Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
37 | PERTEMUAN


__ADS_3

Mereka tiba di depan bangunan berwarna kuning terang, dengan garis-garis cokelat di setiap sudutnya. Juga atapnya yang berwarna cokelat. Bangunannya cukup besar. Di sekelilingnya, ada bunga Asoka yang menghiasi museum itu.


Pak Ivan berhenti di depan mereka. "Ketika masuk, berbicara seperlunya saja. Di dalam juga ada pemandunya. Jika ada yang tidak kalian pahami, kalian bisa bertanya padanya. Kalian mengerti?"


Seluruh siswa kompak mengangguk. "Mengerti, Pak."


Di dalam ruangan itu ada seseorang yang sedang duduk di meja, dekat dengan pintu masuk. Ia melayangkan senyum manisnya.


"Selamat siang. Kami dari SMA 2 Shomba datang ke sini untuk belajar. Apa Anda bisa memandu kami?" tanya Pak Ivan.


Wanita itu mengangguk. "Tentu saja. Sebelum itu, mohon isi daftar pengunjungnya, Tuan. Cukup Anda saja, sebagai perwakilan." Ia memberikan sebuah bolpoin pada Pak Ivan.


Pak Ivan mengangguk, langsung mengisi daftar pengunjung itu.


Wanita itu mulai memandu setiap siswa menjelajahi ruang dalam museum.


Setiap ruang dalam museum terisi penuh oleh barang-barang peninggalan sejarah. Ada foto-foto lama, pakaian adat, senjata, mata uang, bahkan perabotan rumah tangga.


Sekitar setengah jam, kunjungan itu sudah selesai.


"Baik. Kami berterima kasih banyak atas waktu yang Anda luangkan untuk memandu kami," ucap Pak Ivan.


"Terima kasih kembali atas kunjungannya, Tuan," balas wanita itu.


Pak Ivan melihat jam tangan. "Kita sudah selesai. Karena masih banyak waktu, Bapak bebaskan kalian menjelajahi Semala. Tapi ingat untuk berkumpul pada pukul 16.00 di museum ini lagi."


"Baik, Pak."


"Ke mana kita akan pergi?" tanya Bella.


Kevin melihat tepian di depan museum. "Berjalan-jalan lewat tepian itu. Tidak jauh dari sini, kita akan tiba di taman kota. Di sana cukup sejuk."


Mereka mengangguk.


"Tunggu apa lagi? Kita pergi ke taman saja," ajak Bella.


Mereka mengikuti saran Kevin, berjalan dari tepian menuju taman kota. Rumput yang menghiasi tepian itu memanjakan mata. Angin bertiup, menyejukkan tempat itu.

__ADS_1


"Kau benar, Kevin. Di sini rasanya sangat sejuk," ucap Bella.


"Kevin, apa taman itu sangat jauh dari sini?" tanya Reva.


"Tidak juga. Berjalan saja terus. Tidak akan terasa, kita pasti sampai," jawab Kevin.


"Wah, apa yang di seberang itu adalah Shomba?" tanya Reva lagi sambil melihat-lihat perairan yang membentang antara Shomba dan Semala.


Kevin berdehem. "Ya, dari sini terlihat, kan? Andaikan ada jembatan yang membentang antara Shomba dan Semala, kita tidak perlu bersakit-sakit di dalam bus, menghadapi jalan yang berjerawat itu."


"Wah, Reva, kau memakai syal yang aku berikan waktu itu?" tanya Vian sambil menarik-narik syalnya.


Reva berjalan mundur. "Jangan menggangguku!" teriaknya. Ia tidak sengaja menabrak seseorang, membuat orang itu tersungkur.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja. Apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil menjulurkan tangan. Ia terdiam melihat kepala gadis yang ditabraknya.


"Aku tidak apa-apa," ucap gadis itu. Ia mengangkat kepalanya, lalu terdiam.


Reva terkejut bukan main. Ekspresi Reva mendadak tegang. Matanya membuka lebar, menatap gadis di hadapannya.


"Reva. Aku tahu kita pasti akan bertemu," ucapnya. Ia segera berdiri, memeluk Reva dengan erat. "Aku sangat merindukanmu, Reva."


Reva hanya terdiam. Wajahnya masih tegang. Ia melepaskan pelukan gadis itu, menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Siapa kau?"


Angin berembus, meniup rambut mereka. Bukan hanya rambut, namun senyum di wajah gadis itu juga turut sirna bagai disapu angin. Air matanya masih menggenang di kantong mata.


"Ini aku, Erva," jawabnya.


Reva menggeleng sambil berjalan mundur. "Tidak mungkin. Aku pasti salah lihat."


Erva memegangi lengannya. "Tidak, kau tidak salah lihat. Ini aku, Erva, kembaranmu. Mengapa kau tidak mengenaliku?"


Reva melepas paksa tangannya. "Tidak mungkin!" teriaknya. Ia terduduk, memegangi kepalanya.


"Reva, ada apa?" tanya Bella.


Reva masih memegangi kepalanya. "Ini tidak mungkin. Sejak kapan aku punya saudara kembar? Ini mustahil."

__ADS_1


"Aku adalah saudara kembarmu. Mengapa kau tidak percaya padaku?" Erva ikut terduduk. "Aku sudah kehilanganmu dalam waktu yang lama. Sangat lama. Akhirnya aku menemukanmu, aku bertemu denganmu di sini. Tapi mengapa kau tidak mengenali aku?"


Reva memegangi kepalanya lebih keras. "Cukup. Jangan berbicara lagi!" Matanya dibasahi air mata. Wajahnya mulai pucat, keringat dingin membasahi tubuhnya. Perlahan-lahan, kesadarannya menurun.


Semua orang panik. Bella menggoyang-goyangkan badannya. "Reva? Ya ampun. Dia pingsan lagi," ucap Bella cemas.


"Itu... Rumahku cukup dekat dari sini. Bawa saja Reva ke rumahku," usul Erva.


"Baiklah."


Erva membawa mereka ke sebuah rumah sederhana yang berwarna abu-abu. Ia mengambil kunci dari saku, menancapkannya di lubang kunci. Pintu terbuka.


"Masuklah. Bawa dia ke dalam."


Ruang dalam rumah itu tampak begitu rapi.


Vian meletakkan tubuh Reva di atas sofa berwarna merah gelap. Wajahnya sangat pucat.


Erva mendekat, ia membelai kepala saudari kembarnya. "Saudariku yang sudah lama menghilang. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Apa kau tahu? Aku sangat merindukanmu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu hingga kau jadi seperti ini?"


Kevin menepuk-nepuk bahu Erva, memintanya untuk kembali berdiri. "Ada yang harus kami beri tahu padamu, Erva."


Erva menghentikan gerakan tangannya, balik menatap Kevin. "Apa itu?"


"Sebenarnya Reva kehilangan ingatannya," jawab Kevin.


Mata Erva membulat. "Apa itu benar?"


Vian mengangguk. "Ya. Akhir-akhir ini, Reva memang sering sakit kepala. Terkadang dia bahkan pingsan karena sakitnya itu. Ya, pada akhirnya dia pingsan lagi ketika melihatmu."


Erva menunduk, memelankan suaranya. "Reva, ternyata memang banyak yang sudah terjadi padamu, padaku, pada kita." Ia kembali menatap Kevin. "Semua ini pasti terjadi karena peristiwa sembilan tahun yang lalu, di tahun 2011."


Mereka terkejut.


"Peristiwa apa?" tanya Bella.


Erva menatapnya, lalu kembali menunduk. "Kecelakaan besar."

__ADS_1


__ADS_2