
Di hari-hari berikutnya mereka berlatih dengan giat sebagai satu kelompok. Lagi-lagi D kesal karena Sakura memperbaiki gerakan dan mengubahnya, D lagi-lagi juga menambahkan gerakan balet. Yang tentunya membuat semua anggota protes.
"Bisa tidak sih tarian balet tidak kamu tambahkan sebagai gerakan tari? Kita ini bukan penari balet seperti kamu!" Kata Stella kesal.
"Aku ini ketua ya jadi kamu sebagai anggota ikuti saja," kata D tidak mau kalah.
Perseteruan mereka sudah tentu jadi bahan tontonan kelompok lain.
"Kalau begitu jangan salahkan kami kalau pentas, kami enggan memakai gerakan itu. Kamu saja kan suka jadi sorot lampu," kata B yang keberatan juga.
"Jadi kamu juga membela?" Tanya D.
"Tapi memang sulit sih D, kamu bisa jinjit selama itu. Aku tidak bisa," kata A mencoba dan akhirnya kram.
Setiap kali waktunya latihan pasti saja kelompok Glitter heboh sendiri. Entah tarian entah musik pasti selalu komentar, banyak kelompok yang menghindari mereka satu aula.
Apalagi ada Sakura yang selalu melawan A dan D. Mereka semua hanya menggelengkan kepala melihatnya.
"Kalau kamu mau jadi Ketua, lihat dong anggota lain bisa tidak memperagakan gerakan kamu. Kalau mau yang sulit, kasih kek langkah-langkahnya bukan langsung praktek. Coba kamu bisa tidak mengajari?" Tanya Sakura berkacak pinggang.
"Wah wah iya ya beda sekali yang langsung dipilih sama JK ya, pasti merasa tinggi makanya bisa bicara seperti itu!" Balas D dengan suara tinggi.
"Kenapa? Iri ya?" Tanya Linda tertawa.
"Ini bukan dipilih atau langsung kepilih ya memang kamu itu tidak pantas jadi ketua!" Kata Sakura dengan suara keras juga.
"Hei, sudah. Bagaimana kalau kalian latihan sendiri saja? Kamu juga ketua harusnya bisa memberikan contoh bukan asal beri gerakan," kata peserta lain.
"Diam kamu! Bukan anggota sini juga. Sana latihan yang benar!" Teriak C mendorong.
Yah, pokoknya jadi semakin kacau deh.
"Memang itu masalahnya kok," kata A.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak berusaha lebih baik? Kalau kamu memang ingin dilirik dan dipilih, latih yang benar dong! Kalau tahu begini, lebih baik kamu turun jadi ketua!" Kata Sakura.
Jin dan Suga mengawasi mereka semua dari ruang CCTV dan sama-sama menghela nafas. Sakura ternyata memang sulit diatur yah, karena ketuanya juga yang bertindak seenaknya.
Dalam layar televisi, mereka semua terus protes dan adu argumentasi, JK terlihat datang ke sana dengan penyamaran yang lain. Alhasil membuat Jin harus turun tangan dan melerai semuanya.
Latihan pun dimulai mereka memilih saling berjauhan daripada dekat satu sama lain. Sang MC korea pun membantu untuk menenangkan para peserta lain yang ikut adu bacot.
Pukul 12 waktunya istirahat, Sakura memilih makanan di tempat makan dan duduk terpisah. Linda dan Stella bergabung, sedangkan sisanya mereka berada di lapangan rumput belakang gedung.
"AAAA!! Aku tidak tahan lagi! Si Sakura itu lebih baik dikeluarkan saja dari kelompok!" Seru D sambil garuk kepalanya.
"Iya juga kita kan sudah lulus babak pertama jadi yang kedua pasti tidak akan sulit kan," kata C mengangguk.
"Tapi apa tidak lebih baik bila kita bertahan sampai akhir? Kan dia juga punya andil dalam kelompok ini. Apa kalian lupa kalau dia sanggup merias kita semua?" Tanya B mengingatkan.
Mereka diam ya karena riasannya dia mereka semua bisa lulus.
"Jadi kamu membela dia ya? Mau kami keluarkan juga?" Tanya A mengancam.
B terdiam tentu dia masih ingin berada di kompetisi ini, siapa tahu bisa jadi pemenangnya.
