
“Sebagai balasan karena telah membantumu mencari informasi, ikutlah dengan Ayah ke Semala,” pinta dr. Ryan.
Vian yang tengah asyik memainkan ponselnya, tiba-tiba berhenti. Dialihkannya pandangannya ke wajah ayahnya.
“Apa?” tanya Vian setengah berteriak. Jika dipikir-pikir lagi, dr. Ryan tidak mengatakan hal ini sebelumnya saat Vian meminta tolong.
“Mengapa masih bertanya? Anggap saja sebagai bayaran untuk Ayah,” balas ayahnya.
Vian merengut. “Bukannya sebagai balasan, aku akan menjadikan Reva pacarku?” ungkit Vian.
Ayahnya tertawa mendengar ucapannya. “Kalau begitu kau yang nyaman. Kau harus ikut dengan Ayah ke Semala akhir pekan ini,” sahut ayahnya sambil menunjuk-nunjuk Vian.
Vian hanya dapat mendenguskan napas kesal. “Untuk apa aku ikut? Memangnya ada keperluan apa? Ayah tidak menjodohkanku dengan siapa pun, kan?” tanyanya lagi.
Ayahnya kembali tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Vian. “Dasar, anak ini. Ini zaman kapan? Main jodoh-jodohan itu sudah kadaluwarsa. Kau akan tahu nanti,” jawabnya.
“Baiklah, baiklah.” Vian memasuki kamarnya, lalu keluar dengan menggunakan jaket. Ayahnya heran melihatnya berpakaian seperti itu.
“Mau ke mana kau?” tanya ayahnya.
“Ketemu calon pacar,” jawab Vian santai.
Ia berdiri di depan cermin, mengatur ulang rambutnya.
Ayahnya memperhatikan penampilan Vian dari atas ke bawah. “Penampilan aneh begitu mau keluar untuk ketemu calon pacar? Jangan bercanda, lah,” komentar ayahnya.
Vian terdiam. “Memangnya apa yang aneh? Kulihat-lihat penampilanku saat ini sangat keren. Aku benar, kan?” sahutnya dengan penuh percaya diri.
***
“Tidak. Justru kau terlihat sangat aneh,” jawab Reva dengan nada datar. Vian tercengang mendengar jawaban Reva yang sama persis seperti ayahnya.
“Memangnya apa yang aneh?” Vian balik bertanya. Reva meraih ponselnya, membuka fitur kamera lalu menghadapkannya pada Vian. “Coba lihat sendiri yang aneh pada dirimu.”
__ADS_1
Vian memperhatikan wajahnya di depan kamera. Ia membuat berbagai macam mimik. “Aduh, siapa yang berada di depan kamera ini. Ganteng parah,” ucapnya dengan percaya diri. Sementara itu, Reva membuat ekspresi aneh ketika mendengar ucapannya. “Ganteng dari Hongkong! Rambutmu itu terlalu panjang, hampir menutupi mata. Sepertinya matamu hari ini rada-rada rusak!” teriak Reva.
Vian mengusap rambutnya ke belakang. “Eh, padahal aku sengaja mengubah gaya rambutku jadi seperti ini. Kukira kau akan suka,” sahut Vian. Ia kembali melihat kamera, membenarkan gaya rambutnya.
Pipi Reva merona. “Aku lebih suka yang seperti biasa,” kata Reva. Ia membuang mukanya, tapi tangannya masih memegang ponsel di depan Vian.
“Oh jadi kau menyukaiku yang seperti biasanya, ya?” goda Vian.
Reva menahan ekspresi wajahnya. “Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya mengomentari rambutmu, bukan yang lainnya,” tambahnya dengan masih membuang muka. Mulutnya ia tutup rapat-rapat agar dapat dikendalikan.
“Aku sudah selesai memperbaiki model rambut. Coba lihat! Apa ini yang kau suka?” tanya Vian. Namun tak dipedulikan. Reva masih mendiaminya. “Hei, lihat aku! Kalau kau tidak melihatku, maka aku yang akan melihatmu.”
