Dunia Mencari Bakat

Dunia Mencari Bakat
10


__ADS_3

Selang beberapa jam lamanya sampai mereka semua pegal akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Gedung Dunia Mencari Bakat yang sudah dijejali oleh ribuan peserta.


Semuanya mendadak tegang terutama A dan ketiga temannya. Bus travel mengeluarkan para peserta single dan juga kelompok. Mereka menggunakan berbagai macam kostum hiasan, dan perlengkapan lainnya.


"Wah, keren!" Seru Sakura melihat beberapa grup memakai cosplay Final Fantasi.


"Mereka itu mau adu bakat apa sih? Pakaiannya mencolok begitu," kata A dengan pandangan mengejek.


"Akting. Itu ada tulisannya. Aku mau lihat dulu ya sekalian berfoto juga," kata Sakura sambil membawa koper besarnya.


"Hei hei, kita kemari itu mau adu bakat menari lho masa kamu lebih antusias melihat bakat mereka?" Tanya B


Linda dan Stella berpandangan.


"Kalian itu tidak sopan ya. Usia Teh Sakura itu lebih tua dari kita lho. Sopan sedikit kenapa?" Tanya Linda berkacak pinggang.


"Halah buat apa juga. Kelakuan saudara kamu itu kekanak-kanakan, masa usia tua masih saja suka sama cosplayer?" Tanya D menertawai.


"Lho, hak-hak orang dong suka dengan apa. Lagipula aku juga suka lihat orang yang memakai. Situ norak," kata Linda yang ikut dengan Sakura.


"Mereka keren ya dandanannya sama sekali totalitas. Demi lulus coba," kata Stella memandang kagum.


Sakura yang sekarang meminta ijin berfoto pun akhirnya diijinkan begitu juga dengan Linda. Banyak sekali yang memilih memakai pakaian anime atau bergaya Eropa.


Sakura berterima kasih lalu sekalian bertanya. "Setelah datang kesini, lalu kita harus apa?" Tanya Sakura memasukkan ponselnya.


"Kalian sudah dapat nomor saat mendaftar? Kalau kami mendaftar anggota langsung dapat. Seperti ini," kata salah satu anggota cosplay memperlihatkan nomornya.


Sakura melihat ke belakang ternyata mereka semua mengikutinya. Sakura dan yang lainnya mengambil nomor tersebut.


"Ada. Kami juga menerima," kata Stella.


"Nanti katanya nomor ini akan dipanggil untuk suatu sesi. Kita juga masih belum mengerti sih," kata Ketua tim.


"Ada kemungkinan bila performa salah satu anggota bagus, akan dipisahkan," kata Esi yang memakai kostum lainnya.


"Wah! Jadi ada penilaian sendiri ya," kata C agak kaget.


"Ya pasti. Meskipun kita berkelompok kalau menurut juri bagus penampilannya atau suaranya jernih, yaa... bisa dipisahkan dengan kelompok lain," kata ketua mengangkat bahunya.


Semuanya menganga dan merasa ini tidak adil. Seharusnya akan lebih baik bila semuanya terpilih.


"Nama kelompok kalian apa?" Tanya anggotanya yang lain.


A memperlihatkan nama yang dia buat menggunakan kartu yang dikalungkan di lehernya. "Glitter," katanya dengan bangga.


Mereka semua menatap para anggota Glitter dan agak tertawa. "Sepertinya kurang cocok deh," kata yang lain.


"Harusnya sih semua anggota memiliki kalung seperti kamu," usul ketua.


"Kalau semuanya punya mahal dong biayanya," kata D membuat Sakura dan yang lainnya menghela nafas.

__ADS_1


"Owh," kata mereka semua mengangguk meskipun sangat aneh.


"Kamu cosplay nya keren. Semangat ya," kata Sakura.


"Hahaha ya sukses juga untuk kamu dan kelompoknya ya," kata yang lainnya tertawa.


Sakura lalu ditarik oleh A karena merasa dia malah menyemangati orang lain. "Kamu ini bagaimana sih malah memberi semangat ke orang lain? Kelompok kita dong,"


Sakura menepis tangan A lalu pergi dengan tidak peduli. Linda dan Stella juga mengikutinya dan memilih berteduh di bawah atap.


"Hei, aku baru dapat info nih katanya kalau kita lulus, akan dinaikkan level kan nah nanti kita akan dapat juri spesial," kata yang lainnya.


Sakura mencuri dengar apalagi suara peserta itu sangat keras membuat peserta lain menjadi heboh.


"Wah!" Kata Linda yang kaget.


A dan ketiga temannya alhasil datang lagi dan memutuskan ikut berdiri bersama mereka bertiga, tanpa bicara.


"Jurinya dari Indonesia?" Tanya 1.


"Katanya spesial yah mungkin dari luar negara," kata 2 dengan semangat.


"Jangan-jangan... BTS!!"


Alhasil semuanya semakin semangat. Apalagi mereka yakin soal iklan pasti ada maksud tertentu.


Lalu ada pemberitahuan dan diberikan lah selembaran yang isinya ternyata kelompok-kelompok yang sudah mendaftar. Mereka diarahkan unyuk menyimpan koper mereka di 10 gedung.


Sakura memakai sepatu kets berwarna hijau begitu juga dengan Linda dan Stella hanya berbeda model dan warna. Mereka berempat menatap ketiganya dengan pandangan tidak suka.


"Kamu ke sini kok pakai sepatu kets sih," kata B.


"Kita kan nama kelompoknya Glitters. Kalau kalian sepatunya begitu namanya jadi aneh!" Kata C.


"Memangnya kita setuju sama nama begituan? Kalau memang namanya Glitters harusnya kalian mencerminkan dong dengan namanya," kata Stella mengibaskan rambutnya.


"Aku suka glitter tapi kalau untuk gaya pakaian, kalian atur-atur. Sori ya," kata Sakura menolak.


"Aku juga lebih suka begini," kata Linda.


Saat hendak membalas, beberapa orang memakai kemeja biru keluar dan memberikan pengumuman.


"Ayo, yang sudah meletakkan koper dan tas mulai berbaris. Tenang saja disini aman, tas kecil sebaiknya kalian simpan juga dan hanya bawa nomor," kata orang itu.


Semuanya kemudian mulai berbaris sesuai dengan kelompok mereka. Satu aula masuk semua koper dan tas dari para peserta.


"Bentuk lingkaran bila kalian mendaftar secara berkelompok. Yang sendirian bisa berbaris di sebelah sini," kata petugas yang lainnya.


Ternyata lebih banyak yang mendaftar sebagai single daripada grup. Saat mereka semua masuk dan mulai membentuk sesuai arahan petugas, para peserta tanpa sadar berpapasan dengan Jeon Jungkook.


Dia menyamar sebagai petugas kebersihan dengan pakaian berwarna oren dan juga topi oren. Tidak ada yang menyadarinya karena rambutnya dia masukkan dan dibuat berbeda.

__ADS_1


Kelompok Glitter mencari tempat untuk membentuk lingkaran kecil. Karena terlalu banyak peserta, tempat hampir kehabisan. JK lalu berinisiatif dengan menunjukkan tempat yang lumayan dan mereka bisa membentuk kelompok.


"Terima kasih," kata Stella.


JK mengerti karena menggunakan alat penerjemah. Dia membungkuk lalu pergi.


"Syukurlah. Kenapa petugas itu tahu kalau masih ada tempat ya?" Tanya Sakura agak aneh.


"Iya juga ya ini kan terpencil sekali dan Linda lihat juga, beberapa orang tidak ada yang sadar," kata Linda merasa aneh.


Sambil menunggu arahan selanjutnya, D masih memperhatikan cara berpakaian dan sepatu yang dikenakan mereka bertiga.


"Sakura, kamu kan perempuan masa mau kompetisi pakai sepatu kets sih?" Tanya D.


"TETEH! Dasar minus attitude," gerutu Stella kesal.


Yang mendengar itu bukan beberapa orang dan para peserta lain saling berbisik. Karena merasa tidak enak, D membenarkan.


"Maaf. Teh Sakura," ulang D dengan nada kesal.


"Tidak apa-apa memangnya kalau perempuan tidak boleh pakai sepatu kets? Biarkan saja Lin, lebih enak kalau dipanggil nama kecuali Linda karena sudah tahu kan," kata Sakura.


"Tetap saja Teh itu tidak sopan," kata Linda.


Karena begitu akhirnya semuanya memanggil dengan namanya.


"Sakura, kamu tomboi ya? Soalnya sewaktu jalan juga agak mirip laki-laki," kata A.


"Hahaha kalau Teh Sakura pakai topi jaketnya apalagi sekarang saja pakai celana jeans. Kalau ditutup, laki-laki banget! Teman-teman SMA aku saja salah mengenali Teteh lho," kata Linda sambil tertawa.


"Oh, yang waktu itu ya," kata Sakura mengingat-ingat pengalaman buruk itu.


"Serius?" Tanya B tertarik.


Mereka berdua saling berpandangan dan Sakura memakai topi jaketnya menyembunyikan kerudungnya lalu menutup penuh jaketnya. Bergaya seperti pose lelaki, semuanya menganga.


"WOW! KEREN!" Teriak peserta lain yang melihat gaya Sakura.


"Coba laki-laki ya. Aku pasti langsung kesemsem tuh," kata yang lain.


"Untung aku perempuan," kata Sakura lalu membuka jaketnya. Yang lain lalu mengeluh.


"Bagaimana? Keren kan. Teteh badannya tinggi sih, langsing juga meski tidak berotot," kata Linda masih tertawa.


"Kenapa teman-teman kamu sangat memuja waktu itu?" Tanya Stella.


"Udaranya dingin waktu Teteh datang ke tempat Linda jadinya semua ditutup. Eh, malah dapat salam tempel untuk bukan di *****, hanya sun pakai tangan. Kan seram," kata Sakura.


Mereka berdua tertawa tidak dengan empat lainnya yang masih terkesima menatap Sakura tadi. Mereka tidak percaya dengan yang dilihat, Sakura berubah menjadi lelaki dalam sekejap.


JK yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, hanya tertawa dan memang agak kagum. Sakura bisa melakukan penyamaran dengan melakukan yang tadi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2