"Bukan begitu maksud B coba kalian lihat dari sisi lainnya, tidak semua protesnya buruk kok. Soal gerakan tarian balet kamu kan memang kita semua tidak ada yang bisa," kata C menambahkan.
__ADS_1
"Sudah! Aku sarankan kita keluarkan Sakura dari kelompok!" Kata A membulatkan.
Secara tidak sengaja Linda dan Stella muncul karena sedang jalan-jalan.
"Eeeh enak saja! Yang harusnya dikeluarkan itu ya kalian!" kata linda marah.
"Memang kenapa harus kami? Kan kalian juga yang butuh kami sebagai pelengkap kan," kata A dengan jutek.
"Nah, itu kalian tahu. Pelengkap! Siapa juga yang minta orang kamu sendiri yang berinisiatif," kata Linda lagi.
Mereka semua berdiri dan mulai berlagak seperti preman kampus.
"Kalian itu tidak sopan juga," kata Stella menantang juga.
Stella menceritakan semuanya termasuk soal pertanyaan juri soal riasan mereka. D tidak pandai merias wajah hanya bisa datang ke salon. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka semua menunduk.
Linda juga berkata siapa lagi yang bisa menghias wajah mereka jadi terlihat lebih glowing kalau bukan Sakura. Mengenai seragam B dan C pun malah dibilang ibu mereka yang menjahit.
"Ibu kalian kan orang sibuk mana ada waktu menjahit yang seminggu lagi mau pentas," kara Linda membuat mereka berdua terdiam.
"Memangnya kenapa kalau itu hasil dari saudara kalian? Kalau tidak suka, sana keluar!" Teriak D.
Beberapa peserta yang lewat langsung melaporkan pada MC Korea, dia hanya menghela nafas. Untungnya V dan RM langsung bertindak cepat, V melihat kalau Rita sedang menikmati makanannya.
"Stop it! Why do you guys always fight? You guys are adults, think of a way out without fighting!"
( Hentikan! Kenapa kalian selalu bertengkar? Kalian sudah dewasa, pikirkan jalan keluar tanpa bertengkar! )
Teriak V dengan tegas membuat mereka semua bubar!
"Hhh tampaknya mereka semua tidak cocok satu sama lain," kata V pada RM.
"Yaahhh. Lalu apa ada kabar lain?" Tanya RM.
Mereka berdua berjalan kembali menuju aula tempat mereka nantinya akan bertemu.
"Suga hanya berkata bahwa Sakura selalu bertengkar dengan ketua mereka karena sering memberikan gerakan balet," kata V memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya.
"Apa!?" Tanya RM lalu mengusap wajahnya.
"Apa tidak lebih baik kita bergegas memisahkan yang terpilih? Apalagi kita hanya diberi waktu seminggu," kata V.
"Aku juga tidak yakin kalau semuanya akan sesuai rencana," kata RM.
Dalam ruangan lain, para anggota harus melaporkan tentang pekerjaan mereka selama menjadi petugas gedung. Banyaknya berpendapat bahwa orang yang mereka pilih, ada yang dikucilkan dan ada yang bertingkah sombong.
Ada juga yang terkena teror dari peserta atau fans mereka di luar. Ada juga yang memutuskan untuk mundur karena tidak tahan gunjingan dan hinaan. Bahkan kelompoknya sendiri meninggalkan dia lalu menangis.
"Ada juga yang membuat anggotanya harus tampil bagus," kata Jhope menyandarkan punggungnya.
"Ahh apa memang sulit ya kalau kita yang pilih?" Tanya Jimin sedih.
"Aku kira kalau ada pemilihan begini, setidaknya kita bisa lebih dekat. Maksudnya sebagai sesama orang biasa," kata Suga yang termenung.
"Kita sudah terkenal sih jadi kalau ada yang kita pilih, otomatis akan diserang. Lalu bagaimana dengan Sakura? Apa sama juga?" Tanya JK.
RM dan V mengangguk. "Begitulah,"
__ADS_1
Semua anggota tentu melihat efeknya, dan mereka menghela nafas. Setidaknya sebagian masih bertahan, ada juga yang menangis meminta jangan memilihnya.
