
Hayo tebak potongan kue pertama Ayuna akan diberikan pada siapa?
Ayuna membawa potongan kue pertamanya ke Aliyah. Bima cukup terkejut tapi lagi-lagi ia hanya tersenyum dalam hati, yang penting anakku bahagia biarpun potongan kue pertamanya bukan untukku.
"Kakak Cantik, ini potongan kue yang pertama buat Kakak," kata Ayuna sambil menyuapkan potongan kue ke mulut Aliyah.
"Ayuna, kenapa potongan kue yang pertama tidak di berikan kepada Papa?" tanya Aliyah sebelum memakan kue dari Ayuna itu.
"Papa, apakah Papa marah jika Yuna memberikan kue potongan pertama kepada Kakak Cantik?" Yuna menatap sang Papa dengan tatapan sangat manis.
"Tidak nak," jawab Bima dengan senang hati.
Ayuna kembali menatap Aliyah, lalu ia tersenyum sama Aliyah.
"Papa tidak marah Kakak Cantik," ujar Ayuna sangat menggemaskan.
Akhirnya Aliyah menerima suapan kue itu dari Ayuna, tidak lupa Aliyah juga mendoakan Ayuna agar sehat selalu dan menjadi anak yang patuh kepada kedua orang tuanya.
"Sekarang baru giliran Papa," dengan hati-hati Ayuna berjalan ke tempat Bima berdiri.
"Papa, ini suapan kedua untuk Papa, tapi sendoknya bekas Kakak Cantik tidak apa-apa ya Pa," kata Yuna dan menyuapkan kue untuk Papanya. Bima juga tidak masalah biarpun itu sendok bekas dari Aliyah.
Setelah tradisi potong kue pertama, kini Ayuna lanjut memotong kuenya dan membagi-bagikan kuenya kepada semua orang yang ada di situ.
__ADS_1
Aliyah dan Arumi tampak asik mengobrol, mereka duduk di kursi yang sudah di siapkan di situ sambil menikmati hidangan yang ada.
"Al, anaknya sepertinya dekat sekali denganmu ya, tapi kalau Papanya bagaimana?" tanya Arumi dengan suara pelan.
"Hush jangan membahas hal ini disini, nanti kedengaran orang-orang," jawab Aliyah dengan suara lirih juga.
Bima melangkahkan kakinya menuju ke Aliyah dan Arumi sedang duduk.
"Aliyah, terimakasih sudah datang di acara ulang tahun Ayuna ya," kata Bima pada Aliyah.
"Iya Tuan sama-sama," jawab Aliyah dengan nada lembut.
"Oh iya, ini Arumi teman saya, rumahnya itu dekat saya." Aliyah memperkenalkan Arumi kepada Bima, ia juga menunjukkan rumah Arumi yang tidak terlalu jauh dari rumah Bima.
"Kenalkan saya Arumi," dengan sopan Arumi mengulurkan tangannya dan Bima menyambut uluran tangan Arumi dengan sopan juga. "Saya Bima, terimakasih juga kamu sudah hadir di acara ulang tahun Ayuna," kata Bima dengan senang hati.
Malam ini Ayuna sangat bahagia sekali, ia juga mendapat kado cukup banyak dari para pekerja di rumah Bima.
Sebagai anak kecil mendapatkan kado cukup banyak Ayuna sangat girang, setelah acaranya selesai dan semuanya juga sudah pada pulang. Ayuna langsung membawa kado-kadonya masuk ke dalam kamarnya di bantu oleh Bima dan yang lainnya.
Sesampainya di dalam kamar, Ayuna antuasias sekali membuka kado-kado itu.
Melihat putri kecilnya bahagia, Bima juga tampak bahagia dan matanya tampak berkaca-kaca. Di saat putrinya begitu bahagia dengan ulang tahunnya tapi di sisi lain ada Ibu kandung yang sangat kejam karena tidak mau datang menghadiri acara ulang tahun anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
**
Aliyah tampak lelah sedangkan Arumi juga langsung pulang.
Aliyah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, kini gaun cantik yang tadi ia pakai sudah berganti dengan setelan baju tidur berwarna pink polos.
Aliyah membayangkan wajah tampan Bima, ia tiba-tiba tersenyum tipis.
"Seorang Papa yang hebat, kamu beruntung Ayuna punya Papa yang sangat menyayangi kamu sedangkan aku, kedua orang tuaku sudah berada di surga sana."
"Aku merindukan Mama dan Papa, tapi aku bisa apa? Yang aku lakukan hanya mengirimkan doa untuk mereka saja.
Mengingat kejadian beberapa tahun lalu Aliyah hanya menangis, ia saat itu masih terlalu kecil dan yang ia ingat hanya ada sebuah mobil yang melaju begitu cepat hingga menabrak mobil yang di kendarai oleh Papanya. Saat kejadian itu Mama dan Papanya duduk di jok depan sedangkan Aliyah duduk di jok belakang.
Tabrakan mobil yang begitu tragis saat itu membuat kedua orang tuanya meninggal dan sampai saat ini Aliyah tidak tahu siapa yang menabrak mobilnya itu? Polisi juga telah menutup kasusnya sudah lama.
Setelah kedua orangtuanya meninggal Aliyah akhirnya di rawat oleh Tante dan Om nya. Namun di saat ia sudah menginjak dewasa dan saat itu ia sudah kelas 1 SMA, Aliyah meminta tinggal sendiri di rumah peninggalan dari kedua orang tuanya.
Tante dan Om nya setuju dan mereka juga selalu memantau Aliyah dengan baik. Semua yang di butuhkan Aliyah juga tidak pernah kekurangan sama sekali.
Tante dan Om nya juga sangat baik pada Aliyah, mereka juga yang melanjutkan perusahaan Papanya. Aliyah tidak pernah mau tahu selama ini dan percaya saja pada Tante dan Om nya itu.
Tidak terasa karena terlalu lama menangis, Aliyah akhirnya tidur dan air matanya masih terus mengalir. Malangnya nasib Aliyah, ia sangat merindukan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia