
Saat pulang dari rumah Aliyah ternyata kedua orang tuanya sudah ada di rumah. Saat Arumi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, tatapan kedua orang tuanya sungguh tidak seperti biasanya. Tatapannya saat ini begitu tajam, terlihat seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
"Mama, Papa," sapa Arumi dengan nada lembut, padahal hatinya sangat takut.
"Duduklah!" titah Farhan dengan sorot mata berapi-api.
Arumi duduk, perasaannya kali ini sangat tidak enak. Ya Tuhan, mudah-mudahan tidak apa-apa, kedua orang tuaku terlihat sangat marah, aku takut sekali. Aku duduk dengan posisi tenang dan aku menundukkan kepalaku, tak berani aku menatap kedua mata kedua orang tuaku.
Risna hanya diam tapi saat ini ia terlihat sangat marah, hanya saja berusaha menahannya.
"Ini apa Rumi?" sebuah benda kecil berbentuk panjang dan terlihat jelas ada garis dua garis merah, itu di lempar ke Arum oleh Wisnu. Ya Wisnu adalah Papanya Arumi. Dari dulu beliau sangat menyayangi putri semata wayangnya ini, tak pernah dia marah pada Arumi sedikitpun dan ini pertama kalinya Wisnu benar-benar sangat marah, kedua matanya terlihat sangat merah padam.
Arumi mengambil benda itu yang jatuh tepat di pangkuannya.
Aliyah yang baru saja sampai di depan rumahnya Arumi, mendengar ada suara Papanya Arumi yang sedang marah-marah dari cela pintu yang sedikit terbuka. Aliyah mengurungkan niatnya untuk masuk, ia takut dan akhirnya memilih untuk pulang.
"Papa, maafkan Rumi..." Arumi menangis di hadapan kedua orang tuanya, ia menyesal sekali tapi ia sadar penyesalan ini tak ada artinya lagi semuanya sudah terjadi.
"Rum, Mama selalu bilang jagalah kesucianmu Nak! Karena itu sangat penting bagi seorang gadis, tapi kamu Nak," tak sanggup Risna terus melanjutkan kata-katanya, ia menangis karena merasa gagal menjaga putri semata wayangnya.
"Siapa yang melakukannya Rumi!" bentak Wisnu sangat marah, akan aku seret laki-laki brengsek yang sudah tega menodai putri kesayanganku.
Arumi terdiam, ia sadar Azka tidak mau mengakui benih yang ada di kandungnya saat ini. "Nak, Mama janji akan merawatmu dengan baik, biarpun Mama harus sendirian," batin Arumi dalam hatinya.
__ADS_1
"Rumi tidak tahu Pa, Rumi di perkosa saat itu," terpaksa Rumi berbohong kepada kedua orang tuanya.
Risna dan Wisnu hanya bisa menangis, malangnya nasib anaknya dan karena kesibukan perkerjaan, mereka sadar mereka lalai menjaga putri kesayangan mereka.
Sungguh Arumi merasa sangat bersalah, ia tidak mau jujur karena Azka yang brengsek itu. Tega sekali Azka menghancurkan masa depan Arumi, tapi ia tidak mau bertanggung jawab.
"Tetap lahirkan anak itu Nak! Biar bagaimanapun anak yang ada di dalam kandunganmu itu tidak salah," ujar Wisnu mulai tenang.
Sangat terharu mendengar Papanya bicara, Arumi beranjak dari tempat duduknya lalu memeluk sang Papa dengan erat dan isak tangis penuh penyesalan dari dalam hatiya.
"Papa, maafkan Arumi," kata Arumi penuh penyesalan.
"Papa maafkan Nak, setelah kamu lulus sekolah. Kamu ikut Mama dan Papa keluar negeri ya! Kamu lahirkan anakmu disana, jangan kawatir ada Papa dan Mama selalu bersamamu. Papa juga akan siapkan baby sistter untuk anak kamu nanti, jadi kamu bisa melanjutkan kuliahmu disana nanti," ujar Wisnu dengan nada lembut, di usap pucuk Arumi dengan penuh kasih sayang.
Arumi mengangguk bersyukur sekali punya kedua orang tua yang begitu menyayanginya.
Arumi hanya menurut pada kedua orang tuanya. Dan setelah lulusan sekolah nanti Arumi akan langsung di bawah keluar negeri oleh kedua orang tuanya.
Kehamilan Arumi juga di rahasiakan agar pihak sekolah tidak ada yang tahu. Karena sebentar lagi akan selesai ujian dan lulusan sekolah.
***
Malam menunjukan pukul 7 malam, Bima terdiam sendirian karena Ayuna menginap di rumah Nenek Ayuna.
__ADS_1
Bima berjalan keluar rumahnya, niatnya sih mau nungguin tukang nasi goreng lewat. Tapi pas sampai di depan rumah malah anak bocah bau kencur pujaan hatinya.
"Aliyah..."
Tanpa berpikir panjang Bima langsung pergi ke rumahnya Aliyah, melihat Aliyah duduk di depan teras sendirian, hatinya langsung berbunga-bunga apalagi tidak ada Ayuna. Tepat waktunya untuk pacaran.
"Mas Bima," sapa Aliyah dan Bima sudah cengar-cengir tidak jelas.
"Mas Bima baik-baik saja?" tanya Aliyah, rasanya ada yang tidak beres.
"Pacaran yuk!" Bima begitu genit, sungguh Aliyah merasa jijik tapi bahagia juga.
Hiih Mas Duda, dasar nakal. Ngajakin pacaran bocah bau kencur, tapi lucu juga sih.
"Kok diam saja? Mau tidak jadi pacarnya Mas?" lanjut Bima, Aliyah terdiam "Lalu ciuman itu? Berati waktu ciuman belum resmi pacaran," sesal Aliyah dalam hati.
"Pacaran! Bukannya kita sudah ciuman Mas, lalu katanya kamu menikah denganku, terus kenapa sekarang malah pacaran?" Aliyah malah marah-marah pada Bima.
Bima mendengus kesal, dasar gadis oon kan biar seperti ABG lainnya gitu, kenapa dia tidak mengerti sama sekali?
"Hush, tenang saja Mas akan menikahimu! Mas akan Mempertanggung jawabkan ciuman Mas itu," tanpa permisi Bima duduk di sebelah Aliyah.
Kini keduanya saling menatap satu sama lain, malam ini mereka pacaran di depan teras. Bag anak ABG yang sedang ngapel Mas Duda ini.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia