Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
34 | PEMECAHAN MASALAH


__ADS_3

Masih di hari itu, di dalam kelas.


"Teman baru?" tanya Kevin yang tiba-tiba datang.


"Hei, kau, kebetulan aku ada perlu denganmu," kata Vian. Ia menatap Kevin tajam.


"Slow down, Bro. Mengapa kau tiba-tiba menatapku begitu?" tanya Kevin. Ia mundur beberapa langkah.


"Harusnya aku yang bertanya. Mengapa kemarin kau tidak membalas pesanku?" Vian balik bertanya.


Kevin mengerutkan dahinya. "Pesan? Aku tidak ingat."


Vian menepuk dahinya. Ia menarik tangan Kevin. "Aku perlu bicara empat mata denganmu. Ini penting."


"Ya, silakan kalian lanjut berbicara. Kebetulan aku ada perlu dengan Ibu Wali Kelas," kata Reva yang beranjak pergi.


Kevin masih menatap Vian. "Langsung saja pada intinya. Apa yang kau perlukan dari aku?"


"Kemarin aku ke Semala. Tebak apa yang aku lihat."


Kevin berpikir sejenak. "Ikan terbang?"


Vian menyilangkan tangannya sambil menggeleng. "Bukan. Jawabanmu salah." Ia melihat sekeliling, semakin mendekatkan kepalanya.


"Aku bertemu Erva," bisiknya.


Mata Kevin membulat. "Hei, apa kau bicara serius? Kau jangan bercanda!" ujarnya setengah berteriak.


Vian buru-buru menutup mulutnya. "Kecilkan suaramu. Aku serius bertemu dengannya. Aku juga awalnya tidak percaya, tapi ini kenyataan."


"Apa dia masih misterius seperti saat SMP?" tanya Kevin.


Vian menggeleng. "Tidak juga. Kemarin aku bertemu dengannya. Tampaknya dia sudah punya teman. Aku benar-benar terkejut melihat duplikat Reva. Wajahnya, badannya, semua sama. Hanya saja wataknya berbeda. Erva lebih pendiam."


"Di mana kau bertemu dengannya?" tanya Kevin lagi.


"Awalnya di pemakaman. Saat aku ke pasar tradisional Semala, aku bertemu lagi dengannya. Aku melihat kalung yang dia pakai, memang persis seperti milik Reva. Hanya saja ada ukiran nama 'ERVA' di gelangnya," jelas Vian.


"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu, Kevin. Apa benar ayah Erva bernama Alfred?" tanya Vian.


Kevin diam sejenak, lalu mengangguk. "Seingatku begitu. Dia sudah meninggal dunia."

__ADS_1


"Kemarin aku melihat Erva mengunjungi makam itu. Artinya memang itu ayahnya."


"Lalu apa saja yang kau lakukan kemarin?"


"Aku meminta tolong padanya untuk membantu memilihkan oleh-oleh. Tenang saja. Aku juga membelikan sesuatu untukmu, ada di dalam tasku."


"Bukan itu. Maksudku, apa dia mau bergaul denganmu kemarin? Seperti berbicara?"


"Kalau itu, dia tidak banyak bicara. Suaranya sangat pelan, hampir tidak terdengar. Kata-kata yang dia ucapkan saja jumlahnya bisa kuhitung dengan jariku," jawab Vian sambil menunjukkan jari-jarinya.


Kevin mengangguk. "Artinya dia sudah ada perubahan."


"Ada lagi yang kutemukan. Dia berbicara dengan temannya, membahas mengenai traumanya."


"Sudah kuduga. Dia mengalami trauma berat. Ini pasti akibat dari kecelakaan itu."


"Ya. Yang lebih mengejutkan, Reva mengalami mimpi tentang kecelakaan itu."


Mata Kevin membulat. "Kau tidak bercanda?"


"Tentu saja tidak. Reva benar-benar mengalami mimpi itu. Permasalahan ini semakin terpecahkan saja."


"Aku kembali," kata Reva. Ia melihat Kevin dan Vian berdekatan. "Apa yang kalian lakukan?"


