
"Lama sekali Rumi..." gumam Aliyah lirih.
"Ceklek....."
Saat pintu terbuka, Aliyah cukup terkejut melihat penampilan Arumi yang menurutnya cukup acak kadul tidak jelas.
Entah apa yang akan terjadi?
"Rum, kamu tidur dengan lingerie seksi seperti ini?" kedua mata Aliyah melihat Arumi dari atas sampai bawah. Lingerie yang membalut tubuh mungil Arumi sungguh membuat Aliyah terkejut, tidak biasanya sahabat mau memakai pakaian seperti ini.
"Aku hanya buru-buru saja, jadi asal ambil baju tidur," jelas Arumi tampak gugup.
Aliyah mengangguk ia berusaha percaya tapi lagi-lagi rasa percayanya itu di hancurkan oleh sebuah tanda merah yang ada di bagian lehernya Arumi. Aliyah menatap jelas-jelas tanda merah itu dengan tatapan lekat. Aliyah paham apalagi dia bukan anak kecil lagi, lagian film dewasa juga sering kali ia tonton.
"Rum, leher kamu kenapa?" tanya Aliyah penuh curiga, tidak mungkinkan Arumi di gigit seekor serangga nakal. "Mau mengelak apalagi kamu Rum?" batin Aliyah dalam hati.
Arumi semakin gusar, kenapa sih Aliyah ini bawel sekali?
"Sayang siapa sih yang datang?!" seru Azka dari ruang tengah, ia cukup kesal menunggu Arumi yang cukup lama. "Mana perutku lapar lagi," gumamnya dengan kesal.
"Sayang," pekik Aliyah.
"Tidak salah lagi, ada mobil Azka di depan pasti Azka menginap di rumah Arumi," batin Aliyah dalam hatinya.
"Ada Azka ya." Aliyah menatap Arumi penuh tanda tanya.
"Itu Al...anu...."
__ADS_1
"Rum, ada mobil Azka di depan," potong Aliyah sambil menunjukkan mobil warna hitam yang terparkir rapi di halaman rumah Arumi.
Kali ini Arumi sudah tidak bisa berkutik lagi, mau buat alasan apalagi? Aliyah sudah mendengar suara Azka juga.
"Baiklah Al, aku jujur, Azka memang ada disini," kata Arumi jujur kepada Aliyah.
Aliyah mengangguk. "Dia menginap? Jangan bohong Rumi, kamu melakukan sesuatu dengan Azka," cecer Aliyah. Sebagai sahabat Aliyah hanya kawatir akan Arumi, masa depannya masih sangat panjang, jika sampai hamil bagaimana? Kalau Azka mau tanggung jawab kalau tidak? Siapa yang rugi? Sudah jelas Arumi yang rugi.
"Azka tid..."
"Rum, tanda merah di lehermu jelas terlihat, lalu itu di bagian dada kamu juga merah, itu pasti ulahnya dia kan? Sepercaya apa sih kamu sama dia? Kok kamu sampai rela merelakan tubuh mulusmu?" ujar Aliyah, ia masuk dan Arumi juga ikut masuk.
Saat melangkah kakinya Arumi terdiam, apakah aku melakukan hal seperti ini salah? Aliyah tanya jika aku hamil bagaimana? Aku yakin Azka pasti mau tanggung jawab, lagian Azka kan sudah janji padaku sebelum melakukan hal seperti ini.
"Aku sangat mencintainya Al, dia bilang kalau terjadi apa-apa padaku dia akan bertanggung jawab," kata Arumi dengan mantap.
"Dan kamu percaya itu?" tanya Aliyah.
Aliyah mengangguk, susah pastinya di nasehati juga belum tentu mau mendengarkan. Biarkan saja mereka sudah sama-sama besar, jika terjadi sesuatu ya mereka yang akan menanggungnya.
"Ehh ada Aliyah, apa kabar Al?" tanya Azka dengan santainya.
"Baik Ka, kamu sendiri bagaimana kabarnya?" Aliyah bertanya balik sambil duduk di sofa.
"Aku juga baik Al," sahut Azka dengan santai.
Azka mengalihkan tatapan matanya ke Arumi yang masih berdiri. "Sayang aku lapar, buatin makanan dong!" pinta Azka manja.
__ADS_1
Aliyah sekilas menatap muak Azka. Bahkan mereka sekarang bersikap layaknya pengantin baru, lihat Azka saja sudah berani menyuruh Arumi untuk membuatkan makanan untuk dirinya.
"Kamu mau makan apa sayangku?" tanya Arumi, seketika membuat pendengaran Aliyah menjadi geli dan rasanya ingin muntah.
Apa mereka sedang bermain film drama? Lihat mereka memerankan peran mereka masing-masing dengan baik.
"Mie instan boleh sayangku," sahut Azka dengan manja. Astaga rasanya aku semakin mual, jika aku lama-lama di sini, entah apa yang akan terjadi?
Arumi pergi ke dapur, lalu ia membuatkan mie instan untuk Azka.
Saat Arumi sedang membuat mie instan, Aliyah dan Azka saling cuek. Mungkin Azka enggan mendengar kebawelan Aliyah.
"Azka," dengan nada serius akhirnya Aliyah membuka pembicaraan. Seketika detak jantung Azka berdetak kencang. "Pasti dia bakal ceramah panjang kali lebar," batinnya dalam hati.
"Iya Al," sahutnya agak gugup.
"Azka, aku minta kamu jangan sakiti hati Arumi. Kamu jangan hancurkan masa mudanya hanya karena nafsu sesaat kamu saja," ujar Aliyah dengan tegas.
Azka meringis tatapan matanya tampak tidak suka pada Aliyah. Karena Aliyah terlalu ikut campur akan urusan Arumi dan dirinya.
"Al, kita sudah sama-sama besar dan kita tahu mana yang salah mana yang benar. Lagian Arumi nya juga mau, bukan aku yang maksa," sahutnya dengan entengnya.
"Kalau tidak..."
"Sayang, ini mie instan kamu," mata Arumi berbinar-binar terlihat dia sangat bahagia sekali saat melihat Azka.
Aliyah memilih diam dan tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia