Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Tumben Sekali


__ADS_3

Rita dan Regi pagi-pagi sudah memperdebatkan masalah yang Aliyah menyukai seorang duda, keduanya sama-sama geram.


"Anak di besarin bukannya nurut apa kata orang tua, ini malah seenaknya sendiri, bilangin itu sama ponakanmu!" ujar Rita geram, tatapannya pada Regio juga tampak sengit.


Tadi malam sebelum tidur Rita sudah menceritakan semuanya pada Regi tentang Aliyah.


Saat mendengar ceritanya Regi sudah sangat geram, lalu ini pagi-pagi sudah membahas hal yang sama lagi.


"Lah kamu juga Bibinya," sahut Regi enteng.


"Ehh ingat, Mamanya Aliyah itu adekmu!" tatapan Rita semakin geram, padahal sudah ku pilihkan Rona laki-laki yang cocok untuknya.


"Sudahlah, terus sekarang mau kamu apa?" tanya Regi malas.


"Nanti siang ke rumah Aliyah, pasti dia sudah pulang dari sekolah, biar aku omelin dia." Rita sudah sangat marah, tidak rela aku jika Aliyah harus menikah dengan seorang duda.


"Baiklah nanti kita kesana," sahut Regi melanjutkan sarapannya.


***


Kini jam menunjukkan pukul 9 pagi, Aliyah, Arumi dan Azka, mereka sedang menikmati makanan mereka di kantin.


Biarpun Aliyah pikirannya tidak tenang karena memikirkan Bima, tapi dia tetap doyan makan, ya namanya lapar habis ngerjain tugas dari Guru, jadi wajar kalau aku makannya banyak.


"Rumi, nanti pulang sekolah mampir ke rumahku ya!" pinta Azka, menatap Arumi lembut.


"Iya sayang, ada Mama dan Papamu tidak?" tanya Arumi, tatapannya penuh arti. Sudah lama tidak di belai sama Azka.

__ADS_1


Hadeh Arumi, padahal sudah sering kali di emek-emek oleh Azka, katanya jarang, nanti kalau tekdung saja baru tahu rasa.


"Lah, memangnya kenapa kalau Mama dan Papanya Azka, Rum? Bukannya itu jauh lebih baik, kalau berduaan di rumah itu tidak baik, takut ada setan yang jadi orang ketiganya," ujar Aliyah pada Azka dan Arumi.


"Ah kamu tidak tahu Al, kalau pacaran itu enakan berduaan tahu, kalau ada kedua orang tua itu risih dan tidak enak," kata Arumi dan Azka tertawa kecil. "Dasar Arumi, sekarang kamu semakin nakal, maunya berduaan terus dulu aja takut-takut lah sekarang maunya di emek-emek terus kalau ketemu," batin Azka dalam hatinya.


"Wajar sayang, Aliyah kan masih terlalu polos belum merasakan surga dunia," cibir Azka membuat Aliyah mendelik kesal.


Lagian Azka, aku ini perempuan baik-baik dan kesucian itu sangat penting bagiku, biarkan saja nanti aku dengan suamiku yang akan merasakan surga dunia yang sesungguhnya. Daripada tekdung duluan, aduh aku tidak mau kalau itu sampai terjadi, lebih baik aku menikah muda dan menjadi Ibu muda yang baik untuk anak sambung aku nanti.


"Halah kalian ini, kalau tekdung saja kalian bakal kalang kabut," cibir Aliyah balik, yakin jika itu terjadi pasti keduanya tidak akan bicara sembarangan seperti ini lagi.


Setelah selesai makan, mereka bertiga kembali ke kelas dan pelajaran selanjutnya di mulai.


***


Saat jam pukul 12 siang dan bell pulang berbunyi semua murid pulang.


Sesampainya di rumah Azka tanpa malu-malu lagi mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar Azka, sebagai seorang gadis Arumi sudah tidak ada malunya bahkan ia membuka pakaiannya di hadapan Azka saja sudah biasa.


"Sayang, lato-lato kamu semakin montok ya," puji Azka dengan nakal.


"Ini semua karena ulahmu, sayangku," sahut Arumi berjalan ke Azka, lalu duduk di pangkuan Azka.


"Aaa sayang!"


Azka dengan cepat membuka mulutnya ketika Arumi mengarahkan satu lato-latonya ke mulutnya.

__ADS_1


Azka menyusu bagikan anak bayi, tapi lagi-lagi Arumi tidak risih, ia malah senang dan merasa keenakan.


Setelah lelah dengan kegiatannya, Azka menghentikan kegiatan itu. Lato-lato milik Arumi juga tampak bengkak, dasar Azka sudah gede tapi suka banget nyusu.


"Lanjut sayang, aku sudah tidak tahan," kata Azka mengelus keris pusakanya yang sudah berdiri tegak, siap tancap tentunya.


Arumi mengangguk, tanpa menunggu lama pergulatan panas di atas kasur akhirnya terjadi. Suara de sa han dan erangan terdengar dari mulut keduanya, saling bersahutan merdu.


Dua anak muda ini tidak ingat masa depan, untuk anak-anak muda jaman sekarang ingat ya kalau kesucian itu harus di jaga! Jangan sampai nyesal di belakang, kalian harus menjaganya dengan baik!


***


Aliyah akhirnya sampai di rumahnya, namun ia kaget saat melihat Paman dan Bibinya ada di teras depan rumahnya.


"Paman, Bibi, ada apa? Tumben sekali mereka datang ke rumah, uang bulanan kan sudah di transfer," perasaan Aliyah tidak enak.


Aliyah melangkahkan kakinya dengan pelan ke depan rumahnya.


"Akhirnya anak nakal ini pulang," kata Rita membuat Aliyah menatap bingung.


"Paman, Bibi, ada apa?" Aliyah bertanya dengan hati-hati.


"Mana duda itu?" tanya Rita dengan suara lantang.


Duda, kenapa Bibi bertanya tentang duda? Aduh perasaanku semakin tidak enak.


Entah apa yang akan terjadi pada Aliyah nanti?

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2