
MULAI SEKARANG AUTHOR BAKALAN UP 3 HARI SEKALI YA, DIKARENAKAN OTAK AUTHOR MULAI TUMPUL, KEHABISAN IDE😭
Tapi tenang, author bakalan tetap dukung novel kalian kok.
***
Sembilan tahun yang lalu.
Langit menghitam, pertanda sebentar lagi akan menurunkan air deras. Angin pun sudah memberikan pesan, pesan datangnya hujan.
“Ayah, kita akan pergi ke mana?” tanya salah seorang gadis kecil, Reva. Ia memeluk boneka beruang.
“Kita akan pergi menjemput Ibu di kota sebelah. Dia pasti sedang menunggu kalian,” jawab pria berkacamata yang merupakan ayahnya, Alfred.
Erva menyikut Reva. “Apa kau takut, Reva?”
Reva menggeleng kuat-kuat. “Memangnya siapa yang takut?”
Garis putih melintang di langit. Tak lama terdengar suara petir menggelegar. Reva berteriak, buru-buru memeluk ayahnya.
“Siapa tadi yang mengaku tidak takut?” ledek Erva.
Kepala Reva menyembul dari tubuh ayahnya. “Kalau tidak ada petir, aku tidak takut.”
“Dasar lemah.”
“Sudah. Sekarang masuklah ke mobil. Siapa yang mau duduk di kursi depan?” tanya Alfred.
Reva mengangkat tangannya dengan segera. “Reva! Reva!” teriaknya.
Langit semakin menghitam. Gemuruh bersahut-sahutan memecah langit. Rintikan-rintikan hujan mulai mengetuk atap mobil mereka.
Tubuh Reva bergetar. Sesekali ia melihat ke luar jendela, namun yang ia temui hanyalah cahaya putih yang diikuti petir.
__ADS_1
“Ayah, aku takut,” lirihnya. Ia mendekat boneka beruangnya dengan erat.
“Kalau kau takut, kau bisa mencoba untuk tidur seperti yang dilakukan Erva,” jawab ayahnya yang masih fokus menyetir.
Pandangannya tak teralihkan sedikit pun.
Hujan semakin deras, bahkan membuat jarak pandang menjadi terbatas. Reva melihat ke kursi belakang, mendapati saudara kembarnya tengah tertidur.
“Tapi—“
Petir kembali menyambar. Kali ini suaranya lebih dahsyat dari pada yang sebelumnya. Reva berteriak, membangunkan Erva.
“Emmm… Apa kita sudah sampai?” tanyanya. Erva masih setengah sadar. Ia mengusap-usap matanya.
“Kita sudah di pertengahan perjalanan,” jawab ayahnya.
“Sudah, kau jangan takut, Reva. Kalau kita sudah sampai, kita pasti akan memberikan kejutan untuk Ibu,” kata Erva, berusaha menenangkan kembarannya. “Coba bayangkan bagaimana ekspresi Ibu nanti.”
Reva menelan ludah, mengangguk.
“Sekarang masih siang. Tapi hujan deras ini yang membuat seolah-olah sudah malam,” jawab Alfred.
Dari arah yang berlawanan, sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi.
“Ayah, ada yang menyala di depan sana,” kata Reva seraya menunjuk ke depan.
Alfred memicingkan matanya. “Ayah tidak bisa melihatnya dengan jelas. Air hujan menutupi kaca mobil ini.”
“Awas!”
Hujan adalah masalah utamanya. Tabrakan itu tak bisa terelakkan. Kecelakaan besar itu terjadi di tanjakan, tempat yang rawan sekali kecelakaan.
Dalam peristiwa itu, pecahan kaca mobil menusuk Alfred. Reva yang duduk di bangku depan juga terkena imbasnya. Kepalanya membentur kaca mobil, membuat darah tak henti-hentinya mengalir dari kepalanya. Pintu mobil di sebelah Reva terbuka, membuatnya ikut terjatuh ke dalam jurang yang di bawahnya adalah air.
__ADS_1
Sementara Erva terdorong ke depan.
Mobil yang mereka naiki, penuh dengan darah. Peristiwa ini merenggut nyawa Alfred. Sementara Reva yang keberadaannya tidak ditemukan, dinyatakan telah meninggal. Hanya Erva satu-satunya yang diyakini sebagai orang yang selamat. Meskipun ia juga mengalami luka berat akibat insiden itu.
Beberapa hari setelah keadaan Erva membaik, ia hanya mendapati ibunya yang menangis di ruang keluarga. Ia memeluk sebuah foto, foto mereka.
“Ibu, di mana Reva? Ayah sudah tidak ada?” tanyanya.
Ibunya menggangguk pelan, masih terus menangis. “Ibu tidak tahu. Sekarang Reva menghilang.”
Erva terdiam. Ia melihat perban-perban yang membalut lukanya. Matanya digenangi air mata. “Tidak mungkin. Reva pasti masih hidup, Bu. Dia masih hidup.”
Ibu mereka selalu murung setelah kejadian itu. Berhari-hari ia mengurung dirinya di kamar. Pernah ia ke luar, menghadap jurang tempat Reva terjatuh. Hingga tepat setelah sebulan peristiwa itu, akhirnya ia bisa sedikit mengikhlaskan kepergian orang-orang tercintanya. Ia fokus bekerja, menggantikan tanggung jawab suaminya, menghidupi putri satu-satunya, Erva.
Sementara itu, kecelakaan itu membawa dampak besar bagi perkembangan mental Erva. Dia mengalami trauma berat. Oleh karena itu, ia menjadi anak yang tertutup dan selalu terlihat murung. Di dalam hatinya, ia selalu yakin, saudaranya masih hidup.
***
“Sepeninggal Ayah dan Reva, Ibu selalu mengurung diri di kamar. Kadang aku melihatnya sedang menangis sambil melihat foto mereka. Hingga akhirnya Ibu kembali bangkit. Dia menggantikan peran Ayah sebagai kepala keluarga. Dia terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Ibu sudah berusaha sangat keras,” jelas Erva. “Sekarang pun Ibu sangat sibuk bekerja. Tidak jarang dia lembur. Bagiku, kesepian seperti ini sudah biasa.”
Bulu mata Erva dibasahi air mata. “Aku sangat senang sewaktu melihat Reva benar-benar muncul di hadapanku. Saudariku yang sudah lama menghilang, yang sudah dianggap tiada, benar-benar ada bersamaku sekarang. Ini seperti mimpi saja. Tapi aku juga merasa sedih karena dia tidak mengenaliku sama sekali.”
“Reva pasti bisa mengingatnya. Tapi semuanya butuh waktu,” sahut Kevin.
“Kau benar.” Erva mengerutkan dahinya menatap Kevin. “Kalau tidak salah, namamu adalah Kevin Ardhana. Betul?”
Kevin mengangguk. “Ternyata kau tahu namaku, bahkan masih mengingatnya.”
“Ya, hanya sedikit nama yang bisa kuingat sewaktu SMP,” balas Erva. “Oh iya, sebenarnya apa yang kalian lakukan di Semala? Kalian datang dari mana?”
“Kami dari Shomba. Sekolah kami, SMA 3 Shomba mengadakan kunjungan ke museum Semala,” jawab Vian.
"Sebentar lagi kami akan kembali ke sekolah."
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan Reva?" tanya Bella.
"Aku sudah lebih baik." Reva mendadak bangun. Ia mencoba duduk, menatap mereka satu per satu. "Aku ikut pulang ke Shomba."