Reva menatapnya dengan cepat. “Itu sama saja,” katanya. Ia baru sadar telah masuk dalam jebakan Vian. Trik Vian untuk membuat Reva menatapnya berhasil. Reva memperhatkan wajah Vian. Benar, ia telah mengganti gaya rambutnya seperti semula. "Ya, itu lebih bagus," ucapnya dengan suara pelan.
Vian tersenyum sambil mengacungkan jempol.
“Ada keperluan apa kau datang ke sini?” tanya Reva. Ia meraih ponsel, memasukkannya ke dalam saku celana.
“Aku sudah bilang kalau aku merindukanmu. Makanya aku datang ke sini,” jawab Vian dengan santai. Ia menatap foto keluarga di ruang tamu rumah Reva.
“Aku tidak bercanda. Kau selalu saja menganggapku bercanda. Padahal aku cukup serius,” sahut Vian.
Reva menepuk dahinya. “Iya, iya. Tapi tujuan utamamu ke sini apa?”
“Bertemu denganmu.”
“Kita sudah bertemu. Lalu mengapa kau masih di sini?”
“Aku ingin berbicara denganmu.”
“Sekarang juga sudah berbicara. Apa lagi?”
“Aku ingin menatap wajahmu yang lucu itu," jawab Vian. Ia tersenyum ke arah Reva. "Tapi mengapa kau seolah ingin mengusirku? Kau jahat sekali.”
__ADS_1
Reva mengerutkan dahinya. “Aku hanya heran. Kau tiba-tiba datang dengan penampilan kacau begitu. Aku pikir kau sudah gila. Tiba-tiba menemuiku, tidak ada keperluan penting. Dasar aneh.”
"Aku hanya bosan di rumah. Akhir pekan nanti ayah memintaku untuk ikut dengannya ke Semala. Entah apa yang akan kami lakukan di sana. Ayah tidak memberi tahuku." Vian menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menutup matanya.
"Memangnya ada hubungannya denganku?" tanya Reva. Vian kembali membuka matanya, langsung memburu mata Reva.
"For your info. Siapa tahu kau kangen padaku. Atau mengajakku pergi di akhir pekan. Sorry sorry maaf, aku tidak ada," jawabnya. Lagi-lagi ia menjawab dengan penuh percaya diri.
"Dasar. Tentu saja tidak. Memangnya siapa yang akan merindukanmu. Hanya satu hari, untuk apa dirindukan?" balas Reva.
Vian tertawa. "Iya, iya. Kau mau minta oleh-oleh dariku, tidak? Kebetulan sekali bukan aku ke Semala?"
Reva menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak meminta apapun darimu." Ia menghela napas, memberi sedikit jeda. "Asal kembali dengan selamat. Itu saja," tambahnya.
Vian kembali tersenyum. "Itu sudah pasti. Oh iya, si Mira itu tidak melakukan apapun padamu lagi, kan?"
Reva menggeleng. "Tidak ada. Sejak terakhir kali kau memperingatkannya di belakang kelas tidak terpakai itu, dia tidak melakukan apapun lagi padaku."
"Jangan senang dulu. Dia pasti akan melakukan sesuatu lagi. Kau harus berjaga-jaga. Jangan lemah seperti waktu itu!" tegas Vian. Ia berdiri, melihat Reva dengan serius.
"Memangnya aku harus apa?"
"Tentu saja melawan nenek sihir itu. Kalau dia menindas, ya harus dilawan. Jangan hanya diam, menyalahkan diri sendiri, lalu menangis. Memangnya air matamu tidak habis?"
"Aku... Tentu saja aku ingin melawan. Tapi aku juga takut. Dia bisa melakukan apapun terhadapku kalau aku melawan. Aku mana punya kekuatan. Dia lebih dari aku," jawab Reva. Belum dicoba, ia sudah pesimis.
Vian mendengus. "Jangan langsung pesimis. Kau ini tidak bisa optimis sedikit? Cobalah. Berpikiran positif itu perlu."
"Mira itu manusia. Sama seperti kita. Apa yang perlu ditakutkan darinya? Dia bukan hantu," tambah Vian.
Reva mengangguk pelan. "Baiklah. Sesekali aku akan melawannya jika ia menindasku."
"Jangan hanya sesekali. Tapi berkali-kali," sahut Vian.
__ADS_1
"Baiklah. Berkali-kali."