
"Aku mau...."
Coba tebak Aliyah mau apa? Dasar gadis ingusan yang imut dan menggemaskan.
"Aku mau menikah saja, biar ada yang menafakhi secara lahir dan batin," cetus Aliyah begitu polos.
Bima yang hendak membuka pintu mobil, ia mengurungkan niatnya. Lalu ia mengalihkan tatapan ke Aliyah yang malam ini begitu cantik dan sangat anggun.
"Hey, kamu masih kecil, lebih baik kamu kuliah dulu anak ingusan," cebik Bima geleng-geleng kepala. Dasar anak jaman sekarang, di kira nikah itu enak? Perlu kalian tahu, nikah itu tanggung jawabnya gede gadis ingusan.
Aliyah menggelengkan kepalanya pelan, ia menatap Bima malas.
"Kenapa Mas Bima jadi mengatur hidupku?" tanya Aliyah tanpa basa-basi.
Lah kok jadi aku mengatur hidup dia? Aku kan cuma memberikan saran, susah memang kalau ngobrol sama gadis masih ingusan.
"Sudah ayo kita turun!" ajaknya sembari membuka pintu mobil. Bima turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aliyah.
Kini Aliyah turun dari dalam mobil, saat Bima dan Aliyah bergandengan tangan, Aliyah begitu senang dan rasanya sangat nyaman saat Bima menggegam tangannya dengan erat.
Aliyah terus tersenyum sepanjang jalan masuk ke dalam tempat pesta.
"Bima, sama siapa itu?" tanya Ketrin dengan tatapan tidak suka saat melihat gadis cantik di samping Bima.
"Mana aku tahu Ket," sahut Fahri cuek.
"Ketrin, memangnya kamu mau dengan duda itu? Seperti tidak ada laki-laki lain saja," timpal Sabrina meremehkan. Baginya status duda itu begitu rendah, apalagi sudah punya ekor satu.
__ADS_1
"Bina, Bima itu sangat tampan. Aku tidak peduli kalau dia seorang duda," sahut Ketrin enteng.
Bima mengajak Aliyah menghampiri para rekan bisnisnya itu. Aliyah sadar kalau tatapan di antara mereka begitu sinis padanya ya tatapan Ketrin dan Sabrina terlihat tidak suka dengan Aliyah, kecuali Fahri, ia malah senyum kepada Aliyah cukup lembut. Bima yang melihat tatapan lembut Fakri itu langsung menatap Fahri tidak suka.
"Bima, apa kabar?" sapanya dengan akrab, mereka memang rekan bisnis dan perusahaan mereka juga sudah beberapa lama bekerja sama. Mereka seumuran bedanya Fahri masih lajang sedangkan Bima sudah duda anak satu.
"Aku baik, maaf bisa kamu ubah tatapanmu itu pada wanitaku! Aku terlalu risih melihatnya," kata Bima terlihat kesal pada Fahri.
Fahri mendengus kesal, sambil hatinya bergumam boleh juga gadis cantik Bima. Kelihatan sangat imut, membuat hatiku meronta-ronta saja. Dasar duda anak satu tapi seleranya begitu tinggi.
"Yakin dia wanitamu?" tatapan Fahri tidak percaya.
"Apa matamu buta? Aku yang membawanya tentu saja dia wanitaku," tegas Bima berapi-api. Terlihat sekali Bima tidak suka dengan tatapan Fahri pada Aliyah.
Bima mengenal Aliyah kepada Ketrin dan Sabrina, mereka saling berjabat tangan. Tapi saat Aliyah akan menjabat tangan Fahri dengan cepat Bima mengantikan tangan Aliyah.
Fahri menatap sengit Bima, tapi saat ini tangannya sudah saling berjabat tangan dengan Bima biarpun itu terpaksa.
"Dasar tidak jelas, aku mau kenalan dengan Aliyah cantik langsung," gerutu Fahri sinis.
"Kan sudah aku wakilkan," cibir Bima dengan senang hati.
Dasar duda, kali ini ia bersikap seperti anak kecil membuat Ketrin kesal, membuat Sabrina jijik dan membuat Aliyah senyam-senyum.
Bima terus mengandeng tangan Aliyah dengan mesra, ia mengajak Aliyah menikmati makanan yang sudah di hidangkan di acara pesta itu.
Acara malam ini adalah acara peresmian perusahaan toko emas ternama di kotanya, Bima salah satu orang yang ikut menanam saham cukup besar.
__ADS_1
Di acara ini ada acara potong pita, mereka yang datang juga menyaksikan pameran perhiasan keluaran terbaru.
Aliyah yang ikut melihat pameran malam ini, ia begitu kagum dan melihat perhiasan cantik-cantik ia juga ingin membelinya. Hanya saja uang dia tidak akan cukup untuk membeli salah satu perhiasan yang ada di pameran itu.
"Ini cantik sekali," matanya bersinar saat melihat kalung berliontin bulan dan bintang yang di padukan menjadi satu.
"Mereka sungguh melengkapi," sambungnya dengan senyum kecil. Saat ingin menyentuh kalung itu, Aliyah mengurungkan niatnya karena tidak enak pada Bima.
Bima diam-diam memperhatikan Aliyah yang begitu senang saat melihat kalung cantik yang ada di hadapannya.
"Apa, kamu mau?" tanya Bima pada Aliyah.
"Tidak Mas," tolak Aliyah dengan nada lembut.
Bima hanya mengangguk, membuat Aliyah tersenyum malu.
Kini mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka, melihat-lihat perhiasan cantik yang lainnya.
Saat Bima dan Aliyah menghentikan langkah kakinya, tiba-tiba ada seorang yang memanggil nama Aliyah.
"Aliyahh....."
Aliyah kaget, karena tidak mungkin ada yang mengenalnya di acara besar seperti ini. Lalu siapa yang memanggil Aliyah?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1