Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
29 | DIA MASIH HIDUP


__ADS_3

Malamnya, setelah kejadian itu.


Reva membuka jendela kamarnya, menatap langit pekat bertabur ribuan bintang.


"Malam ini bintangnya lebih banyak, ya," ucapnya.


Kamar tidurnya lengang. Tiba-tiba ponselnya berdering, memecah keheningan.


"Halo?"


"Oh, halo. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau masih merasa lemas?" tanya Vian.


Reva tersenyum. "Tidak sama sekali. Seperti yang kubilang. Aku sudah cukup kuat. Aku sudah sembuh. Kalau tidak, aku tidak akan menjawab teleponmu."


Suara tawa Vian terdengar. "Begitu. Tapi kau tetap harus istirahat. Kau tidak boleh sakit terlalu parah. Kalau kau sakit, nanti kau tidak sekolah. Kalau kau tidak sekolah? Siapa yang akan kuganggu?"


Senyum di wajah Reva sirna, berganti dengan wajah yang cemberut. "Jadi kau hanya ingin menggangguku? Baiklah, aku akan tutup teleponnya."


"Aku hanya bercanda. Kau cepat sekali marah, memangnya kau sedang 'periode' ya?"


Reva mendengus. "Jangan sembarangan berbicara. Tentu saja tidak."


Vian kembali tertawa. "Iya, iya. Aku tidak akan bicara sembarangan lagi. Oh iya, Reva, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan."


Reva mengerutkan dahinya. "Bertanya? Apa?"


"Mengapa kau bisa pingsan? Tadi begitu tiba di kelas, aku melihatmu sudah terbaring di atas lantai."


Reva terdiam, berpikir sejenak. "Penyebab aku pingsan? Aku tidak terlalu mengingatnya. Sebentar, biar aku ingat-ingat lagi."


"Kalau memang kau tidak terlalu ingat, ya, kau tidak perlu memaksakannya," kata Vian.


"Aku ingat sekarang. Sebelumnya aku melihat foto kelulusan Kevin karena sangat penasatan. Tiba-tiba saja aku melihat wajah yang mirip sekali denganku di foto itu. Aku tidak bisa mempercayainya," sambung Reva.


Vian mengangguk-angguk. "Oh, begitu. Lalu apa yang membuatmu pingsan?"

__ADS_1


"Aku melihat ada mukaku di foto itu. Itu memang benar foto kelulusan SMP milik Kevin, kan?"


"Tentu saja," jawab Vian. "Oh iya, apa kau mengingat sesuatu ketika melihat foto itu?"


"Tidak ada. Hanya saja tiba-tiba aku sakit kepala, lalu mendadak pingsan. Aku pikir aku hanya salah lihat di foto itu. Tidak mungkin, kan, ada aku di foto kelulusan SMP Kevin?"


Vian berdehem. "Ya, memang tidak masuk akal. Dia adalah teman Kevin sewaktu SMP, namanya Erva. Bukankah dia mirip sekali denganmu, seperti kembar saja."


"Ah, iya. Setelah aku pikir-pikir juga begitu. Sudah banyak kejadian yang kualami. Mulai dari mimpi, gelang yang bertuliskan namaku ini, sampai foto itu. Semuanya seperti ada hubungannya. Aku ingin tahu lebih banyak mengenai orang bernama Erva itu," kata Reva.


"Kata Kevin, dia itu orang yang tertutup. Tidak ada yang berani mendekatinya."


"Tapi dia mirip sekali denganku. Jangan-jangan dia adalah orang yang muncul di dalam mimpiku, kembaranku."


"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Vian.


"Y-Ya, aku ingin sekali bertemu dengan orang itu. Aku tidak bisa membiarkannya begini terus, aku bisa sakit kepala," jawab Reva. Ia memegangi kepalanya. "Sekarang saja aku sudah sakit kepala."


"Sebaiknya kau kembali istirahat, Reva."


"Bukannya baru saja kau meneleponku?"


Reva menggeleng. "Bukan. Bukan begitu."


"Besok kita bisa berbicara secara langsung. Dijamin bakal lebih lama, lebih puas, dan lebih jelas. Malam ini kau harus istirahat full, jangan sampai sakit. Kau mengerti, kan?"


Reva buru-buru mengangguk. "Tentu saja."


***


Hari berikutnya di sekolah.


Reva masuk ke kelas, melihat Kevin yang sedang berdiri di depan jendela.


Ia menepuk pundak Kevin, mengejutkannya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Kevin," sapa Reva sambil melayangkan senyum.


"Oh, selamat pagi. Hari ini kau datang lebih cepat dari biasanya, ya?"


Reva mengangguk. "Benar. Hari ini aku lebih bersemangat. Dari pada itu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau bisa menjawabnya?"


Kevin mengangkat alisnya. "Apa yang ingin kau tanyakan? Katakan."


"Simpel. Siapa itu Erva?" tanya Reva.


Kevin terdiam. "Pertanyaan yang sama dengan Vian," gumamnya. "Erva, ya? Dia itu temanku sewaktu SMP. Ah, bukan, bukan teman. Mungkin lebih tepatnya kenalan di kelas."


"Apa wajahnya begitu mirip denganku sampai-sampai kau pernah memanggilku dengan nama Erva?" tanya Reva lagi.


Kevin menelan ludah, menatap ke bawah. "Dia memang mirip denganmu, sangat mirip. Pertama kali melihatmu, aku pikir dia adalah kau."


Mata Reva melebar. "Apa kau tahu di mana dia sekarang?"


"Entahlah. Sejak lulus SMP, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Memangnya untuk apa kau mencari tahu tentangnya?"


Reva menunduk. "Aku ingin mencari tahu kebenarannya. Aku ingin membuktikan, apakah dia memang saudara kembarku atau bukan. Aku selalu mendapat mimpi aneh, juga ingatan yang kadang muncul di kepalaku. Semua itu berhubungan dengan orang yang bernama Erva itu."


"Maaf, aku tidak bisa memberikan informasi yang lebih lengkap. Seperti yang kukatakan, dia adalah anak tertutup, pendiam, bahkan terlihat misterius. Aku tidak pernah melihatnya bergaul dengan siapa pun. Setiap hari dia hanya datang ke kelas, duduk, diam."


"Satu lagi yang ingin aku tanyakan," sahut Reva. Ia menatap Kevin dengan serius.


Kevin mengangkat alisnya. "Tanyakan saja."


Reva menarik napas panjang. Pupil matanya bergerak-gerak. "Apa... Apa dia masih hidup?"


Kevin terdiam seketika. Ia mengedipkan matanya dengan cepat, menatap Reva cukup lama. "Maaf, Reva. Aku tidak tahu. Aku tidak memikirkan soal ini sebelumnya. Sejak lulus SMP aku tidak bertemu dengannya lagi. Entahlah di mana dia sekarang. Dia masih hidup atau tidak, aku juga tidak tahu."


"Aku minta maaf karena menanyakan hal ini. Aku hanya merasa ada yang mengganjal di hatiku," ucap Reva.


"Tidak masalah."

__ADS_1


"Ikuti kata hatimu. Apa kau merasa dia masih hidup?" tanya Vian. Ia tiba-tiba muncul, bergabung dengan mereka.


"Aku merasa dia masih hidup. Entah bagaimana aku bisa menyimpulkan ini. Hanya saja, aku tidak tahu di mana keberadaannya. Ada banyak yang ingin kutanyakan padanya," jawab Reva.


__ADS_2