
Beberapa hari kemudian akhirnya ujian sekolah selesai juga, betapa leganya Aliyah dan Arumi setelah melalui ujian sekolah yang sangat berat ini.
Dan hari ini adalah tepat hari kelulusan juga, bersyukur sekali Aliyah menjadi juara kelas pertama dan Arumi juara dua.
Arumi sangat tidak menyangka kalau dirinya menjadi juara dua di kelasnya. Tepat di hari kelulusan ini Arumi berpamitan pada Aliyah untuk berangkat keluar negeri.
"Al, aku mau berangkat keluar negeri, aku akan menetap disana bersama kedua orang tuaku dan anak yang aku kandung, akan aku besarkan dengan baik," kata Arumi. Berusaha untuk kuat, padahal hatinya sangat sakit.
"Rum, kamu hati-hati disana. Oh iya, kamu tidak mau menyaksikan acara pernikahan aku dan Mas Bima?" Aliyah menatap Arumi dengan tatapan sendu, sungguh aku benci dengan Azka laki-laki brengsek yang sudah menghancurkan hidup sahabat terbaikku.
"Aku berangkat malam ini Al, memang acara pernikahanmu kapan?" tanya Arumi penasaran.
"Setelah aku lulus...."
"Minggu depan kami akan menikah," suara yang tidak asing itu terdengar nyaring di telinga Aliyah dan Arumi.
Kedua bocah cantik yang masih bau kencur, eh tunggu yang bau kencur hanya Aliyah ya kalau Arumi sudah tidak bau kencur lagi, dia sudah merasakan surga dunia bersama dengan Azka.
Mendengar kata-kata dari Bima, sungguh membuat dua gadis cantik itu kaget. Aliyah menatap Bima, lalu memperdalam tatatapannya pada Bima.
"Mas Bima...." Aliyah terkejut saat melihat Bima datang membawa buket bunga mawar merah di tangannya.
"Selamat atas kelulusanya ya calon istriku," ujar Bima dan berhasil membuat pipi Aliyah merah karena merasa malu.
Aliyah merasa tidak enak di depan Arumi sekaligus deg-deggan.
__ADS_1
"Mas, jangan bercanda! Apa benar kalau kita akan menikah minggu depan?" Aliyah sudah berada di hadapan Bima, ia menerima buket bunga dari Bima dengan senang hati.
"Bukankah lebih cepat lebih baik Al, jangan sampai seperti aku! Menikah itu jauh lebih baik," cetus Arumi dengan penuh nasehat untuk Aliyah, aku tidak ingin Aliyah sampai terjerumus ke hal yang salah seperti aku.
Aliyah langsung memeluk Arumi, iya ikut sedih akan nasib yang menimpa sahabatnya ini. Azka memang laki-laki brengsek, aku harap Arumi akan mendapatkan kebahagian di luar negeri sana dan melupakan Azka untuk selamanya.
"Sabar ya Rum, percayalah akan ada kebahagian lain dalam hidupmu," kata Aliyah dengan pelukan erat.
Arumi mengangguk, Aliyah hanya bisa memberikan pelukan untuk memberikan semangat pada Arumi, Aliyah yakin kalau Arumi adalah wanita yang kuat.
"Arumi di peluk kok Mas tidak," rajuk Bisa dengan manja.
Kedua gadis cantik itu saling melepaskan pelukan mereka.
"Maaf Al, malam ini aku akan langsung berangkat keluar negeri dan aku tidak bisa hadir di acara pernikahanmu, tapi aku akan selalu mendoakan kebahagianmu," jawab Arumi dengan nada lembut.
Aliyah merasa sedih tapi Aliyah juga tahu alasan Arumi berangkat ke luar negeri malam ini juga.
***
Malam menunjukan pukul 7 malam keluarga Arumi malam ini berangkat keluar negeri, Arumi dan keluarganya juga berpamitan dengan Aliyah dan tak lupa Arumi memberikan kado pernikahan untuk Aliyah.
Sedih rasanya harus berpisah dengan sahabat baiknya, ini adalah hari meyedihkan untuk kedua kalinya, setelah berpisah dengan kedua orang tuanya dan kini harus berpisah dengan sahabatnya juga. Biarpun hanya berpisah negera tetap saja rasa sedihnya.
Arumi dan keluarganya sudah terbang keluar negeri, sedangkan Aliyah masih sedih untung saja ada Mas Duda yang menemani Aliyah malam ini.
__ADS_1
"Mari bicarakan tentang pernikahan kita!" bukannya menghibur, dasar Mas Duda masih sempat mikirin pernikahan.
"Apa harus sekarang?" seru Aliyah marah.
"Ya sekarang, lagian Arumi hanya pergi keluar negeri saja. Nanti kamu bisa nyusul dia kapan saja, aku temanin," ujar Bima dengan nada lembut.
"Janji!" seru Aliyah sembari mengulurkan jari kelingkingnya pada Bima.
"Janji calon istriku," kata Bima, di kaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingnya Aliyah.
Akhirnya Aliyah tersenyum, lalu Bima menarik Aliyah masuk ke dalam pelukannya.
"Tidurlah! Besok aku mau ajak kamu ke suatu tempat," ujarnya di dalam pelukannya.
"Mau kemana, Mas?" tanya Aliyah penasaran.
Bima melepaskan pelukannya, tanpa memberikan jawaban pada Aliyah, membuat Aliyah bingung calon suaminya mau kemana?
"Masuklah!" titah Bima, Aliyah menurut ia masuk ke dalam rumah.
Setelah Aliyah masuk ke dalam rumah, Bima akhirnya pulang, rasanya tidak sabar menunggu besok pagi.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1