
"Tok...tok!!"
Mendengar pintu rumahnya ada yang mengetuknya, Aliyah bergegas untuk membukakan pintu rumahnya. Entah siapa yang datang?
"Mas Bima," mata Aliyah berbinar senang saat melihat Bima yang datang.
"Boleh aku masuk?" Bima membawa tenteng untuk Aliyah yang isinya makan siang.
Dengan senang hati Aliyah mempersilahkan Bima masuk, ia lupa kalau ada Arumi di rumahnya dan sedang bersedih.
"Ada teman kamu, maaf ya aku ganggu," merasa tidak enak Bima menaruh tentengan yang ia bawah di atas meja.
"Ehhh tidak apa-apa Pak, saya juga mau pulang, mau istirahat dulu," buru-buru Arumi beranjak dari tempat duduknya dan bergegas untuk pulang.
"Rum, kok pulang? Istirahat di kamar aku saja!" titah Aliyah, aduh jadi tidak enak sama Arumi, Mas Bima sih mau datang tidak bilang-bilang.
Arumi tersenyum kecil, lalu ia berlalu pergi dari hadapan Bima dan Aliyah.
Kini tinggal Aliyah dan Bima, mereka tampak canggung satu sama lain, tapi terlihat jelas di sorot kedua mata dua sejoli itu terlihat jelas kalau mereka sama-sama bahagia saat bertemu.
"Ayuna mana Mas?" tanyanya pada Bima.
"Kenapa tanya anaknya? Kan sudah ada Papanya, bukannya yang kamu incar itu Papanya," jailnya Bima membuat kedua pipi Aliyah merah seperti kepiting rebus.
"Bukannya Papanya Ayuna yang tergila-gila sama bocah bau kencur ini?" Aliyah tak kalah jail, ia juga mengoda Bima.
__ADS_1
Bima duduk di sofa, tanpa permisi ia menarik tangan Aliyah hingga Aliyah jatuh tepat di pangkuannya. Jantungnya tiba-tiba berdebar hebat, kini saat kedua mata Bima menatapnya dengan lembut Aliyah tampak malu-malu, aduh aku bisa terbang jika Mas Bima bersikap semanis ini, padahal tidak ada madu. Ia madunya sudah menyatu di bibir Mas Bima yang merah peka itu, ingin aku mencicipinya. Otak Aliyah mulai sedeng, selalu saja kalau di dekat Bima hayalan tingkat dewanya selalu datang.
"Aku memang tergila-gila padamu, katakan padaku! Kapan kamu akan lulus sekolah?" tanya Bima dengan nada lembut, Aliyah terlihat sangat nyaman di pangkuan Duda tampan anak satu ini.
"Bulan depan Mas," jawab Aliyah dengan nada lembut.
"Bulan depan kita menikah, aku mau kamu menjadi istriku," Duda anak satu ini terlalu jujur dan enggan basa-basi.
Aliyah kaget, ia terperajat dari pangkuan Bima. Apa ini mimpi? Duda Tampan Pujaan Hati Aliyah, sungguh ingin mengajak Aliyah menikah.
"Mas, kamu jangan bercanda!" pinta Aliyah.
"Aku tidak bercanda, jika kamu mau menikah denganku, maka bulan depan aku akan menikahi Aliyah bocah bau kencur ini," ujar Bima dengan senyum genit plus nakal-nakal gitu.
Bima kembali menarik tangan Aliyah kali ini dengan lembut, Aliyah kembali duduk di pangkuan Bima dengan jantung yang kembali berdetak cukup kencang, mungkin Bima juga bisa mendengar detak jantung Aliyah saat ini.
"Kamu pernah berciuman sebelumnya?" tanya Bima, jarinya bermain-main di bibir munggil milik Aliyah.
"Tidak pernah," jawab Aliyah malu.
"Kamu pernah pacaran sebelumnya?" lanjut Bima penasaran.
"Tidak pernah, tapi aku pernah menyukai seseorang cowok, dia sangat tampan dan aku menaksirnya," jawab Aliyah dengan jujur.
Bima langsung merengut kesal mendengar jawaban dari Aliyah, hatinya langsung meronta-ronta karena cemburu.
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu tidak boleh menaksir laki-laki manapun!" pinta Bima dengan nada agak sedikit merajuk.
"Memangnya kenapa, Mas?" Aliyah bertanya dengan manja.
"Karena mulai hari ini, aku pastikan kamu akan menjadi milikku selamanya," kata Bima, tanpa permisi Bima mendaratkan bibirnya di bibir munggil Aliyah.
Kedua mata Aliyah terbelalak karena kaget dan tentunya tidak siap, awalnya Aliyah hanya diam saja. Tapi pada akhirnya Aliyah melawan ciuman Bima, ya biarpun sangat kagok tapi Bima bisa mengimbangi ciuman Aliyah yang menurutnya dari 1-10 ya nilainya 5.
Setelah beberapa lama keduanya sama-sama melepaskan ciuman panas itu. Lalu kedua sejoli itu saling tersenyum bahagia.
"Makanlah, makan siangmu ini!"
"Aku mau kembali ke kantor karena masih ada pekerjaan."
Bima menurunkan Aliyah dari pangkuan, ia beranjak dari tempat duduknya, lalu membenarkan jasnya dan dasinya yang agak berantakan.
"Mas tidak makan?" tanya Aliyah sebelum Bima berlalu pergi.
"Tidak, ingat kamu sudah sah menjadi pacarku, jadi kamu tidak boleh menaksir laki-laki lain lagi!" ujar Bima sebelum pergi ke kantor, Aliyah manggut-manggut sambil tersenyum dan membentuk jarinya menjadi huruf O yang tandanya Oke.
Bima tersenyum lalu keluar dari rumah Aliyah. Dasar Duda tampan ini, datang ke rumah Aliyah hanya ingin mengeklaim kalau Aliyah itu sudah sah menjadi pacarnya, aduh sih Duda mulai bucin akut sama bocah bau kencur.
Setelah Bima pergi, Aliyah teringat akan Arumi, lalu ia membawa makanan yang di bawahin Bima ke rumah Arumi, mau makan bareng di sana.
Bersambung
__ADS_1
Terimkasih para pembaca setia