Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Drama perjodohan


__ADS_3

"Maaf Paman, Tante, Rona ini siapa?" tanya Aliyah dengan tatapan serius.


"Al, Rona ini adalah...."


Tatapan Rona cukup genit kepada Aliyah membuat Aliyah menatapnya dengan malas.


"Rona adalah laki-laki yang akan Tante jodohkan denganmu, dia seorang pengusaha sukses dan kamu pasti akan bahagia bersamanya," sambung Rita dengan senyum bahagia.


Rona adalah pengusaha muda umur dia juga baru 25 tahun dan dia sudah sukses membangun perusahaan sendiri.


Aliyah tak bergeming, calon suami! Maksudnya apa-apaan? Main jodoh-jodohkan saja seenaknya, ini Tante sama Paman itu bagaimana sih? Bukannya tanya dulu dari awal, main diajak ketemu saja, lalu bagaimana nasib Duda Tampan Pujaan Hatiku nanti?


"Apa di jodohkan? Aliyah tidak mau Tante," tolak Aliyah dengan tegas.


"Nak, kamu bisa coba jalan dulu berdua dengan Rona! Rona itu laki-laki yang sangat baik," tutur Regi kepada Aliyah. Aliyah tampak tidak suka, ia ingin buru-buru pergi meninggalkan drama ini semuanya. Tapi ia takut di anggap tidak sopan nantinya.


Rita dan Regi sudah lama tak mengunjungi Aliyah. Sekalinya mengunjungi Aliyah malah membuat drama perjodohan, sungguh keterlaluan sekali.


"Iya Al, lagian aku tidak akan langsung memakanmu juga, jadi kamu tidak usah takut," ujar Rona dengan nada lembut. Laki-laki memang tampan dan terlihat sudah cukup dewasa, tapi bagi Aliyah tetap saja tampanann duda anak satu. Lagian kelihatan sekali kalau Rona itu laki-laki genit, tatapannya juga sangat menjijikkan bagi Aliyah.


"Dih apaan sih?" pekik Aliyah malas.


"Aliyah kok kamu gitu, kamu coba ya jalan sama Rona!" paksa Rita, sedikitpun ia tidak memikirkan perasaan Aliyah.


"Maaf Tante, Aliyah tidak bisa. Aliyah sudah punya calon sendiri," tolak Aliyah yang lagi-lagi begitu tegas.


Dalam hati Rita, dasar anak kurang ajar di gedein benar-benar dan sekarang dia malah menjadi anak yang pembakang.


"Aliyah...."


"Tante, aku tidak mau percintaanku di urusin oleh Tante, aku sudah dewasa dan aku bisa mencarinya sendiri Tan," pungkas Aliyah membuat Rita terdiam dan tatapan matanya begitu berapi-api.


"Kamu ya....anak tidak tahu....."


"Sayang sudah, jika Aliyah tidak mau jangan paksa dia kasian!" titah Regi pada istrinya.

__ADS_1


"Papa tapi dia membangkang, aku tidak mau tahu Aliyah harus menikah dengan Rona," tandas Rita berapi-api.


Regi terdiam, saat ini ia bingung harus membela ponakannya atau istrinya? Ia tahu sekali kalau istrinya ini apa-apa harus di turuti, jika tidak maka semuanya akan kena marah.


"Mama sudah ya malu banyak orang," pinta Regi dengan nada lembut. Semua mata tertuju kepada mereka, membuat Regi sangat malu. Sedangkan istrinya dari tadi marah-marah, mau taruh dimana wajah tampanku ini? Tidak mungkinkan kalau aku sakui itu tidak akan muat juga dalam saku.


Aliyah beranjak dari tempat duduknya dengan kasar, lalu ia bergegas pergi.


"Aliyah kamu mau kemana?" tanya Rita nada suaranya mulai meninggi.


"Aliyah mau pulang, Aliyah tidak mau dengan drama perjodohan ini," jawab Aliyah dan berlalu pergi dari hadapan semuanya.


