Dua Kembar Terpisah

Dua Kembar Terpisah
22 | VIAN MENCARI INFORMASI


__ADS_3

Di sebuah kamar berukuran kecil.


“Ya ampun! Mengapa tidak dari dulu aku kepikiran begitu?” teriak Vian dari dalam kamar. Dengan segera ia berlari keluar kamar, mencari ayahnya.“Ayah! Ayah! Ayah!”


“Aduh, anak ini daritadi teriak-teriak. Memangnya ada apa?” gerutu Nadia, kakak perempuan Vian.


“Ayah di mana? Ini penting,” Vian balik bertanya.


“Ayah di luar,” jawabnya sambil memasang wajah kesal.


Vian langsung berlari keluar rumah, mendapati dr. Ryan, ayahnya tengah menikmati seduhan teh manis.


“Ada apa? Teriakanmu itu kedengaran sampai di luar.”


Vian tertawa sembari berjalan mendekati ayahnya. "Aku mencari Ayah. Ada yang ingin aku tanyakan,”kata Vian langsung mengutarakan maksudnya.


Ayahnya menyeruput teh di cangkir. “Tanyakan saja.”


“Aku ingin menanyakan sesuatu mengenai amnesia. Ayah seorang dokter, tentu saja tahu penjelasan penyakit ini, kan?”


“Amnesia, tentu saja. Kondisi ini ditandai dengan hilangnya kemampuan memori seseorang sehingga tidak bisa mengingat pengalaman di masa lalu, sulit membuat ingatan baru, atau bahkan keduanya. Hal ini karena adanya kerusakan pada struktur otak yang membentuk sistem limbik, yang merupakan pengendali emosi dan ingatan. Meskipun tidak mampu mengingat, tapi penderita amnesia masih bisa mempertahankan kemampuan motoriknya, seperti berjalan atau berbicara.”


“Lalu apa yang menyebabkan amnesia ini?” tanya Vian semakin serius. Dari matanya terlihat sekali ia begitu penasaran.


“Amnesia bisa terjadi karena adanya cedera kepala, penyakit yang memengaruhi otak, demensia, anoksia, kerusakan hippocampus, penggunaan alkohol dan obat-obatan tertentu, atau trauma.”


“Apa mungkin kecelakaan bisa menyebabkan amnesia?”


tanya Vian lagi.


Ayahnya mengangguk. “Boleh jadi. Jika kecelakaan besar terjadi hingga menyebabkan kerusakan pada hippocampus (bagian otak dan sistem limbic yang mengendalikan ingatan), maka bisa saja terjadi amnesia. Berbicara mengenai amnesia, mengingatkanku pada seorang pasien di rumah sakit. Dia anak perempuan yang masih kecil, sepertinya seumuran denganmu,” terang Ayahnya.


Vian tersentak, langsung memegangi tangan Ayahnya. “Apa? Pasien amnesia? Apa kejadiannya di tahun 2011?”


tanya Vian langsung.


“Ayah tidak begitu mengingatnya. Identitasnya juga tidak begitu Ayah ketahui. Memangnya ada apa?” Ayahnya balik bertanya.


“Di kelasku ada juga seorang perempuan. Sepertinya ia mengalami amnesia. Dia juga pernah dirawat di rumah sakit saat berusia delapan tahun. Apa mungkin dia adalah anak yang amnesia itu?”


“Mungkin saja.”


“Ayah, apakah Ayah bisa membantuku untuk mencari informasi anak yang amnesia delapan tahun lalu? Aku sangat membutuhkan informasi itu,”pinta Vian.


Ayahnya membuka mata. “Untuk apa?”


“Aku ingin membantu dia menyelesaikan masalahnya. Lagi pula dia itu calon pacarku. Apa Ayah tidak mau membantuku?”


“Calon pacarmu? Ternyata kau bisa juga menyukai perempuan. Apa dia gadis berjakun? Atau suaranya berat sepertimu?” goda Ayahnya sambil tertawa.


Vian memasang wajah datar. “Ayah, aku serius. Dia itu perempuan, bukan laki-laki jadi-jadian. Dia juga yang waktu itu membantuku mencarikan hadiah untuk kakak. Apa Ayah tidak mau mendukung percintaanku dengannya?”

__ADS_1


Ia memohon pada ayahnya sambil memperlihatkan wajah memelas.


