Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
23 | DUA ORANG BERBEDA


__ADS_3

Esok harinya di dalam kelas. Embun membungkus sekolah, matahari berlindung dari balik awan.


Vian menepuk meja Kevin, membuatnya terkejut.


"Kevin, aku perlu keteranganmu," kata Vian.


Kevin menaikkan alisnya, menatap Vian cukup lama. "Keterangan apa yang kau perlukan? Katakan."


"Kalau aku tidak salah ingat, beberapa hari yang lalu kau pernah mengatakan kalau ayahnya Reva sudah meninggal. Bukankah begitu?" tanya Vian.


Kevin berdehem. "Ya, memangnya ada apa?"


"Apa kau tahu penyebab ayahnya meninggal?"


Kevin menghela napas panjang, menggeleng. "Bukannya aku sudah memberi tahumu kalau si Erva itu sejak SMP tidak suka bergaul dengan siapa pun. Dia sangat dingin, cuek, dan sedikit misterius. Mengenai ayahnya yang meninggal itu, aku kurang tahu," jelasnya.


Ia kemudian menatap ke langit-langit kelas yang beewarna putih dengan bintik-bintik hitam yang menempel.


"Anak pemurung seperti dia, mungkin pernah mengalami kecelakaan besar yang membuatnya trauma."


Kevin membuka matanya, buru-buru menepuk mejanya dengan keras. "Itu dia!" teriaknya.


Vian tercengang, mengerutkan kening, menatap Kevin. "Apa yang kau maksud? "


Kevin balas menatapnya, lalu mendengus. "Kecelakaan. Sepertinya ada sebuah kecelakaan besar yang membuat ayah Erva meninggal. Mungkin dari kecelakaan itu juga dia menjadi trauma. Akhirnya dia menjadi anak yang tertutup, pendiam, dan antisosial. Apa lagi aku pernah melihatnya ke psikiater. Dia pasti punya trauma akut," jelas Kevin.


Vian masih mengerutkan dahinya. Matanya seolah meragukan kata-kata Kevin. "Bukannya kau pernah bilang kalau Erva itu berkepribadian ganda?"


"Ah, kesampingkan dulu permasalahan itu. Itu hanya dugaan sementara. Tapi sepertinya yang lebih masuk akal, dia ke psikiater untuk konsultasi mengenai traumanya. Aku yakin itu," sahut Kevin dengan penuh percaya diri. Senyum mengembang di wajahnya.


Vian memegangi dagunya sambil berpikir. Bola matanya bolak-balik menatap Kevin. "Memang ada benarnya. Kecelakaan itu bisa membuat orang lain trauma, apa lagi dia sampai kehilangan ayahnya."


Kevin menepuk-nepuk bahu Vian. "Tentu saja. Tapi untuk apa kau menanyakan hal ini?"


"Untuk mencari tahu tentang Reva. Sepertinya dia hilang ingatan ada hubungannya dengan kecelakaan itu. Ayahku juga pernah bilang, amnesia bisa terjadi jika kecelakaan besar menyebabkan kerusakan pada otak bagian hippocampus," jawab Vian.


Kevin mengernyitkan alisnya, sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Aku jadi bingung. Kau menyebutkan nama Reva, tapi aku menyebutkan nama Erva. Mana yang benar?"


"Dua-duanya benar. Mereka itu sepertinya memang saudara kembar yang terpisah."


Kevin tercengang. "Terpisah? Ada-ada saja. Dia itu tidak punya saudara kembar. Aku sejak SMP satu sekolah, bahkan sekelas dengannya. Tidak mungkin dia itu kembar. Aku tidak pernah melihat kembarannya."

__ADS_1


"Tentu saja tidak ada karena kembarannya ada di sini. Kembarannya itu Reva," balas Vian tak mau kalah.


"Memangnya kau satu SMP dengan dia? Kau saja tidak tahu," sahut Kevin.


Pintu kelas terbuka, memperlihatkan Bella yang berdiri di depannya. Kedua tangannya dilipat di depan dada, kaki menyilang, alisnya dinaikkan. "Apa yang kalian bicarakan sampai ribut begitu?" tanyanya.


Vian dan Kevin menatapnya bersamaan.


"Nah, itu yang satu SMP dengan dia!" tunjuk Vian.


Bella melukis ekspresi yang semakin heran. "Siapa yang satu SMP dengan siapa?" tanyanya.


"Bel, kau satu SMP dengan Reva, kan?"


Bella mengangguk.


"Kalian SMP di Shomba, kan?"


Bella diam sejenak, lalu mengangguk.


Vian tersenyum, lalu menjulurkan lidahnya pada Kevin. "Apa kubilang? Reva, ya Reva. Bukan Erva. Ini sudah membuktikan kalau Reva dan Erva itu dua orang yang berbeda."


Bella membanting pintu dengan kuat. "Tunggu dulu. Apa yang kalian maksud? Reva dan Erva? Dua kembar yang terpisah?" tanyanya.


Vian dan Kevin terdiam. Matanya berkedip melihat Bella.


"Kalau penasaran, kemari. Jangan banting pintu itu! Nanti rusak, kau tidak bisa menggantinya. Selain itu, pasti aku yang bakal disalahkan," ujar Vian dengan wajah cemberut.


"Iya, iya, maaf."


Bella bergabung dengan mereka. "Jelaskan apa yang kalian maksud dengan dua kembar terpisah!"


Kevin menyeringai. "Pertanyaannya, sudah mirip seperti soal esai yang ada di ulangan harian. Jelaskan apa yang dimaksud dengan bla bla bla," ledeknya.


Bella mengepalkan tangannya. Matanya menatap Kevin dengan tajam. Dadanya naik-turun. Dalam sekejap ia emosi, seperti ada asap di kepalanya.


"B-Bella, dia hanya bercanda. Tolong jangan dimasukkan ke hati," kata Vian sambil berusaha menenangkan Bella.


Bella balik menatapnya tajam. "Kau juga sama sepertinya."


Vian menyatukan dua telapak tangannya. Badannya sedikit menunduk. "Ampun, kami laki-laki memang salah," ucapnya.

__ADS_1


Kevin ingin melawannya, tapi ditahan oleh Vian. "S-Sabar, Kevin. Orang sabar disayang Tuhan," bisiknya.


Bella menyimpul senyum. "Baguslah kalau sadar diri. Mengenai dua kembar yang kalian maksud, aku ingin tahu. Sekarang beri tahu aku."


"Jadi, begini. Kau dan Reva memang satu SMP, kan?" tanya Vian.


Bella mengangguk kuat. "Kau mengulangi pertanyaanmu."


"Kapan?"


"Kalau tidak percaya, scroll ke atas," jawab Bella sambil menaikkan telunjuknya.


"Iya, iya. Hanya untuk memastikan. Sejak kapan kau berteman dengan Reva?" tanya Vian lagi.


Bella berpikir sejenak. "Sejak kapan? Kalau ditanya seperti itu, kami sejak kecil sudah berteman. Kalau tidak salah, sekitar umur 8 tahun. Oh benar, 8 tahun. Sejak itulah kami berteman," jawabnya.


"Baiklah. Giliranmu, Kevin. Kau satu sekolah dengan seseorang yang bernama Erva. Bahkan kau sekelas dengannya. Sejak kau pindah ke kelas ini, kau selalu menyebut Reva dengan nama Erva."


"Tentu saja. Sudah pasti dia adalah Erva, sekelasku waktu SMP."


Bella menarik dasi Kevin. "Hei, dia itu Reva, bukan Erva. Dia juga sekelas denganku waktu SMP. Dan lagi, dia tidak mengenalmu sebelumnya."


Vian menepuk meja, mendiamkan mereka. "Baik, sudah tenang. Gunakan otak kalian. Di satu sisi, Kevin bilang dia pernah sekelas dengan gadis bernama Erva di Semala. Di sisi lain, Bella juga mengaku pernah sekelas dengan Reva di Shomba. Apa kalian sudah mengerti apa kesimpulan yang bisa diambil?"


"Reva dan Erva sudah pasti dua orang yang berbeda," balas Bella.


Vian menepuk tangannya. "Sangat pintar. Itu dia jawabannya. Erva dan Reva adalah dua orang yang berbeda. Tapi yang lebih mengejutkan, ketika Kevin pertama kali melihat Reva, dia memanggilnya dengan nama Erva. Kira-kira apa penyebabnya?"


Kevin mengangkat tangannya. "Aku memanggilnya dengan nama itu karena mengira dia adalah teman SMP-ku. Tapi tidak terduga, dia tiba-tiba sakit kepala ketika kupanggil begitu."


Vian mengangguk-angguk. "Ya, begitu. Apa yang bisa kau simpulkan, Bel?"


Bella mengusap-usap dagunya. "Reva dan Erva adalah dua orang yang berbeda. Lalu Kevin memanggil Reva dengan nama Erva, karena mengira dia adalah teman SMP-nya dulu," gumamnya. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya, memasang ekspresi terkejut. "Artinya, Reva dan Erva punya wajah yang mirip!"


"Benar. Walaupun aku belum pernah melihat wajah Erva. Apa kau punya fotonya?" tanya Vian.


Kevin berpikir sejenak. "Fotonya, ya? Mungkin ada, tapi hanya foto kelulusan."


"Bagus. Bawa foto itu pada kami."


Kevin berdehem. "Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2