaman? Ayah pergi ke sini untuk berziarah?” tanya Vian sambil melangkah mmemasuki Pemakaman itu. Ayahnya yang berjalan sedikit di depan hanya mengangguk.


Vian memerhatikan setiap makam yang ia lalui. Semuanya sangat bersih dan terawat. Mereka menuju ke sebuah makam tak jauh dari pintu masuk. Nisannya sedikit lebih tinggi dari pada yang lain.


Dr. Ryan menaruh bunga yang dibawanya ke makam itu. “Iwan, maaf aku baru bisa mengunjungi makammu. Ini aku. Aku datang bersama anakku, Alvian. Sesuai dengan janjiku, aku telah membawanya ke sini.”


Vian mendekati makam itu, sesekali ia memerhatikan wajah ayahnya. “Apa dia sahabat Ayah?”


Ayahnya mengangguk. “Ya. Dia adalah sahabat sekaligus orang berjasa yang membantu ibumu ketika melahirkanmu. Dia meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan. Tepatnya ketika kau masih kecil. Sebenarnya setiap tahun aku selalu mengunjungi makamnya tanpa sepengetahuan kalian. Tapi pada kesempatan kali ini aku membawamu juga,” terang ayahnya. Ia menunduk, menarik rumput liar yang tumbuh di sekitar makamnya. “Dia juga sangat menyayangimu dan kakakmu. Dia pernah bilang ingin sekali melihatmu ketika sudah besar. Tapi keinginannya itu tidak bisa terpenuhi karena ajal menjemputnya lebih dulu.”


Vian terdiam mendengar penjelasan ayahnya. Ia memandangi makam itu. Tiba-tiba hatinya tersentuh. “Aku mengerti.” Ia menyatukan kedua belah tangannya, menunduk sedikit lama. “Terima kasih, Paman. Aku pasti akan selalu mengingat Paman. Tenanglah di sana.” Vian ikut mencabuti rumput liar yang mengganggu makam itu.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya bergetar dari dalam saku celananya. Vian mengeluarkan ponselnya, ada yang sedang meneleponnya. “Aduh, Kakak. Aku ingin mengangkat telepon dulu, Ayah.” Vian menerima telepon sambil berjalan menjauh dari makam Iwan. Ia berhenti di dekat pohon.


“Hmmm… Ada apa tiba-tiba meneleponku. Kalau kau kangen padaku, maaf. Aku tidak kangen,” katanya dengan santai. Suara dari telepon menirukan seseorang yang sedang muntah.


“Memangnya siapa yang kangen padamu. Sudahlah jangan banyak melantur. Aku meneleponmu karena ada keperluan,” sahut kakaknya.


Vian bersandar di batang pohon itu. “Katakan apa yang kau inginkan.”


“Karena kau ada di Semala, tolong belikan aku susu kambing.” Vian memasang ekspresi aneh sesaat setelah mendengar ucapan kakaknya. “Ih, susu kambing untuk apa? Untuk kau minum? Ayolah jangan bodoh. Susu sapi jauh lebih enak.”


“Kau yang bodoh. Belikan saja apa yang aku perintahkan. Jangan banyak komentar!”


“Memangnya tidak ada susu kambing di Shomba?”


“Aku lebih suka yang di Semala. Belikan saja apa yang aku suruh. OK? Bye,” katanya langsung memutuskan panggilan. Vian menyimpan kembali teleponnya, bergegas untuk kembali.


“Ayah, aku datang.” Suara yang terdengar lirih. Vian mencari sumber suara itu. Ia membalikkan badan. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada seorang gadis memakai mantel hitam. Rambut hitamnya lurus dibiarkan terurai. Vian mengusap matanya berkali-kali sambil mengedipkannya. “Reva? Tunggu dulu. Dia benar-benar Reva?” gumamnya.


Gadis itu menaburi makam itu dengan bunga mawar yang dibawanya. Vian bersembunyi dari balik pohon, masih memerhatikan gadis itu dengan teliti. “Rambutnya, postur tubuhnya, suaranya benar-benar mirip dengan Reva. Apa gadis itu Reva?”


Gadis itu kembali berdiri sambil memegangi sebuah benda bergelantungan di lehernya. Mata Vian melebar. “Itu bukannya kalung yang dipakai Reva? Tapi buat apa juga dia ke Semala untuk mengunjungi makam seseorang. Bahkan ia memanggilnya dengan sebutan Ayah.”


“Ibu dan aku baik-baik saja. Tapi dia… Aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Tapi aku yakin saat ini dia baik-baik saja,” ucapnya sambil memandangi kalungnya.


Vian semakin terkejut mendengar kata-katanya. “Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Meskipun banyak kesamaannya dengan Reva, tapi aku tidak bisa mengambil kesimpulan begitu.”


Tak lama, gadis itu beranjak dari makam ayahnya. Vian kembali bersembunyi, sambil memperhatikan setiap langkah gadis itu. Ia banyak menunduk, langkah kakinya pelan.


“Mukanya tidak kelihatan,” gumam Vian. Setelah cukup jauh pergi, Vian menuju ke makam yang baru saja ditinggal gadis itu. Makam itu milik seorang pria bernama Alfred, terlihat dari nisannya.


“Jadi, Ayah dari gadis itu adalah Alfred? Sepertinya aku butuh bantuan Kevin.”

__ADS_1


__ADS_2