
“Pertandingan antara kelas 2-C melawan kelas 2-D berjalan sangat sengit. Kedua kubu terlihat berjuang mati-matian demi lolos ke babak selanjutnya.”
Perkataan itu keluar dari orang yang tidak tau situasi yang kami alami saat ini. Kami bisa dibilang berada dalam situasi tidak menguntungkan karena harus menghadapi 4 orang pengecut.
Kenapa kami sebut mereka pengecut? Karena sebelumnya mereka melakukan kekerasan seksual pada dua orang petinggi OSIS dan mereka sama sekali tidak takut dengan konsekuensi yang akan mereka dapatkan.
Panasnya cuaca hari ini membuat pertandingan terasa berat dan membuat stamina lebih cepat terkuras, apalagi kepada kami yang terus terdesak karena mereka bermain kasar sehingga inilah yang terjadi pada kami sekarang.
“kehormatan ....“
“.... Atau ....”
“......harga diri.....”
Hal itu terbayang dalam pikiran kami dan membuat pertandingan jadi semakin berat.
Namun, .... Perkataan teman setimku menyadarkanku.
“Tak peduli seberapa mengerikan dan kuatnya lawan, jika mereka main kasar dan main kotor, maka lebih baik aku melakukan hal serupa daripada kalah dalam keadaan hina.”
Jiwaku yang semula meragukan itu, kembali bangkit dan membalas perlakuan mereka pada tim kami.
Bodohnya aku karena meragukan hal sepele. Jika mereka melakukan hal serupa, maka aku hanya perlu membalasnya serupa.
Lebih baik aku kehilangan kehormatanku sebagai anggota OSIS dan memilih membalas perlakuan mereka pada temanku.
Kubulatkan tekadku untuk membalas perlakuan mereka. Kemudian aku katakan kepada Alfan
“Fan, gw berniat mau balas mereka, kau setuju?” tanyaku
“tak perlu kau tanyakan hal itu padaku, aku setuju denganmu.” Jawabnya
“Apa kau paham yang menanti kita jika melakukan ini?” tanya Alfan
Pertanyaan itu hanya kubalas dengan senyuman dan kuyakin Alfan paham walau tidak mengatakan sesuatu.
Ini memang ide gila, tapi ini yang ku bisa lakukan sekarang.
“Ayo, semuanya.”
Bola yang awalnya mereka kuasai sedari tadi, akhirnya bisa merebutnya dengan cara sama saat mereka mengambil bola dari kami, yaitu dengan menabraknya secara langsung namun tidak sampai menjatuhkannya agar tidak terkena pelanggaran.
Formasi 3 – 1 diterapkan dengan lini serang aku dan Alfan serta satu orang di lini serang kanan. Bola dari sisi kanan, di umpan kepadaku. Namun dari sisi belakangku ada pemain lawan yang siap merebut bola tetapi dengan cara yang sama tetapi bisa menghindarinya. Aku akhirnya tersadar bagian mana yang ingin dia serang, yaitu bagian tulang kering.
rupanya dia tadi mengincar tulang kering, ya. Sebaiknya aku lebih hati-hati pikirku
Walaupun mereka masih terus bermain keras, kami bisa membalas perlakuan mereka.
Setelah bola berhasil ku pertahankan, aku tari bola sedikit ke tengah lapangan sejauh 0.5 M kemudian aku tembak langsung ke arah gawang musuh di sebelah kanan atas dengan tendangan sangat keras sehingga menghasilkan gol perdana di pertandingan ini.
__ADS_1
Setelah itu, mereka masih saja melakukan gaya bermain kerasnya dan itu menyebabkan satu teman kami di lini belakang kesusahan akibat 4 orang yang langsung menyerbu ke lini belakang. Tak berhenti sampai di situ, saat bola sampai di kaki kami, mereka merebutnya dengan saling menabraknya ke kaki. Tak cukup sampai di situ, dalam jarak tembak yang pendek, mereka menembak bola dengan keras ke arah kiper yang membuat lengan kiper mengalami sakit serta pegal akibat tendangan yang keras tadi.
Mereka ternyata masih ingin melanjutkannya, ya. Akan kuladeni kalian semua! Pikirku dengan rasa marah ingin menghajar mereka.
“fan, kali ini Cuma kita berdua yang akan menghadapi mereka di lini depan. Kau siap?”
“aku siap kapanpun itu.”
Sedangkan di kubu mereka
“ayo kita coba sekali lagi dan beri mereka pelajaran sekaligus laksanakan perintah dari Dia.”