Di gedung lain, A dan D mulai kambuh lagi mereka menyerang Sakura yang hendak berlatih juga. Apalagi dia di fitnah karena sengaja melukai A dengan mencakar nya.
Dengan terpaksa karena ada bukti, pelatih mengeluarkan Sakura dari ruangan.
"Bu, aku tidak pernah mencakar dia. Bagaimana bisa? Lihat, tanganku kan bersih," kata Sakura yang ditarik keluar.
"Tunggu di luar selama pelajaran saya berlangsung," kata pelatih itu dan menutup lalu mengunci pintu.
"Ini tidak adil! Tahu begitu aku akan lebih mencakar nya!" Teriak Sakura menendang pintu.
Semua orang terkejut karena bunyi keras sekali, pelatih pun kaget dan membunyikan lagu. B dan C enggan mengatakan apapun, Linda dan Stella mengatakan hal yang sama, mereka juga dipisah.
JK kemudian masuk ke lorong dan terkejut mendengar suara keras dari tendangan Sakura yang marah. JK menelan ludahnya dan agak takut.
Setelah itu JK memandangi Sakura yang hanya bisa melihat mereka berlatih gerakan dan arahan. Banyak yang tidak menyukai Sakura dan mereka menertawakannya. Sakura lalu duduk di tangga sambil mengusap air matanya.
Sakura kini mirip dengannya yang sedih karena tidak kebagian produk glowing. JK berpikir lalu mendapatkan ide, semoga dengan yang dia lakukan Sakura tidak kesal lagi.
Ruangan atas Jimin baru selesai memakai seragam petugas satpam dan melihat Sakura melamun sendirian. Dia khawatir dan ingin memberikan semangat namun, sebelum sampai V sudah menariknya keluar.
Bersamaan dengan itu, JK masuk sambil membawakan Ichitan Milk Green Tea. Secara kebetulan JK pernah melihat Sakura meminumnya dengan nikmat. Sejak saat itu juga JK penasaran dan meminta beberapa staf membelikan minuman yang sama.
Melihat Sakura yang duduk membelakanginya, JK diam-diam meletakkan minuman itu di atas kayu monumen beserta dengan sehelai tulisan. Lalu dia berjinjit pelan untuk keluar, sepatu sudah dia lepas jadi aman.
"Bukan salahku juga. Kenapa juga aku yang dihukum?" Tanya Sakura bicara sendiri lalu memutuskan berdiri dan berbalik.
Dia terhenti melihat minuman kesukaannya dengan secarik kertas bertuliskan, "Keep fighting, Sakura!"
"Punya siapa ini? Tapi ada Namaku," katanya keheranan mencari-cari.
Akhirnya karena merasa tidak ada orang, dia ambil dan membuka plastik ya lalu dia simpan di jaketnya.
JK mengintip sedikit pintu gudang dan melihat idenya berhasil. Sakura meminum itu dan tersenyum lalu bersenandung dengan ceria. Moodnya menjadi baik setelah merasakan aroma susu dan rasa dari green tea.
Pintu di buka, "Kamu bisa masuk," kata pelatih dengan wajah agak lega.
"Pelatih, bukan aku yang cakar dia," kata Sakura.
"Iya saya tahu. Maaf ya karena semua peserta berkata mereka lihat kamu mencakar tapi saya dapat laporan, kalau mereka sengaja. Ikut saja semuanya diulang," kata pelatih.
Yah, meskipun tetap kena hukuman toh, Sakura memandangi minuman itu. Ada seseorang yang menyemangatinya.
Yang ada di dalam terlihat sinis dan jutek, berbeda dengan anggota yang lainnya. Termasuk beberapa peserta yang terkena pengasingan dari kelompoknya sendiri.
"Yang sudah buat kelompok, berkumpul dan bekerjasama membuatkan nada dan gerakan," kata pelatih.
"Kamu beli minuman? Kapan?" Tanya peserta lain yang berada di barisan paling belakang.
"Oh, ini ada yang kasih," jawab Sakura senyum.
Dia lalu menaruhnya di atas meja juri supaya lebih aman. Beberapa berbisik ada juga yang berkomentar "Anak Emas".
Linda dan Stella kesal pada semuanya toh yang dicakar pun ternyata karena tergores pintu. Sakura enggan banyak bicara dan memilih ikut bergerak.
Bersambung ...
__ADS_1