
Beberapa hari berikutnya. Hari kunjungan ke Semala akhirnya tiba. Jadwal keberangkatan kelas Reva adalah siang, tepatnya pukul 13.00.
Mereka tetap pergi ke sekolah dengan mengenakan seragam, seperti hari-hari biasanya.
Vian memperhatikan Reva sambil mengukir senyum ke arahnya. Sementara Reva mengernyitkan alisnya.
"Ada apa denganmu?" tanyanya.
Vian masih tersenyum, menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya lihat, kau tampil berbeda, ya, hari ini."
Reva buru-buru memeriksa rambutnya. Hari ini ia menguncir rambutnya. "Oh, ini rupanya. Apa terlihat aneh?"
Vian menggeleng lagi, sambil mengacungkan jempol. "Tidak sama sekali. Tetap cantik seperti biasanya. Tapi kalau kemarin nilai cantiknya seratus persen, sekarang 101 persen."
Reva menyembunyikan wajahnya. "Memangnya ada persentasenya sampai segitu?"
"Tentu saja ada. Aku yang buat khusus buatmu."
"Apa kalian semua sudah siap?" tanya Bella yang dijawab dengan anggukan kepala dari beberapa temannya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya.
"Semuanya lihat ke sini! Reva, Vian, Kevin, ayo senyum!" suruh Bella.
"Aku tidak mau berfoto bertiga. Nanti yang paling muda, mati lebih dulu," kata Reva.
Vian dan Kevin saling tatap.
"Vin, tanggal berapa kau lahir?" tanya Vian.
"Tanggal 3," jawab Kevin.
"Lengkap-lengkap!" bentak Vian.
"Kau bilang tanggal. Ya sudah, aku sebutkan tanggalnya saja," jawab Kevin lagi.
Vian menarik napas panjang. "Sabar, Vian. Ini ujian. Tapi dia tidak salah juga," katanya pada diri sendiri. Ia kembali melihat Kevin. "Kapan tanggal, bulan, dan tahun kau lahir?"
"3 Oktober 2003," jawab Kevin.
__ADS_1
"Aku 9 Januari 2003," sahut Vian.
"Kalau aku 2 April 2003," kata Reva.
Vian menyimpul senyum. "Aman. Kau tidak akan mati lebih dulu. Karena Kevin yang paling muda, maka dia yang lebih dulu mati."
"Enak saja. Aku tidak mau," tolak Kevin.
"Aduh, kalian banyak tingkah. Sudah, sudah, biar aku ikut berfoto," sahut Bella. Ia memanggil Edward yang lewat untuk bantu mengambil foto.
"Kalau jelek, kepalamu kupenggal!" ancam Bella.
Edward mendengus. "Sudah menyuruh, mengancam lagi." Ia mengarahkan kamera ke depan.
"1... 2... 3..."
CKREKK!!!
"Bagus. Aku akui bakatmu sebagai fotografer," kata Bella sambil tersenyum melihat hasil fotonya.
Vian melihat jam tangannya, sudah hampir waktunya berangkat. "Semuanya berkumpul di depan kelas. Sebentar lagi kita berangkat," katanya.
"Sudah siap, Pak. Saya sudah mengabsen semuanya. Tidak ada yang tertinggal," jawab Vian.
Pak Ivan mengangguk. "Kalau begitu langsung ke depan sekolah saja. Bus yang menuju ke Semala sudah siap."
Mereka pergi ke halaman depan sekolah, mendapati sebuah bus parkir di sana. Satu per satu mereka memasuki bus itu.
"Reva, kau ambil tempat duduk di mana?" tanya Vian.
Bella buru-buru memegang tangan Reva. Ia menjulurkan lidah ke arah Vian. "Maaf, Anda kurang cepat dari saya. Hari ini aku ingin duduk dekat dengan Reva. Kau tidak aku izinkan untuk merebut Reva dariku."
"Ya, sudah. Masih ada Kevin yang jadi teman sebangkuku." Vian menyikut Kevin yang berdiri di sebelahnya. "Iya, kan, Kevin?"
Kevin hanya berdehem. "Apa-apa saja asalkan kita sampai ke sana."
Vian tertawa, menepuk-nepuk pundak Kevin. "Tentu saja."
__ADS_1
"Ah, ada satu hal yang ingin aku pinta," kata Kevin sambil mengacungkan telunjuknya.
Vian mengangkat alis, mempersilakan Kevin untuk melanjutkan kata-katanya.
"Aku ingin duduk di dekat jendela," ucapnya pelan.
"Silakan."
Mereka berempat duduk berdekatan. Sesuai perjanjian, Kevin duduk di dekat jendela. Di depannya ada Bella yang juga duduk di dekat jendela.
"Hei, kira-kira perjalanan ke sana memakan waktu berapa lama?" tanya Bella. Ia bersandar pada bangku bus.
"Biasanya sekitar satu jam setengah," jawab Kevin. "Ya, tapi semuanya tergantung dari Pak Sopir dan jalanan yang dilalui. Kalau banyak jerawatnya, pasti kita sampai lebih lama."
"Memangnya jalanan di sana sangat jelek?" Reva bertanya.
Kevin berdehem. "Bukan jelek, tapi sangat parah. Kau akan menemukan jalan mulus ketika sudah dekat dengan Semala."
"Ya. Padahal kalau melalui jalur perairan, jarak antara Shomba dan Semala tidak sejauh itu," sambung Vian.
***
Di pertengahan jalan menuju Semala. Bus serasa berguncang. Mereka yang tidur di dalam bus, kepalanya menghantam jendela bus.
"Aduh, kepalaku," rintih Bella. Ia mengusap-usap kepalanya. Di bahunya, Reva bersandar, masih tidur nyenyak.
"Dia tidur nyenyak sekali," gumam Bella.
Vian memukul-mukul bangku Bella. "Bel, kau sudah bangun?"
Bella berdehem. "Baru saja. Apa masih jauh perjalanan kita? Kepalaku baru saja terhantuk di jendela bus ini. Lumayan sakit juga. Sekarang Reva juga ikut bersandar di bahuku."
"Keadaanmu jauh lebih baik. Coba kau lihat aku. Dijamin lebih sial dari kau," kata Vian.
Bella menyandarkan kepala Reva ke bangku bus, lalu berbalik badan untuk melihat keadaan Vian.
Wajah Vian datar, sedangkan di sebelahnya Kevin tengah tertidur sambil memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Bella menutup mulutnya sambil tertawa. "Kau memang yang lebih sial. Harap bersabar, ini ujian."