
"Ayunnnaa!!"
Seru Bima, lega sekali melihat Ayuna sedang duduk bersama dengan Aliyah.
"Papa!!"
Melihat sang Papa berjalan menuju ke arahnya, Ayuna langsung memeluk Aliyah dengan erat.
Bima duduk di hadapan Ayuna, ia menatap putri kecilnya dengan lembut.
"Yuna, ayo pulang!" pintanya dengan nada lembut.
"Tidak mau Papa galak," tolak Ayuna dengan cepat.
"Maafkan Papa karena Papa tadi sudah marah pada Ayuna, lagian Ayuna di suruh makan susah," dengan tulus Bima meminta maaf pada putri semata wayangnya.
Bima tadi memang memarahi Ayuna, bukan tanpa alasan tapi Ayuna susah di suruh untuk makan dan Bima kawatir kalau Ayuna sakit jika tidak mau makan, makanya Bima marah pada Ayuna.
"Yuna tidak mau." Ayuna masih meranjuk, ia masih terus memeluk Aliyah dengan erat.
Aliyah perlahan-lahan melepaskan Ayuna dari pelukannya. Lalu ia menatap Ayuna dengan tatapan lembut.
"Yuna, Papa marah karena Papa sayang pada Yuna, tadi Papa marah karena Ayuna tidak mau makan. Jadi sekarang Ayuna makan dulu ya, nanti sakit," tutur Aliyah dengan nada lembut.
Ayuna mengangguk, lalu menatap Aliyah. "Tapi Kakak cantik temani Yuna makan ya," pintanya dengan manja.
Aliyah tersenyum kecil pada Ayuna. "Yuna tapi,"
"Nona Aliyah, aku mohon temanin Yuna makan ya!" Bima memotong kata-kata Aliyah, bahkan dia yang biasanya sedingin es kini menjadi selembut sutra.
Aliyah tercengang tidak percaya, bisa juga manusia kulkas dua pintu itu berbicara selembut sutra. Sungguh tidak aku sangka.
"Baiklah Yuna, Kakak akan temani kamu makan tapi kamu harus makan yang banyak ya, terus tidak boleh buat Papa marah lagi," tutur Aliyah ada Yuna, gadis kecil itupun mengangguk penuh semangat.
Bima langsung mengendong Yuna, lalu mereka bertiga pergi menuju ke rumah Bima untuk makan bersama. Bima yang harusnya kembali ke kantor, ia juga akhirnya tidak kembali lagi, karena baginya anaknya itu lebih penting dari segalanya.
Sesampainya di rumah, Bima langsung mengajak Aliyah ke ruang makan.
Aliyah sampai belum berganti pakaian sekolah, ia bahkan masih membawa tas sekolahnya.
Kini mereka bertiga duduk di kursi meja makan.
"Silahkan makan Nona," dengan nada lembut Bima mempersilahkan Aliyah makan.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan," jawab Aliyah malu-malu.
Ini pertama kalinya Aliyah datang ke rumah Bima, rumah yang begitu mewah dan sangat bersih, bahkan tidak ada debu yang menempel sama sekali.
"Kakak Cantik, Yuna boleh minta tolong di ambilin makanannya sama Kakak tidak?" dengan sopan Ayuna berkata pada Aliyah.
Sungguh kesopanan ini adalah ajaran Papa Bima, ia selalu mengajari putrinya untuk selalu mengatakan minta tolong saat ia hendak menyuruh susternya ataupun orang lain. Dan Ayuna selalu mendengar apa nasehat Papanya, mungkin Bima gagal dalam berumah tangga tapi dia tidak gagal mendidik putri kecilnya.
"Boleh sayang, kamu makan apa?" jawab Aliyah dengan nada lembut.
"Naget ayam sama ayam goreng, nasinya sedikit saja Kak," pinta Ayuna dengan menggemaskan.
Aliyah mengangguk, ia mengambilkan makanan yang di inginkan oleh Ayuna, lalu setelah semuanya di ambil, Aliyah menaruh piring Ayuna di hadapan Ayuna.
"Maaf jadi membuatmu repot," dengan tidak enak hati Bima meminta maaf pada Aliyah.
"Tidak apa-apa Tuan, tidak repot sama sekali," jawab Aliyah seraya menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya.
Samar-samar Bima tersenyum kecil, tapi Aliyah tidak melihat itu.
Kini mereka menikmati makan bersama mereka, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Setelah selesai makan Ayuna tidak mengizinkan Aliyah untuk pulang, ia malah mengajak Aliyah bermain boneka di ruang tengah dan Bima menemani mereka bermain. Urusan kantor bisa di selesaikan besok.
Tapi sedang asik bermain Ayuna merasa mengantuk dan ia tiba-tiba membaringkan tubuhnya di atas karpet lalu memejamkan kedua matanya.
Aliyah dan Bima saling melempar senyum kecil.
"Dia tidur, aku pindahkan ke kamar dulu ya," pamit Bima dan di anggukin oleh Aliyah.
Saat Bima membawa Ayuan ke kamar, Aliyah dengan telaten membereskan main Ayuna, ia menaruh semua mainan itu di tempatnya.
"Akhirnya selesai juga," kata Aliyah dan ia duduk di atas sofa menunggu Bima keluar karena mau pamitan pulang.
"Maaf ya, anakku sudah merepotkanmu," kata Bima pada Aliyah.
"Tidak apa-apa Tuan, sudah sore saya pamit pulang dulu," pamit Aliyah dan di anggukin oleh Bima.
Aliyah bergegas pulang sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Aliyah senyam-senyum sendiri seperti orang tidak waras.
Dalam hati Aliyah, tidak apa-apa duda yang penting tampan, lagian itu duda kenapa imut sekali sih? Jadi pingin gigitkan.
__ADS_1
"Dekatin dulu anaknya, lalu Papanya, setelah lulus SMA aku jadikan dia suamiku," seperti biasa Aliyah sibuk dengan hayalannya yang tingkat dewa itu.
Dapat duda satu anak tidak masalah, anggap saja anaknya itu bonus.
***
Di saat Aliyah sedang tergila-gila sama duda, di sisi lain Arumi dan Azka baru saja selesai memadukan cinta mereka di atas kasur yang empuk.
"Gimana sayang, kamu puas?" tanya Azka setelah selesai ehem-ehem dengan Arumi.
"Aku takut hamil," lirih Arumi ada penyesalan setelah melakukan ehem-ehem dengan Azka.
"Tidak akan, aku pakai pengaman, kalau hamil juga aku akan tanggung jawab," jawab Azka dengan entengnya.
"Kamu benarankan kalau aku hamil, kamu harus tanggung jawab," tegas Arumi pada Azka.
"Iya sayangku," jawab Azka yang lagi-lagi begitu enteng.
Karena kemakan rayuan maut Azka, akhirnya Arumi memberikan kesuciannya pada kekasihnya itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Azka, saat melihat Arumi hendak beranjak dari tempat tidur.
"Mau pakai baju," kata Arumi pada Azka.
"Tidak usah, kita main lagi ya!" larangnya, yang kini mulai menyerang leher jenjang milik Arumi.
"Tapi aku capek, masih sakit juga," lirih Arumi.
"Aku akan melakukannya pelan-pelan, sakit juga di awal saja nanti juga kamu keenakan," bisik Azka dengan suara menggoda.
Tanpa melawan lagi, Arumi hanya menikmati permainan Azka. Lagian benar kata Azka sakit hanya di awal saja, selebihnya enak dan nagih. Apalagi milik Azka juga terbilang besar dan itu membuat Arumi sangat puas.
Kedua orang tua Azka sedang pergi keluar kota, jadi tujuan Azka mengajak Arumi ke rumahnya ya untuk ini. Makanya Aliyah tidak boleh diajak.
Pergulatan panas kembali terjadi di atas kasur, Azka dan Arumi sama-sama menikmati pegulatan itu.
Arumi yang sudah termakan dengan omongan Azka, ia sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya kehormatan seorang wanita.
Kedua orang tua Arumi juga terlalu sibuk dengan urusan mereka, hingga Arumi juga kurang perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1