Dunia Mencari Bakat

Dunia Mencari Bakat
1


__ADS_3

Di sebuah rumah yang tenang, halaman dipenuhi bunga-bunga yang indah bermekaran. Kupu-kupu terbang hilir mudik mencari bunga yang banyak madunya. Terdapatlah keluarga yang juga tenang dan biasa saja.


Tiga anak yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan kedua orang tua yang membaca koran sambil memakan cemilan dari meja.


Sang anak bungsu bernama Anne tengah membuat rumah kucing yang kekurangan paku dan salah posisi antar jendela dan pintu.


Lalu ada kakak kedua, Sakura yang sedang mendengarkan lagu dan karaoke dengan asyik sambil menari heboh.


Kakak pertama, bernama Fitria yang berselonjoran di karpet dalam kamarnya membaca majalah.


Setelah itu acara Televisi berganti menjadi sebuah berita pengumuman.


"Pemirsa selamat siang, Kami akan menyampaikan sebuah pengumuman yang luar biasa! Para juri pencari bakat mengundang kalian anak-anak, remaja atau bahkan orang tua, dari usia 10 tahun sampai 70 untuk menunjukkan bakat terpendam kalian! Untuk yang bisa akting, menari, menyanyi, berpuisi dan lainnya disarankan mencoba ikuti program kami!"


Ibu dan Bapak melihat lalu tidak ada reaksi apapun. Keluarga itu sangat tenang, meski terdengar suara gedebam gedebum dari arah kamar Sakura.


"Lagi apa Sakura?" Tanya Bapaknya melipat koran.


"Paling juga sedang joget yang aneh-aneh. Tuh semenjak ada band Korea itu, sudah seperti kesetanan saja dia," kata Ibunya meminum teh.


"Oh, SBS ya?" Tanya Bapaknya.


"BTS, Paaaak," kata Anne dari teras depan.


Bapaknya menganggukkan kepala.


"Ayo! Tunjukkan bakat kalian semua! Juri-juri adalah orang terkenal beberapa musisi yang kalian pasti sudah tahu. Jadi jangan malu, tunjukkan keberanian Anda! Dan kami beritahukan bahwa ada beberapa juri spesial bila Anda bila lulus sampai level 3," kedip sang MC menyampaikan berita itu.


Dalam kamar Sakura yang feminim, dinding berwarna pink tidak akan menduga kelakuannya sangar saat menari dan bernyanyi. Penuh penghayatan.


Tiba-tiba dia dikejutkan karena ada telepon masuk dari saudaranya, Linda ke WhatsApp nya. "Uwadow!" Teriak Sakura melepaskan earphone nya.


Lumayan jadi tulis sesaat.


"Assalamualaikum. Teeeeh!" Teriak yang bersangkutan tampak heboh.


"Ya walaikumsalam. Ada apaan sih, Lin? Ujug-ujug teriak," kata Sakura mengusap telinga kanannya.


"Haha maaf maaf Teteh lagi apa?" Tanya Linda di seberang.


"Lagi karaokean," jawab Sakura lalu duduk di kasurnya.


"Teh, sudah lihat belum tuh di TV acara Pencari Bakat. Ikutan yuk!" Kata Linda semangat.


Sakura kemudian membuka pintu dan melihat TV benar saja sedang heboh-hebohnya pemberitaan mengenai program Dunia Mencari Bakat.


"Haaa tidak ah, malas! Teteh tidak punya bakat," jawab Sakura kembali ke kamar dengan langkah santai.


"Yah Teteh kan bisa menari kita coba saja yuk," ajak Linda lagi.


"Yeee narinya juga nari tarian buat anak-anak kali, Lin. Tari ayam, angsa, tari bunga, itu kan harus kalau mengajar," jelas Sakura tertawa.


"Ayolah Teh. Teman Linda juga mau ikutan tapi kita kurang peserta. Ikut yaaa ya ya ya," kata Linda memelas dan memohon.


Sakura menggaruk-garukkan kepalanya ya dia memang bisa menari tapi hanya untuk di kalangan tempatnya mengajar. Lah ini kan global ya jadi semua tarian harus bisa dong?

__ADS_1


"Tariannya yang bagaimana dulu, Lin? Memangnya sudah di cari tahu?" Tanya Sakura.


"Yakin deh Teteh pasti bisa. Kan Linda juga bisa Teh karena suka Kpop. Teman Linda namanya Stella. Bagaimana Stell?" Tanya Linda yang ternyata mereka sedang bersama.


Stella sedang sibuk mencari tahu dan agak terkejut juga tarian apa yang paling mereka cari. "Lin, kita harus bertujuh lho. Kok agak..." kata Stella terdengar di telepon.


"Tujuh? Mrmangnya bertiga saja tidak bisa?" Tanya Sakura. Tumben DMB mencari yang berisikan 7 orang.


"Nah ini katanya harus ada 7 orang memang aneh sih biasanya juga bertiga atau sendiri kan. Kalau begitu kita kurang 4 orang dong," kata Stella.


"Mau ajak siapa lagi tuh?" Tanya Sakura.


"Masa mereka? Ihhh, ogah amat!" Kata Linda yang tahu apa pikiran Stella.


"Ya bagaimana lagi, Lin. Mereka kan senang tarian beginian. Saudara kamu bisa tidak?" Tanya Stella.


"Lagunya dulu mereka yang seperti apa maunya," kata Sakura menunggu.


"R&B boleh, pop juga. Hmmm tariannya yang lompat-lompat begitu Teh," kata Linda.


"Hah!? Lompat-lompat?!" Tanya Sakura kaget. Lah ya elah setiap hari juga kalau ada lagu Korea lain, Sakura akan ikuti gerakannya.


"Ini maunya kita ikut yang mana sih?" Tanya Stella bingung.


"Kalian mau bernyanyi dan menari? Waaah Teteh menyerah deh kalau dalan suara," kata Sakura tidak percaya diri.


"Menari kok Teh. Kalau nyanyi takut para jurinya malah pingsan," kata Linda tertawa keras.


"Ya sudah deh hayu saja toh Teteh juga setiap waktu sering latihan ikuti gerakan musik boyband. Pengalaman juga kan," kata Sakura memutuskan sambil berdiri.


"Menari saja," kata Linda dan Sakura menjawab bersamaan.


"Ya sudah nanti Teteh juga cari orang deh ya g mau ikutan gabung," kata Sakur apa boleh buat.


"Oke siap-siap," kata Linda lalu menyudahi teleponnya.


Sakura kemudian mandi dan mencari tahu soal program yang bertemakan baru. Setiap 10 tahun sekali memang acara itu membuat acara pencarian bakat. Tapi Sakura tidak berminat karena jurinya juga tidak berubah.


Tapi sekarang dia melihat ada perubahan dan yah kapan lagi bisa menunjukkan sedikit bakatnya meskipun malas sekali.


Kamar diketuk dan ternyata Ibunya yang masuk. "Sakura, kamu coba deh ikutan tuh pencarian bakat. Siapa tahu selain bakat kamu baca komik sama main game, bisa menemukan bakat lain," kata Ibunya semangat.


"Iya ini juga mau tadi Linda telepon ajak ikutan gituan," kata Sakura yang masih membuka laptopnya.


"Eh? Serius? Bagus dong daripada kamu setiap hari jingkrak-jingkrak lebih baik dimanfaatkan," kata Ibunya gembira.


"Kita kekurangan orang Bu," kata Sakura.


"Bertiga kan?" Tanya Ibunya.


"Bertujuh," jawab Sakura.


"Eh, tumben!" Kata Ibunya juga keheranan.


"Ibu mau ikut?" Tanya Sakura menatap Ibunya.

__ADS_1


"Ngaco kamu!" Kata Ibunya memukul kepala Sakura lalu hendak pergi.


"Kan usia lansia juga boleh, Buuu," kata Sakura sedikit mengeraskan suaranya.


"ENAK SAJA!" Balas Ibunya. Sakura tertawa keras.


Akhirnya Sakura berjalan ke teras melihat adiknya yang masih bersusah payah berpikir. "Neee,"


"Apa?" Tanyanya.


Sakura memandangi proyek kandang kucing adiknya yang langsung menyengir. "Itu salah. Mada jendela di tengah-tengah? Itu pintu? Kok dipasang di pinggir? Ohhh lagi buat kandang burung ya," kata Sakura berjongkok.


"Kucing tahu!" Jawab Anne agak sebal. "Memang salah ya?" Tanyanya menyesal.


"Ikutan yu," kata Sakura mencolek kakinya.


"Ikut apa?" Tanya Anne.


"Tuh pencarian bakat," kata Sakura menunjuk ke TV.


"Oraaaaaaa ( tidak mau )," jawab Anne dengan panjang.


"Siapa tahu bisa terkenal. Ayooo kan kamu juga suka Korea," ajak Sakura.


"Aduh, kalau Anne kan banyak tugas kuliah. Ini saja belum kelar, ajak Teteh saja deh. Badannya kan gembul bilang saja supaya cepat langsing. Sana sana!" Usir Anne ke kakak keduanya itu.


Sakura lalu pergi ke kamar kakak perempuannya, Fitria. "Teh, ikutan yuk," kata Sakura memasukkan kepalanya.


"Ikutan apa? Pencarian bakat? Nehi nehi Teteh mah bakatnya sudah tidak perlu dicari. Bisa apapun!" Kata Teteh nya masih membaca majalah.


"Makanya kan sudah tahu bakatnya tuh, yuk ikutan siapa tahu terkenal," ajak Sakura.


"No no no Teteh kalau ikut begituan wah bisa sangat terkenal. Jadi tidak perlulah ikut," kata Fitria.


"Bakat makan yang aku tahu Teteh mampu begitu. Buktinya itu badan gembul seperti kelinci. Ayo dong kita daftar siapa tahu bakat Teteh yang lain muncul," kata Sakura.


"Eh, sialan disebut gembul. Gendut tapi sehat tahu! Kamu mau ikut bakat apa?" Tanya Fitria yang kini duduk di karpet.


"Tari," kata Sakura.


Fitria lalu rebahan lagi. "Oraaaaa! Capek ah! Nanti Teteh berkeringat banyak bagaimana? Kan malu," kata Fitria mengambil majalah yang lain.


Bisa dibayangkan kalau kakak pertamanya itu ikut, tempat mereka diuji pasto langsung ambruk.


"Kalau aku nanti terkenal jangan iri ya," kara Sakura.


"Terkenal?" Tanya Fitria menatap adiknya itu. "HAHAHA mana mungkin kamu bisa terkenal. Badan kurus begitu," katanya dengan kejam.


Sakura panas telinga mendengarnya kemudian ingat sesuatu lalu menenangkan dirinya. "Kalau keringatan kan bisa di seka handuk. Tapi memang sih kalau Teteh ikut satu ruangan aku yakin pada koit," kata Sakura.


Fitria menatap adiknya penasaran. Sampai koit? "Memangnya kenapa?" Tanyanya.


"Teteh kan kalau berkeringat bau badannya dahsyat. Keteknya apalagi," kata Sakura yang langsung kabur menutup pintu kamarnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2