"Oh, ini si Kevin membahas tentang game terbarunya. Dia mengajakku bermain bersama," jawab Vian sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kau hobi bermain game?" tanya Reva.


"Tentu saja. Kalau dia tidak hobi, lalu bagaimana bisa matanya minus seperti ini? Lalu memakai kacamata seperti ini?" Vian balik bertanya.


Kevin memasang ekspresi datar. "Kau ini banyak bicara, Vian. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku rabun karena kebanyakan bermain game?" tanyanya.


Vian melayangkan senyum, sambil berkata, "Tentu saja aku tahu. Aku juga rabun karena suka bermain game. Kita ini senasib."


Kevin mengangguk. "Aku pikir kau berkacamata karena terlalu banyak belajar. Rupanya karena bermain game."


"Tentu saja tidak. Memangnya aku terlihat seperti si maniak belajar?" tanya Vian sambil menunjuk dirinya.


Kevin mengangkat alis, mengangguk. "Ya. Tingkat kemiripan hampir seratus persen."


Bel tanda masuk kelas berbunyi. Mereka bubar, duduk di bangku masing-masing.

__ADS_1


"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Ivan.


"Selamat pagi, Pak," sahut semua siswa secara serentak.


"Ada pengumuman penting yang harus kalian simak. Minggu depan kita akan mengadakan kunjungan ke museum Semala," kata Pak Ivan.


Semua siswa berteriak gembira, sedangkan Reva hanya terdiam. Ia kemudian mengangkat tangannya, membuat suara bising itu hilang seketika.


Pak Ivan melihat ke arah Reva. "Ada apa, Reva? Kau keberatan?" tanyanya.


Reva mengangguk. "Apa semua siswa diharuskan pergi ke sana?" ia balik bertanya.


Pak Ivan tersenyum, mengangguk. "Kunjungan ini bukan hanya sebagai rekreasi, tapi juga bisa menambah pengetahuan. Jadi semua siswa diharuskan untuk mengikutinya."


Reva merengut. "Baiklah, Pak."


"Karena siswa di sekolah ini cukup banyak, maka kami membaginya dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri atas dua kelas. Jadi, tiap kelompok akan pergi pada waktu yang berbeda. Kebetulan kelas ini mendapat jadwal siang dan Bapak yang menjadi pembinanya," jelas Pak Ivan lagi.


Edward mengangkat tangannya. "Pak, apa kita hanya akan pergi ke museumnya saja? Bapak bilang kita berekreasi."


Pak Ivan tertawa kecil. "Kita lihat kondisi waktu nanti. Kalau masih sempat, kita akan berkeliling di Semala. Jadi, persiapkan diri kalian untuk minggu depan."


"Siap, Pak," jawab siswa di kelas secara serentak.


Kunjungan yang ditunggu oleh semua siswa adalah kunjungan yang tidak terlalu menarik bagi Reva. Dia paling anti dengan yang namanya perjalanan panjang. Baginya itu hanya akan menguras tenaga.


Ia menunduk, mengepalkan tangannya. Sentuhan ringan di kepalanya membuatnya terkejut.


"Ah, Vian. Aku pikir siapa," ucapnya pelan.


"Mengapa kau tidak senang? Bukannya kita sekelas akan rekreasi? Harusnya ini menggembirakan," tanya Vian.


"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak terbiasa perjalanan jauh," jawab Reva.


"Kapan lagi kita akan rekreasi sekelasan? Dijamin pasti seru," sahutnya lagi.


Reva menarik napas, lalu mengembuskannya. "Benar juga. Aku akan mencoba untuk menikmatinya."


Reva tidak menyangka. Dalam waktu yang dekat, ia akan pergi ke Semala. Meskipun kedengarannya menarik, ia tetap tidak senang seperti temannya yang lain. Entah mengapa, seperti ada sebuah kenangan buruk mengenai tempat itu. Lebih disayangkan lagi, ia tak bisa mengetahui kenangan itu.


"Apa masih ada pertanyaan lagi?" tanya Pak Ivan.

__ADS_1


Para siswa menggeleng. "Tidak ada, Pak," jawabnya serentak.


"Baiklah. Kalau begitu kita lanjutkan pelajaran kita."


__ADS_2