
Sesampainya di depan rumah, Bima langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya dan ia bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Bima tersenyum saat melihat putri kecilnya sedang asik bermain boneka dengan Aliyah, Aliyah juga tidak memakai baju sekolah lagi karena tadi ia ganti baju lebih dulu dan baru main ke rumah Ayuna.
"Mereka sangat lucu," gumam Bima dalam hati.
Tiba-tiba Suster Wati datang, ia melihat Tuannya sedang memperhatikan anak dan gadis SMA yang sedang bermain dengan anaknya.
Di sentuhlah bahu Bima oleh wanita yang sudah separuh baya itu, wanita yang kira-kira usianya 40 tahunan dan Bima sangat percaya padanya untuk mengurus putrinya. Bima biasa memanggil Wati dengan sebutan Bibi sedangkan Ayuna kalau manggil Wati, Suster Wati kalau kata Ayuna biar keren Pa. Tapi ya namanya anak kecil baiknya mereka saja pikir Bima.
"Tuan, kok tumben sudah pulang?" tanyanya pada Bima, membuat Bima seketika menjadi gugup.
"Bibi, oh iya Aliyah sudah lama di sini, Bi?" tanya Bima terlihat gugup di hadapan Wati.
"Nona Aliyah dari tadi, Ayuna juga tadi makan bersama Nona Aliyah. Nona Aliyah memang gadis muda yang baru belasan tahun tapi dia cukup telaten ngurus Ayuna, Ayuna juga sangat nurut padanya Tuan," jawab Wati dengan jujur dan itu membuat Bima semakin bahagia.
"Iya Bi, Bibi sudah makan belum?" tanya Bima pada Wati dengan sopan.
"Ini baru mau makan Tuan," jawab Wati.
"Ini uang Bi, Bibi ajak yang lainnya jalan-jalan serta makan diluar ya!" Bima memberikan 20 lembar uang berwarna merah pada Wati, Wati menerima uang itu sambil menatap Bima bingung.
"Jalan-jalan Bi, makan diluar, belanja, hari ini Ayuna biar aku yang jagain," lanjut Bima dengan senang hati.
"Tapi Tuan...."
"Tidak apa-apa Bi, kalau kurang kabari aku saja Bi! Nanti aku transfer," potong Bima dan Wati akhirnya mengangguk.
Wati bergegas ke dapur, lalu ia menghampiri rekan kerjanya dan mereka akhirnya pergi jalan-jalan bersama.
Setelah berdiri cukup lama, Bima berjalan ke ruang tengah menghampiri Ayuna dan Aliyah yang sedang asik bermain.
"Ayuna Papa pulang...."
__ADS_1
Melihat Papanya Ayuna hanya tersenyum kecil, biasanya sudah berlari memeluknya tapi hari ini beda sekali.
"Kok tidak peluk Papa?" tanya Bima, ia berjalan menghampiri Ayuna lalu mencium pipinya dengan gemas.
"Malu Papa sudah gede, kan ada Kakak Cantik," jawab Ayuna dengan menggemaskan.
Bima mengangguk, lalu ia menatap Aliyah dengan tatapan lembut membuat Aliyah gugup dah tiba-tiba hatinya berdebar kencang. Astaga ini debaran hati apa jantung? Rasanya mau copot melihat ketampanan duda anak satu ini.
"Kakak Cantik sudah dari tadi?" tanya Bima pada Ayuna.
"Sudah Pa, aku di bawakan makanan banyak sama Kakak Cantik, Papa mau minta tidak?" tawar Ayuna dan memberikan dua susu kotak dan satu bungkus snack besar pada Bima. "Ini buat Papa," katanya pada Papanya.
"Banyak sekali, sudah bilang terima kasih belum sama Kakak Cantik?" Bima menerima makanan itu, lalu kembali bertanya pada Ayuna.
"Sudah Pa," jawab Ayuna.
"Nona Aliyah, sudah makan?" tanya Bima pada Aliyah.
Bima mengangguk, Bima ikut bergabung bermain dengan mereka berdua.
Seketika Bima terdiam, dia masih belasan tahun, tapi dia begitu menyayangi anak-anak, Ayuna saja sangat lengket padanya.
Setelah lelah bermain, Aliyah pamit pulang karena ada PR yang harus ia kerjakan.
"Ayuan, Kakak pulang dulu ya, ada PR soalnya. Besok Kakak main lagi," pamit Aliyah pada Ayuna dan Ayuna tampak sedih.
"Kakak jangan pulang ya!" rengek Ayuna pada Aliyah.
"Yuna, Kakaknya biar kerjain PR dulu, kamu juga tidur siang dulu nak," ujar Bima dengan nada lembut.
Aliyah bergegas pulang, Ayuna menangis tapi Bima menenangkan anaknya sampai diam dan akhirnya tertidur nyenyak.
Saat Ayuna tidur, Bima menatapnya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Mungkin kamu menginginkan sosok seorang ibu nak," katanya sambil membelai pipi Ayuna dengan lembut.
Tapi kalau di pikir-pikir Aliyah itu masih sangat muda untuk menjadi ibu sambungnya Ayuna, tapi bukannya yang muda itu lebih mudah di atur.
Bima meraih ponselnya dari dalam saku celananya, lalu ia menelpon seseorang yang tidak lain adalah mantan istrinya.
"Hallo Rika..."
"Mas Bima, ada apa menelponku?" tanya Rika terdengar tidak suka dari suaranya.
"Rika, apa kamu tidak mau menemui anakmu, dia adalah darah dagingmu sendiri," jawab Bima penuh harap. Berharap Rika menemui Ayuna, kasian Ayuna tidak pernah bertemu dengan ibunya sampai sebesar ini.
"Mas, aku itu sudah terlalu sibuk dengan kedua anakku. Mereka juga masih kecil-kecil, lagian kan Ayuna hak asuh jatuh ke tanganmu ya kamu urus sendiri saja!" ketus Rika dari sebrang sana.
"Tapikan kamu juga Ibunya, Rik," sergah Bima.
"Aku hanya Ibu yang melahirkannya, kamu juga bapaknya, jadi ya saling ngertiin saja mas. Aku sibuk ngurusin dua anak masih kecil, buat ketemu sama Ayuna aku tidak ada waktu," pekik Rika dengan nada tinggi.
"Mama ayo cepat....!!" terdengar suara anak-anak laki dari sebrang sana.
"Sebentar sayang....!!"
"Sudah dulu ya mas, aku mau nganterin anak aku jalan-jalan," buru-buru Rika menutup telponnya dengan cepat.
Bima menghela nafas kasar, setega itukah Ibu kandungnya? Hanya karena ia sudah bahagia dengan kehidupan barunya, ia bahkan tidak perduli dengan anak kandungnya sendiri saat bersama dengan mantan suaminya.
"Sabar nak, Papa pasti akan mencari Ibu sambung yang tulus menyayangimu," janji Bima pada Ayuna.
Entah Bima akan mencari Ibu sambung yang seperti apa?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1