“Hentikan ekspresi menjijikkan itu," sambar Ayahnya. "Kalau kau sudah memohon begini apa boleh buat. Lagi pula sepertinya kau sangat menyukainya? Apa dia juga menyukaimu? Jangan-jangan kau bertepuk sebelah tangan,” goda Ayahnya lagi.


“Tidak tahu, Ayah. Tapi nanti aku pasti akan menembaknya,” jawab Vian sambil membentuk tembakan menggunakan jari-jemarinya, lalu ditembakkannya ke langit. “Lalu dia tidak boleh menolakku. Kalau dia tolak, aku tembak lagi sampai dapat.”


Ayahnya tertawa. “Baiklah, baiklah. Ayah akan membantumu. Tapi akhir-akhir ini jadwal operasi juga banyak, belum lagi memeriksa pasien, hampir tak ada waktu istirahat. Bagaimana kalau kau juga ikut ke rumah sakit untuk mencari informasi itu?”


“Ide bagus. Aku akan ikut Ayah.”


***


Esok harinya berjalan sesuai rencana. Vian pergi ke rumah sakit bersama ayahnya.


“Tempat ini sudah banyak berubah sejak terakhir kali aku ke sini,” kata Vian pada ayahnya sambil melihat-lihat isi rumah sakit.


“Tentu saja. Terakhir kali kau ke sini saat berumur sembilan tahun.”


“Iya. Apa banyak petugas baru di sini?”


“Iya, banyak juga dokter baru. Ikutlah dengan Ayah untuk mencari informasi yang kau butuhkan.”


Vian dan ayahnya melewati sebuah lorong tak jauh dari pintu masuk utama rumah sakit. Di lorong itu terdapat beberapa pintu. Mereka terus menuju pintu ketiga dari lorong, letaknya di sebelah kanan. Di pintu itu terdapat plang bertuliskan “Pusat Informasi.”


“Apa ini tempatnya?” tanya Vian sambil memperhatikan sekelilingnya.


“Iya,” jawab ayahnya singkat.


“Selamat siang, Hana,” sapa ayah Vian.


“Oh, selamat siang dr. Ryan,” balas wanita yang bernama Hana itu sambil berdiri. Ia kemudian memandangi Vian yang berdiri di sebelah ayahnya. “Siapa yang berdiri di sebelah Anda?”


“Oh, ini Alvian, anak keduaku,” jawab dr. Ryan, menepuk-nepuk punggung Vian. “Beri salam padanya,” bisiknya.


“Selamat siang,” ucap Vian.


“Hana, anakku ada keperluan di ruangan ini. Kebetulan aku ada jadwal operasi sebentar lagi. Bisakah kau membantunya untuk mencari informasi itu?”


Hana mengangguk tanda mengiyakan. “Baiklah. Saya akan membantunya.”


Dr. Ryan tersenyum. Ia kemudian berbicara sebentar dengan Vian, lalu pergi meninggalkan mereka.


“Ya, Alvian, apa yang ingin kau cari di sini?” tanya Hana.


“Oh, Nona Hana, aku ingin mencari informasi dari pasien yang amnesia, kejadiannya delapan tahun yang lalu. Dia seorang anak perempuan yang masih kecil,” jawab Vian.


“Cukup panggil aku dengan nama Hana.” Hana berpikir sejenak, ia mengetuk-ngetukkan penanya ke kepala. “Sepertinya aku pernah dengar tentang itu,” sambungnya. Ia beranjak dari kursinya, menuju sebuah rak tak jauh dari mejanya.


Vian mengikutinya dari belakang.


“Benarkah? Apa kau juga tahu kasus ini?” tanya Vian.

__ADS_1


Hana mengangguk. Matanya memburu setiap folder yang berada di rak itu. “Bukankah kau pernah dirawat di sini karena kakimu patah?”


Vian mengangguk. “Iya, tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanya Vian lagi.


“Aku sudah bekerja di sini selama sepuluh tahun. Saat itu kau masih kecil, mengalami patah tulang di kaki. Tidak terasa kau sudah beranjak dewasa. Nampaknya kakimu sudah baik,” jawab Hana sambil melirik kaki kanan Vian. Ia mengambil sebuah folder dari rak itu.


“Tentu saja. Folder apa itu?” Vian mendekati Hana, melihat folder yang baru saja dikeluarkan Hana dari rak.


Hana masih terlihat memilah-milah dokumen yang ada di dalamnya. “Ini adalah folder tahun 2011 di bulan Januari. Informasi yang kau butuhkan ada di rak ini. Tapi mengenai bulan kejadiannya, aku tidak begitu ingat. Kurasa kita harus mencarinya satu per satu dari semua folder di rak ini. Apa kau mau membantuku mencarinya?”


