
Kelas sudah mulai rame, Aliyah dan Arumi juga sudah duduk di bangku mereka masing-masing. Tapi pagi ini ada yang berbeda dari Arumi, ya Arumi terlihat begitu tegang dan sangat gusar dari tadi, entah ada apa Aliyah juga tidak tahu?
"Rum, kamu baik-baik saja? Apa kamu masih pusing dan mual?" Aliyah mencoba membuka obrolan di anatara mereka, ia bertanya dengan suara pelan.
"Aku sudah baik-baik saja Al, kok sudah mau jam 7 Azka belum juga datang ya Al," terlihat jelas di mata Arumi sedang menyembunyikan sesuatu.
"Entahlah, mungkin dia terlambat Rum," ujar Aliyah pada Arumi.
Sebentar lagi ujian di mulai tapi Azka belum juga datang, biasanya sebelum jam 7 Azka sudah datang tapi hari ini entah kenapa?
***
Azka baru saja sampai di parkiran mobil, ia buru-buru masuk ke dalam kelas, jika tidak maka akan terlambat.
Sesampainya di kelas untung saja kertas ujian baru di bagi-bagi.
"Maaf Bu, saya terlambat," kata Azka pada Guru yang jaga hari ini.
"Tidak apa-apa, duduklah!" titahnya dengan tegas.
Azka buru-buru duduk di bangkunya, tatapan Arumi tak lepas dari Azka. "Aku harus bicara pada Azka, aku harus mengatakan kalau aku hamil," batin Arumi dalam hati.
Kini semua murid mengerjakan ujiannya dengan fokus dan kelas juga sangat tenang.
__ADS_1
Dua jam telah berlalu akhirnya ujian selesai juga, Azka langsung keluar dari kelas tanpa melihat ke arah Arumi, tidak biasanya Azka bersikap cuek seperti ini.
Dada Arumi tiba-tiba merasa sesak, kok Azka tidak menyapanya? Sungguh membuatnya kaget, biasanya Azka sangat perhatian dan begitu bucin tapi ini, aku saja di tengok ataupun di sapa.
"Al, aku ke kantin dulu ya, mau ngomong sama Azka," buru-buru Arumi beranjak dari bangku, lalu mengejar Azka ke kantin.
Azka tadi terlambat karena tadi malam dia menginap di rumahnya Silvi, semalam dia habis ehem-ehem sama Silvi dan melupakan Arumi begitu saja.
Sesampainya di kantin sekolah Arumi melihat Azka sedang makan, lalu ia menghampiri Azka dan duduk di sebelahnya.
"Sayang, kok kamu cuek sama aku?" tanya Arumi dengan nada lembut.
"Aku tadi sangat lapar, makanya aku langsung pergi ke kantin. Kamu sudah makan belum?" Azka berbicara tanpa menatap atau melihat Arumi. Kelihatan sekali Azka itu malas dengan Arumi, ya tidak seperti biaranya.
Hati Arumi semakin sakit, ia sangat ingin di perhatikan oleh Azka seperti biasanya. Kemana Azka yang begitu perhatian dan sayang padaku?
"Tinggal ngomong saja! Ada apaan sih?" lagi-lagi Azka cuek, ia tidak menatap Arumi sama sekali.
"Azka, bisa tidak saat bicara kamu lihat mataku!" rasanya sangat geram, tapi Arumi berusaha sabar.
Azka mendengus kesal, gangguin orang makan saja sih Arumi ini. Biasanya juga tidak ada yang penting, apaan sih yang penting? Buat nafsu makan orang hilang saja.
Akhirnya Azka menghadapkan wajahnya ke wajah cantik Arumi. Ya biarpun tatapannya tidak sehangat biasanya, belum lama dekat dengan Silvi tapi Azka sudah berubah, ia seolah menunjukkan kalau dirinya tidak butuh Arumi lagi.
__ADS_1
"Cepat ngomong! Ada apaan sih?" tanya Azka dengan nada ketus.
"Kamu kenapa sih sama aku?" Arumi menatap Azka dengan tajam.
"Tidak apa-apa, lagi malas saja sama kamu. Cepetan ngomong ada apa?" tanya Azka tidak sabar.
"Azka aku hamil," kata Arumi pada Azka, ia menundukkan kepalanya.
"Apa kamu hamil?" Azka tidak percaya.
"Iya aku hamil, aku sudah cek," jelas Arumi pada Azka.
Azka terdiam cukup lama, ternyata Aliyah sudah berada di belakang Arumi dari tadi. "Arumi hamil," batin Aliyah dalam hatinya.
"Azka, kamu harus bertanggung jawab akan anak ini," pintanya dengan nada lembut. Azka masih terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan?
"Arumi aku..."
"Aku apa Ka? Ini darah daging kamu," lanjut Arumi dengan nada lembut.
"Aku yakin... itu bukan anakku!" tegas Azka dengan yakin.
Arumi terdiam, aku hanya melakukannya dengan Azka, tapi kenapa Azka tega bicara seperti itu?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia