Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
32 | PERTEMUAN


__ADS_3

“Vian, rupanya di sini. Apa yang membuatmu ke sini?” tanya ayahnya yang tiba-tiba datang. Vian membalikkan badan.


“Tidak ada apa-apa, Ayah. Aku hanya sedang melihat-lihat.”


“Ayah pikir kau sedang mencoba mengganggu gadis itu,” ucap ayahnya sambil menunjuk gadis yang bermantel hitam itu.


Vian menatapnya. “Tentu saja tidak. Aku sudah punya calon pacar. Mana mungkin aku mau goda gadis Semala sembarangan. Ayah ada-ada saja.”


Ayahnya tertawa kecil. “Baiklah. Kebetulan kita berada di Semala, mau berjalan-jalan dulu?” tawar ayahnya. Vian mengangguk, dengan senang hati. “Tadi kakak menelepon, dia minta dibelikan susu kambing di Semala. Entahlah mau digunakannya untuk apa.”


“Baiklah. Kudengar ada pusat perbelanjaan bertema tradisional di sini. Mau melihat ke sana?”


“Boleh saja.”


Tapi pertanyaan mengenai siapa gadis itu sangatlah besar. Di dalam mobil, Vian terus memikirkannya. Sosok gadis itu terbayang di benaknya. “Ayah, tadi aku melihat sebuah makam dari seseorang yang bernama Alfred. Apa Ayah mengenalnya?”


Ayahnya berpikir sejenak. “Alfred? Aku tidak begitu mengenalnya. Tapi aku pernah mendengar namanya. Entah kapan dan di mana.”


Vian menghela napas. Ia tidak bisa menemukan petunjuk apapun dari ayahnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menggeser-geser layar ponsel. Ia menekan sebuah kontak di ponselnya. “Benar. Kurasa hanya Kevin yang tahu petunjuknya. Aku harus coba bertanya padanya.”


Vian mengetik sebuah pesan untuk Kevin.


Vian : “Vin. Ini aku, Vian.”


Kevin : “Ih, dapat nomor ponselku dari mana?”


Vian : “Memangnya aku harus memberi tahumu?”


Kevin : “Tentu saja. Aku merasa ada hal mencurigakan darimu. Kemarin kau memelukku, sekarang tiba-tiba mengirimiku pesan. Jangan macam-macam denganku. Aku bukan seleramu!”


Vian terkejut mendapat balasan dari Kevin.


Vian : “Hei, aku masih normal. Masih normal!”


Tapi pesan yang berikutnya tidak juga dibalas Kevin. Vian mendengus napas kesal. “Kevin payah. Besok kau harus kuinterogasi,” gumamnya.


Bersamaan dengan itu, mobil berhenti tepat di depan gerbang bertuliskan “Pasar Tradisional”. Menginjakkan kaki di sana serasa berbeda dengan di Shomba. Di Semala ternyata masih ada yang mengadakan pasar tradisional. Bau-bau khas tradisional itu memang telah tercium. Tapi begitu memasuki gerbang, Vian seperti melihat tempat yang lebih mirip disebut sebagai festival, bukan pasar tradisional. Segerombolan orang telah memenuhi tempat itu.


Ayah Vian memberikannya beberapa lembar uang. “Belilah apapun yang kau mau. Ayah ada urusan sebentar.”

__ADS_1


Vian hanya mengangguk, membiarkan ayahnya pergi tanpa menghujaninya dengan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. Ia melihat sekeliling, banyak sesuatu yang menarik. Bahkan ia tidak lagi memerhatikan jalan. Dari arah yang berlawanan, seorang gadis tergopoh-gopoh. Tanpa sengaja ia menyenggol Vian yang juga tidak melihat jalan.


Vian tersadar. “Ah, maafkan aku, aku tidak sengaja.”


Gadis itu terjatuh. “Tidak. Aku yang salah. Aku minta maaf,” ucapnya lirih. Suaranya mirip seperti gadis yang temui di pemakaman belum lama tadi. Tapi pakaiannya tampak berbeda.


Vian mengulurkan tangannya, berniat memberikan pertolongan. “Tidak masalah. Aku bantu berdiri,” katanya.


Perlahan-lahan, gadis itu mengangkat kepalanya. Vian terkejut mendapati wajah gadis itu. Wajahnya benar-benar tidak asing. Begitu terkejutnya sampai tidak berkata apa-apa. “Wajahnya… Wajah ini adalah wajah Reva,” ucapnya dalam hati.


Gadis itu meraih tangan Vian. Sementara Vian masih tercengang dengan apa yang baru saja ia saksikan.


“Emm… Terima kasih. Dan juga maaf atas apa yang baru saja terjadi.” Ia bergegas pergi tanpa membiarkan Vian mengeluarkan sepatah kata pun. Vian terdiam.


“Situasi macam apa ini? Dia… Dia mirip dengan Reva,” gumamnya. Ia melihat ke bawah, kembali tersentak.


Tepat di sebelah kakinya terdapat sebuah gelang emas yang diberi tali, sama seperti yang ia rangkai untuk Reva. Vian meraih gelang itu. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat di sisi gelang terdapat sebuah nama, “ERVA”.


“Dia… Dia adalah Erva?” pikirnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung bergegas mencari gadis yang tadi. Ia menyusuri setiap tempat di dalam pasar tradisional. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri tak ada habisnya demi mencari gadis itu. “Cepat sekali gadis itu hilang. Di mana dia?”


“Oh, Erva, kali ini kau datang lagi. Oh iya, apa kau sudah sehat?” tanya gadis lain. Telinga Vian yang tajam dengan cepat mencari sumber suara itu. Buruan matanya berbuah manis. Ia bisa menemukan gadis itu lagi, tak jauh darinya.


Gadis itu diam sejenak. “Aku sudah tidak apa-apa. Hanya saja, dokter bilang traumaku sulit untuk dihilangkan. Mungkin aku tidak akan bisa sembuh,” jawabnya.


Vian berjalan mendekati mereka. Ia menyentuh bahu gadis itu dari belakang. Merasa dikejutkan seseorang, gadis itu berbalik badan dengan segera. Ia kembali terkejut melihat Vian. “Kamu yang tadi?”


“Wah, seleramu lumayan juga, Va. Apa dia pacarmu?” tanya gadis yang lainnya.


“Rani, jangan berbicara sembarangan!” bentaknya.


Vian tersenyum paksa, sambil menggeleng. “Tidak, kau salah paham. Sebenarnya aku datang ke sini karena ini.”


Vian memperlihatkan gelang emas di tangannya. Gadis itu langsung menyadarinya. Ia segera memeriksa lehernya, tidak ada apa-apa.


“Apa ini adalah milikmu?” tanya Vian lagi. Gadis itu menatapnya cukup lama, hingga akhirnya ia mengangguk.


“Ya,” jawabnya singkat, masih dengan suara pelannya.


Kini berbalik Vian yang tercengang ke arahnya. “Ah, begitu. Sepertinya tadi benda ini terjatuh saat kita bertabrakan. Jadi aku mencarimu untuk mengembalikannya. Terimalah ini.” Vian menyodorkan benda itu.

__ADS_1


“Te-Terima kasih. Aku bahkan tidak menyadari benda ini terjatuh. Terima kasih sekali lagi karena sudah memberikannya kembali padaku,” ucapnya dengan cepat.


Vian tersenyum ke arahnya. “OK. Tadi aku tidak sengaja melihat tulisan di gelang itu. Jadi namamu adalah Erva?” tanya Vian. Gadis itu mengangguk pelan.


“Entah karena kebetulan atau apa, kurasa kita bertemu berkali-kali hari ini. Tadi aku melihatmu berada di pemakaman Semala,” kata Vian.


Gadis bernama Erva itu kembali menatapnya dengan cepat. “Aku tidak melihatmu. Tapi aku memang benar pergi ke pemakaman tadi.”


“Ah, begitu. Kalau sudah seperti itu….” Vian menjulurkan tangan ke arah Erva. “Namaku Alvian, kau bisa memanggilku Vian.”


Erva terdiam, tidak langsung membalas jabat tangannya. “Mengapa kau memberi tahu namamu?” tanyanya dengan polos.


“Karena aku sudah tahu namamu, maka kamu perlu tahu namaku. Jadi kita berdua impas. Bukankah begitu?” Erva berpikir sejenak, lalu mengangguk. Ia balas berjabat tangan dengan Vian.


“Jangan lupa, namaku Rani. Oh iya, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau orang baru di sini?” tanya Rani menyela sesi perkenalan mereka.


“Oh, kalau itu, aku dari Shomba. Aku datang ke sini ikut ayahku berziarah. Sekalian aku datang ke sini untuk melihat-lihat. Kebetulan bertemu dengan Erva lagi,” jawab Vian sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Aduh, situasi macam apa ini? Jadi ini adalah Erva, kembaran Reva yang benar-benar ada? Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Aku mulai menemukan kebenarannya, tapi sebaiknya aku tutup mulut dulu soal ini. Baik Erva maupun Reva, jangan sampai tahu dulu.”


“Eh, aku pikir kau sengaja mengikuti Erva karena suka padanya,” goda Rani.


Vian terkejut. “Te-Tentu saja bukan begitu.”


“Oh, iya, Alvian, coba berikan ponselmu!” suruhnya. Ia memberikan tangan di depan Vian, siap untuk menerima ponselnya.


Vian terkejut dengan permintaan itu. Baru kenal sudah berani meminjam ponsel. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk menurut. “Memangnya apa yang ingin kau lakukan pada ponselku?” Rani tertawa kecil sambil menekan-nekan tombol yang ada di ponselnya. “Erva, kau juga, berikan ponselmu padaku!”


Erva ikut terkejut. “Untuk apa? Lagi pula aku tidak membawa ponselku ke sini.” Rani merengut. “Ih, payah sekali.” Ia mengeluarkan ponselnya sendiri, kembali menekan-nekan tombol. Lalu ia mengembalikan ponsel milik Vian.


“Kau tidak mencoba untuk menyadap ponselku, kan?” tanya Vian. Ia memeriksa kembali ponselnya.


Rani mengerutkan dahinya. “Tentu saja tidak. Apa untungnya aku menyadapmu.”


“Baiklah, baiklah.” Vian melihat toko yang dijaga Rani.


"Kau menjual… Susu kambing?” tanyanya. Rani mengangguk dengan cepat.


“Tentu. Apa kau tertarik untuk membeli? Ini susu kambing yang segar. Aku bisa jamin kau akan menyukainya. Kualitas paling OK,” jawab Rani bersemangat.

__ADS_1


“Aku ingin membeli satu botol.” Kemudian percakapan kembali berlanjut. Dalam waktu yang singkat, Vian bisa mengenal Erva.


Tentu saja dengan bantuan Rani. Tanpa Rani, mungkin mereka hanya akan berdiam-diaman tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


__ADS_2