Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
40 | INGIN BERTEMU LAGI


__ADS_3

Sementara itu di lain sisi


"Kevin, apa yang harus kulakukan?" tanya Vian setengah berteriak. Ia membenamkan kepalanya di kasur. Kakinya ia tendang-tendangkan ke kasur berkali-kali.


Sedangkan Kevin hanya duduk di sebelahnya. Tangannya membolak-balik halaman di buku. Matanya lebih memilih untuk melihat rangkaian huruf di lembar buku itu.


"Jangan buat hidupmu jadi menyedihkan begitulah. Kau ini sedang apa?" tanyanya kesal.


"By the way, gerakan kakimu persis seperti gerakan renang."


Vian melempar bantal ke arahnya. "Coba kasih aku solusi. Aku lagi pusing sendiri."


Kevin mendengus. "Makanya jangan pusing."


"Kevin!" Ia kembali menyerang Kevin dengan bantal di sekelilingnya.


"Hei, hentikan!" teriak Kevin. Ia menutup paksa bukunya. Lalu menatap Vian dengan muka datarnya.


"Makanya bantu aku berpikir. Aku merasa percuma undang kau ke rumahku," kata Vian kesal.


Kevin balas menatapnya. "Aku juga tidak berharap kau mengundangku menginap di sini."


Vian membalikkan badannya. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Bagaimana caranya supaya si Reva mau berbicara lagi denganku?"


Kevin membuang napas. Ia ikut berbaring di kasur milik Vian. "Kalau itu aku juga kurang tahu. Selama ini aku tidak pernah dekat dengan perempuan. Jangankan begitu. Kalau perempuan melihat mataku saja, mereka sudah merinding. Entah mengapa."


"Pengalamanmu ternyata semenyedihkan itu, Vin. Aku turut prihatin," kata Vian sambil mengusap-usap rambut Kevin yang diterpa kipas angin.


Kevin menepus tangannya. "Apa yang kau lakukan? Jangan menyentuhku dengan tangan nakalmu itu!"


Merasa kesal dilempari dengan kata-kata begitu, Vian balik memukul kepalanya. "Dasar aneh. Aku ini masih normal. Tidak mungkin aku tertarik padamu."


Kevin mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit. "Vian payah. Tanganmu itu kuat juga ternyata. Lumayan sakit," ucapnya.


"Lemah. Padahal aku cuma mengerahkan secuil tenagaku," ledek Vian.


"Berhenti meledekku!" tegas Kevin. Ia kembali menatap langit-langit kamar. "Memangnya di malam seperti ini apa yang biasa kau lakukan?"


"Aku... menelepon Reva," jawab Vian sambil tersenyum lebar. "Tapi malam ini terasa sepi. Biasanya aku ganggu dia malam-malam begini. Hari ini tidak ada sama sekali. Mulutku jadi gatal ingin menggodanya," tambahnya.


Kevin mengangkat telunjuknya. "Kau ini. Bagaimana kalau kau coba untuk menghubungi Reva? Siapa tahu dia juga merindukanmu."


Vian menatapnya sejenak, lalu membuang muka. "Kalau mau dia mengamuk, sudah pasti aku lakukan. Kalau dia makin marah bagaimana? Nanti dia tidak suka lagi padaku."

__ADS_1


"Dasar narsis. Kau yakin sekali kalau dia menyukaimu. Bagaimana kalau kenyataannya tidak begitu?"


"Eh, memangnya Reva tidak kelihatan suka padaku?" Vian beranjak dari posisi tidurnya. Ia duduk, memandangi Kevin dengan serius.


"Kalau Reva, menurutku kelihatan sekali. Kau juga terlihat sekali suka padanya," jawab Kevin.


"Sudah pasti begitu."


"Iya. Sejak awal kupikir dia adalah Erva, temanku sewaktu SMP. Dia punya wajah yang mirip sekali. Kalungnya juga mirip dengan yang dipakai Erva. Jadi aku pikir dia adalah Erva," kata Kevin. Ia ikut bangkit, bersandar di tembok yang menempel dengan tempat tidur Vian.


"Oh iya, tentang yang hari itu, waktu Erva meneleponmu--"


Belum selesai Kevin bicara, Vian sudah menyambung, "Ada apa? Mau minta nomornya?"


Pertanyaannya dijawab dengan lemparan bantal dari Kevin. "Tentu saja tidak. Aku hanya bertanya. Aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku," gerutu Kevin.


Vian meraih bantal itu, memasang wajah tidak terima. Ia balik menyerang Kevin "Tidak perlu. Pasti kau mau basa-basi. Ujung-ujungnya minta nomornya Erva. Trikmu sudah bisa kutebak, wahai budaya."


Kevin menggertakkan giginya. "Sudah kubilang bukan begitu. Berapa kali harus kukasih tahu? Dasar anak pintar."


Vian memasang wajah datar. "Terima kasih atas pujiannya."


"Sama-sama," jawab Kevin dengan wajah yang sama datarnya. "Sekarang bagaimana?"


"Kalian baru kelahi selama 5 jam 3 menit 34 detik," kata Kevin sambil melihat jam tangannya.


"Kau sampai menghitungnya? Good. Selamat, Vin. Kau aku nobatkan sebagai orang paling kurang kerjaan di dunia yang menghitung durasi Vian dan Reva tidak berteguran. Sekali lagi selamat," kata Vian sambil menepuk-nepuk pundak Kevin.


"Aduh, aku tersanjung," katanya dengan nada datar.


"Tapi rasanya memang lama. Waktu berputar semakin lambat. Ada apa dengan dunia ini?" tanya Vian kesal.


Kevin mendengus. "Harusnya dunia yang bertanya padamu. 'Ada apa dengan Vian?' begitu. Kau ini terlalu berlebihan. Baru juga tidak bertegur sapa dengan Reva, belum baku hantam."


"Tidak tahulah, Vin. Memangnya kau tidak pernah kelahi dengan perempuan?"


"Kan aku sudah bilang. Perempuan lain yang melihatku saja sudah ketakutan. Bagaimana aku mau berkelahi dengan mereka?" Kevin balik bertanya.


"Oh, iya. Aku lupa."


Tiba-tiba ponsel Vian berdering.


"Kevin, bisa tolong ambilkan ponselku?" pinta Vian.

__ADS_1


Kevin bergerak tanpa mengucapkan beberapa patah kata. Ia meraih ponsel itu. Alangkah terkejutnya ia melihat penelepon di ponsel Vian. "Ini... Reva?"


Mendengar nama itu, Vian buru-buru merebut ponselnya, seperti berebut makanan. "Berikan padaku!"


Vian mengembuskan napas, sebelum akhirnya menerima telepon itu. "Kalem, Vian. Oh, iya, Kevin, jangan mengacau!"


Kevin memasang ekspresi datar sambil berdehem. "Siapa juga yang mau mengganggu kau?"


"Halo, Reva?"


"Halo."


"Ada perlu apa menelepon malam-malam? Terus, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanya Vian yang hanya dibalas oleh deheman Reva.


Kevin menahan tawa. "Bertanya banyak-banyak, eh dibalas singkat. Rasakan."


Vian menatap Kevin tajam. Tatapan itu menegaskan, kalau tidak diam, kau akan kumakan.


Terdengar helaan napas Reva dari balik telepon. "Maaf, tadi aku sudah marah-marah tidak jelas pada kalian."


Kevin bersiul. "Perempuan minta maaf? Ini kejadian langka, Vian. Pertahankan dia, jangan dilepaskan!"


Vian mengangguk tanda setuju. "Siap, Komandan."


"Kau bersama dengan siapa?" tanya Reva.


"Eh, kau mendengar suara apa? Tidak ada siapa-siapa di sini, Va. Aku sendiri di dalam kamar."


"Beb Vian, masih lama meneleponnya? Katanya cuma sebentar," kata Kevin sambil meniru-niru nada bicara perempuan. Dia sengaja memperdengarkan suaranya pada Reva.


"Beb Vian?"


"Sialan kau, Kevin. Bukan apa-apa, Va. Ini Kevin, tidak usah dipedulikan."


"Oh, Kevin rupanya. Sampaikan juga permintaan maafku pada Kevin. Tadi aku sudah meminta maaf pada Bella juga."


"Baik. Kau dimaafkan," ujar Kevin.


"Sudah, cukup." Vian menjauh dari Kevin. "Nah, kau sudah dengar sendiri, kan? Tidak apa-apa, Va. Kami juga minta maaf karena menyembunyikan ini darimu."


Reva berdehem. "Aku mengerti. Tadi aku hanya terkejut begitu melihat orang yang mukanya persis denganku. Sampai sekarang, aku masih tidak menyangka bisa bertemu dengannya."


"Ya, lalu bagaimana?"

__ADS_1


"Aku sudah berbuat kesalahan padanya. Karena itu, aku ingin bertemu dengannya lagi."


__ADS_2