Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Azka Brengsek


__ADS_3

"Aku yakin... itu bukan anakku!" tegas Azka dengan yakin.


Arumi terdiam, aku hanya melakukannya dengan Azka, tapi kenapa Azka tega bicara seperti itu?


Hatinya rasanya sesak sekali, mau bernafas saja rasanya susah. Bukan anak Azka, kok tega Azka mengatakan seperti itu pada darah dagingnya sendiri. Azka sungguh kejam, dia bukan Azka yang aku kenal dulu.


"Aku melakukannya hanya sama kamu, kenapa kamu bicara seperti itu?" Arumi meneteskan air matanya, ia menangis di hadapan Azka.


"Tidak mungkin, pasti kamu juga melakukannya dengan laki-laki lain di belakangku. Siapa yang tahu, lagian kan kita tidak setiap hari bersama," tuduhan Azka membuat hati Arumi semakin sakit dan sesak.


"Azka...jika kamu tidak percaya kalau ini darah dagingmu, mari lakukan test DNA!" tantang Arumi dengan tegas.


"Sudahlah Rum, tidak usah banyak drama! Mulai hari kita putus," ujar Azka tanpa perasaan sama sekali.


Azka lupa waktu mengatakan janji manisnya pada Arumi saat itu. Semudah itukah Azka melupakan janji manisnya, seandainya dulu janji itu terekam pasti akan menjadi bukti yang kuat.


"Apa yang kamu katakan?" tiba-tiba Aliyah bersuara, tatapan sangat marah pada Azka.


"Ayo kita bicara di tempat lain!" Aliyah menarik Azka dengan kasar dan penuh emosi, Arumi juga mengikuti langkah kaki Aliyah dan Azka, entah mau di bawah kemana sama Aliyah? Lalu kapan Aliyah datang? Pasti dia sudah mendengar semua yang tadi aku katakan pada Azka.

__ADS_1


***


Di blankon sekolah mereka bertiga bicara, Aliyah mencari tempat yang sepi agar tidak menjadi pusat perhatian oleh murid-murid yang lainnya.


"Laki-laki brengsek," dengan kasar Aliyah mencengkram kra seragam sekolah Azka. Tatapan Aliyah sungguh-sungguh berapi-api, sedangkan Arumi hanya diam di belakang Aliyah sambil menangis.


"Al, kamu ini apa-apaan? Lepaskan aku!" Azka menatap Aliyah penuh amarah juga, matanya berapi-api sama seperti Aliyah.


"Hey brengsek, cowok mental tempe, kamu berani berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab, kamu itu tidak tahu malu, tidak punya perasaan, ingat ya Arumi hanya pacaran sama kamu saja! Dengan seenak jidat kamu, kamu mengatakan kalau bayi yang Arumi kadung bukan anakmu," hardik Aliyah pada Azka, hatinya saat ini sangat marah dan satu tangannya masih kuat mencengkram kra seragam sekolah Azka.


"Aku tidak perduli Al! Lagian aku yakin Arumi itu tidak melakukan hanya denganku saja," dengan kasar Azka menepis tangan Aliyah dari kra seragam sekolahnya.


"Laki-laki brengsek!" Arumi menampar pipi kanan Azka dengan kuat, setelah gantian pipi kiri Azka di tampar oleh Arumi.


"Suatu saat jika kamu mencari anakmu ini, jangan harap dia akan memanggilmu Papa! Aku akan mengatakan padanya kalau Papanya sudah mati di telan bumi," pungkas Arumi dengan tegas.


"Ayo Al kita pergi dari sini!" ajak Arumi, di tarik tangan Aliyah dengan kuat.


Azka sedikitpun tidak merasa bersalah, ia juga tidak mengejar Arumi sama sekali dan sekarang Azka juga sudah punya cemem-cememan baru lagi, sudah di acak-acak juga, ya mudah-mudahan nasibnya tidak semalang Arumi.

__ADS_1


Dengan perasaan kecewa yang cukup dalam, Arumi mengutuk Azka dalam hatinya, jangan harap hidupmu akan bahagia di masa depan, kamu tidak mau mengakui anak ini, aku berharap di masa depan kamu susah untuk mendapatkan anak!


***


Saat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang semua murid pulang.


Aliyah dan Arumi berjalan berdua, Arumi tidak langsung pulang ia singgah di rumah Aliyah saat ini bingung harus mengatakan apa pada kedua orang tuanya?


"Aku harus mengatakan apa pada Mama dan Papaku, Al?" tanya Arumi bingung.


Aliyah terdiam, ia juga bingung bagaimana membantu sahabatnya keluar dari masalah ini?


"Tok...tok!!"


Mendengar pintu rumahnya ada yang mengetuknya, Aliyah bergegas untuk membukakan pintu rumahnya. Entah siapa yang datang?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2