
"Mas Bima....."
Mendengar suara yang tidak asing Bima menoleh ke sumber suara.
"Aliyah...." tiba-tiba Bima gagap.
Entah ada perlu apa Bima datang ke rumah Aliyah?
Aliyah berjalan menuju ke depan rumahnya, ia cukup heran melihat Bima datang ke rumahnya karena tidak biasanya. Membuat aku senam jantung saja ini duda tampan pujaan hati.
"Ayo masuk, Mas!" ajaknya dengan nada lembut. Dasar Aliyah biasanya juga suaranya cempreng eh mendadak di lembut-lembtin. Wajarlah kan ketemu sama duda pujaan hati.
Bima semakin gugup, kenapa aku menjadi segugup ini di hadapan gadis kecil ini? Sambil menahan rasa gugupnya Bima mencoba untuk tetap tenang dan ia menatap Aliyah dengan tatapan lembut.
Astaga saat matanya menatapku selembut itu sungguh hatiku semakin berdebar dan ingin sekali loncat keluar. Bahkan dinding rahimku bergetar saat aku membayangkan tubuhnya yang begitu perkasa, pasti duda tampan ini sangat hebat di atas ranjang tempat tidur, Aliyah otakku semakin traveling jauh, sadar Aliyah jangan nodai otak polosmu itu dengan pikiran nakal. Ahh tapi sudahlah lagian sudah terlanjur membayangkan.
"Emm tidak usah, Al," jawabnya semakin gugup dan kali ini tampak gugup.
Aliyah malah senyam-senyum, mungkin Mas Duda ini tidak mau masuk ke dalam karena takut hilaf dan akhirnya terjadi sesuatu di dalam sana. Aduh Aliyah cukup Arumi saja yang gila karena merasakan bucin tai kucing, iya tai kucing pun rasanya coklat. Kamu jangan ikut-ikutan gila, nanti kalau aku tekdung pasti aku akan di gorok oleh Paman dan Bibiku.
Akhirnya Aliyah mengajak Bima duduk di teras rumahnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Aliyah dengan nada lembut.
__ADS_1
"Al, aku mau minta tolong padamu, tapi kira-kira kamu mau tidak?" Bima bertanya ragu-ragu, ia juga merasa tidak enak sebenarnya.
Aliyah kali ini memasang wajah serius tapi tetap cantik dan imut.
"Minta tolong apa, Mas?" suara Aliyah begitu merdu, tidak biasanya.
"Nanti malam ada acara kantor, tapi di suruh membawa pasangan dan aku...." kata Bima terhenti karena ragu untuk melanjutkannya.
Aliyah terdiam, mungkin Mas Bima mau menitipkan Ayuna padaku. Bukankah itu hal bagus, jadi aku bisa semakin dekat dengan Ayuna. Lalu perlahan-lahan aku dekati bapaknya. Aliyah kamu memang pintar, dalam hatinya Aliyah memuji dirinya sendiri.
Ehh tunggu pasangan, apa dia mau pergi bersama dengan wanita pakaian kurang bahan itu? Itu tidak bisa di biarkan, wanita itu terlihat begitu genit dan nakal. Kalau Mas Bima diajak ngamar bagaimana?
"Dan apa, Mas?" Aliyah sangat penasaran dan tidak sabar ingin mendengar kelanjutannya.
Aliyah sejenak terdiam, jual mahal sedikit dong biarkan Mas Bima menunggu jawabanku dengan cemas.
Setelah beberapa lama Aliyah terdiam, Bima tampak gusar. "Apa Aliyah tidak mau ya?" pikirnya dalam hati.
"Aliyah," dengan hati-hati Bima memanggil Aliyah.
"Eh iya Mas," sahut Aliyah sembari tersenyum kecil.
"Bagaimana, apa kamu mau?" tanya Bima, mudah-mudahan Aliyah mau aku ajak.
__ADS_1
"Aku mau Mas," jawab Aliyah dengan nada lembut.
Akhirnya Bima bernafas dengan lega, tidak sia-sia aku datang pagi-pagi ke rumah gadis kecil ini.
"Oh iya acara jam 7 malam. Ayuna tidak ikut bersama dengan kita, dia aku tinggal karena takut acaranya sampai malam," ujar Bima dengan nada lembut.
Aliyah mengangguk, jika Ayuna tidak ikut, itu akan bagus aku jadi bisa berduaan dengan Mas Bima.
Ayuna sayang maafkan calon mama tiri kamu ya nak, nanti malam hanya pergi berdua dengan papa kamu.
"Iya Mas," jawab Aliyah singkat.
"Untuk urusan dandan dan gaun semuanya sudah siap di rumahku. Nanti jam 4 aku jemput kami, biar kamu di dandanin dulu, kan kalau dandan biasanya butuh waktu lama," ujar Bima padahal mah biar bisa berduaan agak lama dengan Aliyah di rumahnya nanti. Apalagi Ayuna juga sedang pergi jalan-jalan dan dia menginap di hotel tapi Aliyah tidak tahu akan hal ini.
Aliyah mengangguk, setelah tujuannya tersampaikan Bima pamitan pulang dan Aliyah bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, Aliyah jingkrak-jingkrak ke girangan. Mungkin karena terlalu bahagia, dasar gadis kecil yang sedang bucin itu rata-rata memang gila. Tapi mudah-mudahan Aliyah gilanya tidak seperti Arumi dan Azka.
Aliyah terdiam sendirian, ia tidak sabar menunggu jam 4 sore dan Bima akan datang menjemputnya.
Di saat Aliyah gelisah menantikan kedatangan Bima di sisi lain. Arumi dan Azka kembali memadu kasih cinta mereka di atas ranjang tempat tidur.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia