
Satu minggu telah berlalu, Aliyah setiap pulang sekolah selalu datang ke rumah Bima untuk bermain dengan Ayuna.
Bima juga setiap jam makan siang selalu pulang ke rumah, bukan tanpa alasan tapi ia hanya ingin melihat Aliyah dan Ayuna yang semakin hari semakin akrab.
Ada rasa bahagia tersendiri saat melihat Ayuna dan Aliyah tampak akrab.
Aliyah dan Bima akhir-akhir sering ngobrol bareng di sela-sela kesempatan. Hanya saja Aliyah terlalu canggung sedangkan Bima yang netral saja tapi ia juga berusaha mendekati Aliyah diam-diam, hanya saja Aliyah nya tidak sadar.
Selain itu tujuan Aliyah yaitu mendekati Papanya tapi belum berhasil, mungkin masih butuh proses yang panjang.
Satu minggu ini juga Arumi dan Azka terus menghabiskan waktu berdua, dan setiap kali ada kesempatan pasti Azka meminta ehem-ehem pada Arumi. Arumi juga tidak pernah menolak, ia sangat ketagihan dengan milik Azka. Untung saja tidak tidak hamil, jika sampai hamil pasti kedua orang tuanya akan sangat marah padanya.
Bahkan saat Azka sangat pingin sekali dan posisinya masih di sekolahan, ia langsung mengajak Arumi ke kamar mandi dan mereka melakukan ehem-ehem di dalam kamar mandi sana, sungguh Azka itu terbilang berani. Arumi juga tidak ada takutnya sama sekali.
Hari berlalu sangat cepat, tepat minggu ini adalah ulang tahun Ayuna yang ke 4 tahun. Bima merayakan ulang tahun anaknya kecil-kecilan di halaman rumahnya, yang di undang Aliyah, Arumi juga ikut hadir karena diajak oleh Aliyah. Dan para pekerja di rumah Bima yang ikut merayakan ulang tahun putri kecilnya.
"Rum, semakin hari kamu kelihatan semakin segar saja," kata Aliyah melihat Arumi sekarang tubuhnya tampak berisi.
"Gunung kembar kamu juga agak gedean," lanjut Aliyah yang masih sibuk menyisir rambutnya. Aku yakin Azka pasti sudah macam-macam dengan Arumi, tapi aku bisa apa? Mereka sudah sama-sama gede dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak.
"Itu hanya perasaanmu saja Al, oh iya kamu dan Duda tampan itu bagaimana?" tanya Arumi sengaja mengalihkan pembicaraannya. Arumi memang merasa bentuk tubuhnya agak berubah, bagian gunung kembarnya juga agak montok dan bahkan ukuran bh juga sudah semakin besar. Apa karena ulah Azka ya? Ia hampir setiap hari nyusu layaknya anak bayi, bahkan setiap kali ada kesempatan aku di garap kapan saja dia mau.
"Entahlah, aku lebih dekat ke anaknya daripada bapaknya," sahut Aliyah jujur.
"Kamu yakin mau sama duda?" Arumi ragu, gadis secantik Aliyah seleranya duda. Masih tidak percaya sih tapi inilah Aliyah, dia memang suka laki-laki yang sudah mapan dan lebih dewasa darinya.
__ADS_1
Aliyah malah senyam-senyum tidak jelas, membuat Arumi mengelidik jijik.
"Sudahlah, ayo berangkat! Kadonya mana?" Aliyah hampir saja lupa membawa kado untuk calon anak tirinya, eh maksudnya untuk anaknya duda tampan.
"Kamu kasih kado apa, buat calon anak tirimu?" tanya Arumi penasaran, melihat kado Aliyah begitu besar.
"Calon anak tiri, mudah-mudahan dapatin bapaknya," harapan Aliyah yang diiringi senyum kecil.
"Terserah kamu saja Aliyah, di tanya apa? Jawab apa? Aliyah sudah benar-benar tidak waras," celetuk Arumi dan ia berjalan lebih dulu, ia juga tidak lupa membawa kado untuk Ayuna.
Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai di rumahnya Bima, kini di halaman rumahnya sudah di hiasi balon-balon dan lilin-lilin kecil.
Ayuna, Bima, dan para pekerja di rumahnya juga sudah berkumpul di halaman itu.
"Itu Kakak Cantik datang bersama temannya," jari telunjuk Bima menunjuk ke Aliyah dan Arumi yang sedang berjalan ke arah mereka berkumpul.
Setelah Aliyah datang Ayuna langsung memeluk Aliyah dengan erat, lalu berkenalan dengan Arumi.
Bima masih melihat-lihat, ya dia menanti kedatangan Rika di acara ulang tahun Ayuna. Berharap Rika datang di hari special Ayuna ini.
Ayuna asik bercanda dengan Aliyah dan Arumi sedangkan Bima berusaha menghubungi Ibunya Ayuna, namun tak kunjung ada jawaban.
"Papa, kapan tiup lilinnya? Kak Cantik dan temannya sudah membawa kado untuk Ayuna," tanya Ayuna pada sang Papa.
"Tunggu ya nak!" pinta Bima dengan nada lembut. Sampai hati kamu Rika, bahkan di acara ulang tahun anakmu kamu saja tidak mau datang. Sebahagia itukah kamu dengan keluarga barumu?
__ADS_1
Ayuna semakin gelisah, rasanya sudah tidak sabar menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan segera meniup lilin.
Kini 15 menit telah berlalu, Rika tak kunjung datang. Bima akhirnya menyerah juga.
"Ayo kita mulai tiup lilinnya!" ujar Bima dan Ayuna langsung antusias. .
Kini semua tamu yang hadir menanyikan lagu selamat ulang tahun bersama-sama. Biarpun ulang tahun ke 4 tahun tanpa kehadiran Ibu kandungnya Ayuna tampak bahagia, mungkin ia belum mengerti jadi ia tak bersedih sama sekali. Di sini yang merasa sedih malah Bima, ia mengingat dari lahir Ayuna tidak pernah melihat seperti apa Ibu kandungnya?
"Tiup lilinnya....tiup lilinnya....!!
"Tiup lilinnya sekarang juga....!!"
"Sekarang juga....!!"
Ayuna meniup lilin yang ada di atas kue dengan begitu bahagia.
"Horeee.....!!" semuanya bertepuk tangan.
"Potong kuenya sayang!" titah Bima, ia membantu Ayuna untuk memotong kue ulang tahunnya. Lalu potongan pertamanya Ayuna tampak bingung mau di berikan pada siapa?
Hayo tebak potongan kue pertama Ayuna akan diberikan pada siapa?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1