Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
42 | PENCARIAN


__ADS_3

Hari bergulir begitu cepat. Sekarang adalah akhir pekan.


Reva berdiri di depan cermin sembari menata rambutnya. Model rambut kepang pinggir yang dipilihnya menampilkan kesan manis pada wajahnya. Kaos putih lengan panjang dengan garis-garis merah yang dipadukan dengan flare skirt hitam sebatas lutut membungkus tubuhnya.


"Hari ini akan baik-baik saja," gumamnya. Ia melihat jam di ponselnya yang hampir menunjukkan pukul tiga sore.


"Setelan cantik begitu mau pergi ke mana?" Ibunya yang sedang duduk di sofa melontarkan pertanyaan sebelum ia membuka pintu.


Reva membalikkan badan, tersenyum. "IC Cafe. Ada janji ketemu dengan teman," jawabnya.


"Kau mau bertemu dengan teman laki-laki yang sering datang ke sini?" tanya Ibunya lagi.


"Laki-laki?" Reva menggosok-gosok dagunya, berpikir sejenak. "Maksud Ibu ... Vian?"


"Nah, iya."


Reva menggeleng. "Bukan, bukan dia. Aku ada janji dengan teman perempuan. Kalau begitu, aku pergi dulu, Bu."


"Tidak mau mencium tangan Ibu dulu?"


Reva tertawa pelan, berjalan mendekat, lalu menciumi punggung tangan Ibunya. "Aku pergi dulu, Bu."


"Iya. Hati-hati di jalan."


Sementara itu, di lain sisi, taksi yang ditumpangi Erva dari Semala sudah merapat di depan IC Cafe. Dia telah siap dengan setelannya, memakai kemeja berwarna maroon yang dipadu dengan celana hitam panjang. Angin yang berembus meniup rambutnya. Masih ada sekitar sepuluh menit sebelum Reva datang.


Kebetulan di seberang jalan di depan IC Cafe, ada Mira yang sedang berdiri sambil berteleponan.


"Iya, iya, aku sudah tahu. Tidak perlu kau ingatkan berkali-kali," ucapnya. Sesekali ia berdecak sebal.


"Ya ampun, aku me--" ucapannya terpotong karena terkejut melihat Erva di seberang jalan.


"Mir, kau dengar?"


"Ah, iya, iya. Nanti aku telepon lagi. Sekarang aku tutup dulu. Bye." Mira mengusap-usap matanya, memastikan apa yang dilihatnya itu benar.


"Tumben tidak keluar dengan Vian. Apa mungkin kalian tidak berteguran lagi?" Dia menghampiri Erva, yang disangkanya Reva.


"Vian dan Reva?" Erva menyimpul senyum. "Kau juga mengenal mereka?"


"Ha?" Dahi Mira berkerut. "Apa yang kau katakan?"


"Aku--"


"Sudahlah. Itu tidak penting." Mira menyela sebelum Erva melanjutkan ucapannya. Dia masih yakin bahwa gadis yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Reva.


"Daripada kau bicara tidak jelas begitu, lebih baik kau ikut aku sekarang."

__ADS_1


Selang beberapa menit, Reva sudah tiba di depan IC Cafe. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, tapi tak juga menemukan sosok Erva. Perjalanan dari Semala ke Shomba cukup jauh, dia berpikir kalau Erva belum sampai. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk masuk ke IC Cafe terlebih dahulu sembari menunggu kedatangan kembarannya.


Lima menit. Sepuluh menit. Sudah hampir setengah jam, Erva belum juga menunjukkan batang hidungnya. Reva membuka ponsel, mencoba untuk menghubunginya. Hasilnya? Erva tidak menjawab satu pun telepon dari Reva.


Dia mencari di luar IC Cafe, tapi tetap tak ada. Menunggu Erva yang bahkan tak mengabari membuatnya mulai kesal. Dia pikir Erva tidak bersungguh-sungguh ingin bertemu dengannya. Sekali lagi ia membuka ponsel, menghubungi Vian.


"Halo, ini aku. Apa kau melihat Erva di sekitar sini?" tanya Reva sambil celingak-celinguk. Mobil yang lewat di depan IC Cafe tidak ada tanda-tanda akan singgah.


"Erva belum datang? Tapi kenapa kau malah bertanya padaku?" Vian balik bertanya.


"Rumahmu 'kan dekat dengan IC Cafe." Reva menghela napas panjang. "Erva belum datang. Sudah hampir setengah jam kutunggu, tapi dia tidak datang juga."


"Memangnya kau sudah beri tahu di mana tempat bertemunya?"


Reva berdecak sebal. "Sudah. Aku sudah kirim alamat lengkapnya. Masa dia tersesat?"


"Siapa tahu, kan? Tapi kalau kau sudah kasih alamat ke dia, tidak mungkin dia tersesat. Ya, kecuali dia diculik."


"Memangnya masih zaman culik-culikan? Jangan bercanda, lah." Rasa kesal membuatnya langsung memutus telepon.


Pandangan Reva tertuju pada kertas di dekat kakinya. Ia mengambil kertas itu. Matanya bekerjap-kerjap.


"Ini ...." Kertas yang dipegangnya memuat alamat yang diberikannya pada Erva pada malam itu. Jalan Durian 3, IC Cafe.


"Reva!" Itu suara Vian. "Kenapa kau tiba-tiba mematikan telepon?"


"Artinya dia sudah sampai di Shomba."


Reva mengangguk. "Tapi ... di mana dia?"


Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Erva.


"Sepertinya ada yang membawa Erva pergi," ujar Vian.


"Tapi ...."


Mereka melihat Edward tengah duduk di bangku taman seberang jalan. Jarinya sibuk menekan-nekan layar ponsel.


"Edward, sejak kapan kau duduk di sini?" tanya Vian.


"Dua jam yang lalu," jawabnya sambil terus menatap layar ponsel.


"Bagus. Aku mau bertanya. Apa kau melihat perempuan yang lewat di sekitar sini? Dia mi--"


"Reva?" Edward menyela. Wajahnya terlihat kebingungan. Sesekali ia menoleh. "Bukannya tadi kau sudah pergi dengan Mira?"


"Apa?" Reva dan Vian sontak terkejut.

__ADS_1


Sementara Edward mengernyitkan alisnya. "Iya. Bukannya tadi kau pergi dengan Mira? Cepat sekali kau ganti baju."


"Ya ampun, Edward!" Reva menepuk dahinya dengan keras. "Itu bukan aku!"


"Jadi siapa lagi kalau bukan kau?"


"Ceritanya panjang. Ke mana dia pergi?" tanya Vian.


"Ke arah sana," jawab Edward sambil menunjuk sisi kanan IC Cafe. Reva tanpa pikir panjang lagi langsung berlari mencarinya.


"Woi, Reva! Kau bisa jatuh kalau berlari memakai high heels!" teriak Vian.


"Banyak bacot, ah!" gerutu Reva. Ucapan Vian jadi kenyataan ketika Reva menyelesaikan ucapannya. Dia terkilir.


"Apa kubilang?"


Reva menggertakkan giginya, melepaskan sepatunya, lalu berdiri. "Aku harus segera mencari Erva sebelum penyihir itu berbuat sesuatu padanya."


"Woi, tapi kakimu terkilir!"


"Tidak apa-apa," sahutnya. "Apa kau bisa bantu aku mencari Erva?"


Vian diam sejenak, mengangguk. "Aku akan membantumu."


"Reva!" teriak seseorang. Reva memutar kepala, mendapati Bella tengah berlari ke arahnya. Napasnya tersengal-sengal.


"Ada apa, Bel?"


"Aku yang harusnya bertanya, Reva." Bella mengatur pernapasannya. "Kata Vian, kembaranmu itu belum sampai di Shomba. Apa itu benar?"


Reva mengangguk. "Tadi aku berpikir begitu. Tapi, ternyata dia sudah sampai di sini. Lebih parahnya lagi, dia dibawa Mira."


"Apa?" tanya Bella terkejut. "Nenek lampir yang banyak gaya itu membawa kembaranmu?"


"Iya. Aku harus mencarinya."


"Aku ikut. Aku ingin membantumu," ujar Bella.


"Bagus. Aku juga sudah menghubungi Kevin," ucap Vian.


"Karena aku sudah melihat dia dibawa Mira, aku juga mau membantu," kata Edward.


Reva menyimpul senyum. "Terima kasih banyak. Kalau begitu, kita berpencar saja. Kalau sudah menemukan Erva, tolong kabari aku."


"Siap."


Mereka berpencar mencari Erva yang menurut keterangan Edward, dia sudah dibawa oleh Mira.

__ADS_1


__ADS_2