Rona malah senyam-senyum, gadis itu sepertinya penuh tantangan, ia cukup berani menolak aku, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti? Mata Rona bersinar seperti singa yang akan menerkam mangsanya.


Setelah Aliyah pergi, Rita tampak marah sekali sedangkan Regi berusaha untuk tenang.


"Sudahlah Ma, jangan memaksa Aliyah! Lagian anak itu juga masih SMA, dia pasti punya kekasih," tutur Regi pada Rita tapi Rita malah melolotinya. "Diam kamu mas!" bentaknya dengan suara pelan tapi menekan.


"Tante Rita, Om Regi, bagaimana ini? Gadis itu tidak mau denganku," tanya Rona meminta jawaban.


"Tenang Nak Rona, Tante pasti akan membuat dia mau menikah denganmu," jawab Rita dengan yakin dan otaknya penuh ide cemerlang.


"Aku tunggu itu Tan, aku juga menyukainya," kata Rona pada Rita dengan tatapan serius.


Karena Aliyah sudah pergi, akhirnya mereka hanya makan bertiga saja.


Aliyah melangkahkan kakinya di trotoar pinggir jalan, ia tampak lesu saat berjalan, memikirkan sebuah perjodohan sedikitpun aku tidak pernah. Tapi Tante dan Paman, mereka menjodohkanku dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal.


"Mama, Papa, jika kalian masih hidup, apa kalian juga akan menjodohkanku dengan laki-laki pilihan kalian?" lirihnya dalam hati, cukup sedih mengingat kedua orang tuanya sudah tidak ada di dunia ini.


Saat aku sedih, aku ingin memeluk kalian tapi kalian sudah bahagia di surga sana.


"Mama, saat teringat kejadian malam itu sungguh aku takut, aku tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi sebenarnya? Saat itu usiaku masih kecil dan aku hanya melihat sekilas, tapi aku hanya samar-samar melihatnya," lanjutnya dalam hatinya.


Aliyah menghentikan langkah kakinya, ia menatap jalanan yang hari ini cukup rame.

__ADS_1


"Aku mau kemana?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Rasanya tak punya tujuan kemana? Di rumah juga hanya bengong sambil menonton televisi, dan Arumi juga pasti sedang jalan berdua dengan Azka, aku tahu karena mereka memang sering kali jalan berdua.


Aliyah terus melangkahkan kakinya tanpa tujuan, rasanya ingin pergi dari dunia ini, daripada harus di jodohkan.


Saat Aliyah duduk di pinggir jalan tiba-tiba ada mobil berhenti tepat di depannya. Tapi Aliyah hanya diam saja sambil memangku kedua tangannya.


"Kakak Cantik...."


Mendengar suara yang tidak asing, Aliyah mengangkat kepalanya dan ia melihat Ayuna yang sudah melambaikan tangan keluar jendela mobilnya.


"Kakak Cantik, kamu sedang ngapain di sini?" tanya Ayuna dengan bahagia.


"Ayuna, Kakak hanya sedang pergi jalan-jalan saja Yun, sepi di rumah,"jawab Aliyah dengan nada lembut.


"Al, ayo ikut dengan kami saja! ajak Bima dengan senang hati." ajak Bima, Aliyah tersenyum kecil.


"Ayo Kak ikut kok malah diam, naik ayo kak!" ajak Ayuna, akhirnya Aliyah naik dan ia duduk bersama Ayuna di jok depan.


Karena Ayuna memintanya untuk duduk di depan, setelah Aliyah masuk ke dalam mobil, Bima kembali melajukan mobilnya.


Di saat hari ini di buat kesal karena ada drama perjodohan, tapi akhirnya bahagia karena aku bisa bertemu dengan duda tampanku lagi.


"Kamu kok jalan kaki, kamu darimana?" tanya Bima kepada Aliyah.


"Aku dari suatu tempat mas," jawab Aliyah gugup.


"Apa ada urusan?" tanya Bima, penasaran.


"Iya mas tadi aku habis bertemu...."


"Bertemu dengan siapa?"


Aliyah malah terdiam, haruskah aku jujur kepada Bima?

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2