Vian mengangguk cepat. Ia mengambil sebuah folder di bulan Februari, lalu membukanya. Ia menemukan ada banyak sekali dokumen di dalamnya. Ia memilah kertas itu satu per satu untuk mencari informasi Reva. “Aku sampai lupa. Nama pasien itu adalah Reva.”


“Baik, dimengerti,” jawab Hana yang masih fokus memilah data. “Apa kau tahu? Pasien itu sangat mengkhawatirkan. Di tengah malam, ketika suasana sangat sunyi, tiba-tiba ada dua orang pria yang mengantar anak perempuan itu. Badannya basah kuyup, kepalanya terus mengeluarkan darah. Banyak yang mengira anak itu telah meninggal,” jelas Hana.


Vian berhenti sejenak. “Dua orang pria? Siapa mereka?”


“Sepertinya polisi. Beruntung anak itu diselamatkan oleh mereka,” jawab Hana.


Setengah jam berlalu. Hana telah selesai memeriksa dua folder, tapi belum menemukan informasi yang dimaksud. Sedangkan Vian baru memeriksa satu folder lebih. Masih sama, ia belum menemukan informasi yang dimaksud.


“Aku tidak tahu kalau memeriksa informasi seperti ini akan memakan waktu yang lama,” keluh Vian sambil terus memilah-milah dokumen.


Hana memandangnya, tertawa kecil. “Memang seperti itu. Setiap pasien yang berobat kemari, informasinya akan disimpan ke sini. Makanya tidak salah kalau satu folder ini memuat banyak sekali dokumen.”


“Ya, kau benar. Tapi apa aku mengganggu pekerjaanmu hari ini, Hana? Kalau kau sibuk, kembalilah pada pekerjaanmu. Aku akan mencarinya sendiri.”


“Tidak masalah. Pekerjaanku hanya mencatat dan menyusun informasi setiap pasien. Aku bisa melakukannya nanti,” jawab Hana.


Mereka terus mencari informasi dari folder-folder yang berada di rak itu.


“Vian, kau bilang nama anak itu adalah Reva?” tanya Hana. Ia mengambil sebuah kertas, membacanya dengan teliti.


Vian menghentikan pekerjaannya. Ia menatap Hana lalu mengangguk. “Ada apa?” ia balik bertanya.


“Apa mungkin yang kau maksud adalah ini?” tanya Hana. Ia memperlihatkan secarik kertas kepada Vian.


Vian bergerak ke arahnya, ikut membaca tulisan di kertas itu. “Reva? Benar. Ini informasi yang kubutuhkan,” jawabnya. Ia mengambil kertas itu dari Hana, membacanya dengan teliti. Matanya tertuju pada sebuah tanggal, saat peristiwa itu terjadi. Di sana tertulis 2 Mei 2011.


“Kejadian ini berlangsung pada bulan Mei di tahun 2011,” sambung Hana. "Anak itu terancam nyawanya. Ia kehilangan banyak darah, golongan darah O. Kebetulan pihak rumah sakit kehabisan stok darah itu. Sedangkan tidak ada yang memiliki golongan darah O, bahkan kedua orangtuanya. Ibunya golongan darah B, sedangkan ayahnya AB. Tidak ada yang cocok,” tambah Hana.


“Orang tuanya?” Vian kembali membaca dokumen itu dan menemukan nama Anggita Nanda, ibu Reva. “Lalu bagaimana?”


“Saat kondisi sangat kacau, salah satu polisi yang membawa pasien langsung bergegas membawa istrinya ke rumah sakit. Ternyata benar, istrinya bergolongan darah O. Nyawa anak itu tertolong,” jelas Hana.


“Siapa nama polisi penolong itu, Hana?”


“Evanda, dan orang yang mendonorkan darah untuk anak itu adalah istrinya, Melisya,” jawab Hana.


Vian tersentak, menyadari sesuatu. “Seperti cerita Reva, ayahnya dan ayah Bella adalah polisi penjaga. Apa mungkin salah satu polisi yang menolong Reva adalah ayahnya Bella? Saat itu Bella juga berada di rumah sakit. Sepertinya ini ada hubungannya,”pikir Vian.


“Hana, terimakasih banyak sudah meluangkan waktumu untuk membantuku mencari informasi ini. Sebagai gantinya, aku akan membantumu menyelesaikan pekerjaan hari ini.”

__ADS_1


__ADS_2