Ketiganya menjawab “ok.”
Mereka melakukan serangan yang sama secara serentak dan membabi buta, namun sebelum bola sampai ke temanku di belakang, bola sudah aku ambil dengan cepat. Tetapi kini aku terjebak di tengah lapangan dengan 4 orang mengepung. Kemudian aku mendengar suara Alfan
“Sini, yan.”
Rupanya Alfan berada disisi kiri ku. Tanpa ragu, aku oper bola kepadanya dengan kuat agas tidak bisa mereka curi dan bola berhasil sampai ke kaki Alfan. Tepat setelah itu, Dua orang mengejar Alfan dan berniat menutupi ruang tembak dari Alfan sedangkan satu orang dibelakang Alfan akan melakukan tackling kepada Alfan.
Aku yang sedari awal mengetahui dua orang yang bersamaku tadi langsung mengejarnya dan membackup Alfan dari belakangnya dan orang didepanku yang bersiap tackling tadi berhasil ku hentikan dengan ku halangi kakinya agar Alfan bisa menembaknya tanpa halangan.
Tembakan keras tercipta melewati kaki salah satu orang di depan Alfan,
Masuklah!!!! Teriak Alfan dalam hati
namun tembakan tadi bisa ditangkis dan bola mental ke tengah lapangan karena saking kerasnya tendangan tersebut.
Ini posisi terbaikku, aku yakin ini masuk! Kata Alfan dalam hatinya
Alhasil tendangan yang cepat dan keras itu bisa ditangkis namun tidak sempurna dan menghasilkan gol kedua untuk tim kami. Beberapa menit setelah itu, kiper tim lawan terlihat memegangi lengan kakannya yang menangkis tendangan Alfan tadi.
Jujur saja, tendangan dia memang yang paling keras, aku saja tidak mau menahan tendangannya. Pikirku
Sementara itu di dekat ruang guru, dua orang sedang menggantikan Ryan dan Alfan patroli.
“Aku merasa mereka berdua bermain keras, apa kau berpikir begitu?”
“.... Tidak, aku pikir futsal memang permainan yang seperti itu dan itu wajar.”
“Mungkin kau benar karena atlet futsal banyak yang bermain seperti itu.”
Di lapangan, pertandingan antara 2C vs 2D kembali dimulai setelah kelas ku berhasil mencetak gol.
Terlihat kubu kelas 2D sedang membicarakan sesuatu.
“Bagaimana ini, mereka masih segar dan kita tertinggal 2 gol.”
“tenang, aku tau apa yang harus kita lakukan.”
__ADS_1
Kick off telah dilakukan dan mereka langsung menyerang tanpa ragu. Aku tau itu terdengar tidak aneh, tapi kenyataannya tidak demikian. Yang kumaksud tanpa ragu ialah tanpa ragu melakukan serangan yang membahayakan keselamatan lawannya. Tendangan sangat keras dilepaskan mengarah ke pemain belakang yang menutup ruang tembaknya. Tendangan sangat keras tersebut berhasil di tangkis oleh kiper namun efek dari tendangan sangat keras tersebut sangat fatal.
Pasalnya, tendangan tersebut dilepaskan dari luar area penalti dan menyebabkan sela-sela jari tengah dan jari manis sobek dan berdarah. Kejadian ini membuatku merasa aneh dengan gaya bermain mereka.
“fan, gaya bermain mereka berubah, tidak seperti tadi. Apa kau juga berpikiran sama?”
Alfan menjawab “iya, gaya bermain mereka sekilas seperti berniat curang dengan melukai anggota tim kita.”
Dari luar lapangan, teman-teman Ryan kelas 2C curiga kalau kelas 2D berniat main curang.
“woi, tangan kiper berdarah itu gara-gara tendangan keras tadi.” Kata cowok di paling depan
“kayaknya mereka berniat mau main curang, deh.” Kata cewek di belakangnya
“inimah gak bisa dibiarin. Mereka udah bikin luka temen kita.”
Dari tengah lapangan futsal, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah suporter. Sepertinya kedua suporter terlibat keributan. Tim OSIS langsung turun tangan menertibkan keduanya dan berakhir damai.
Pertandingan kembali dilanjutkan. Karena sudah tidak tahan dengan perlakuan mereka dengan teman-teman ku, akhirnya amarah yang sebelumnya bisa diredam dan ditahan, kini meluap dan berniat membalasnya.
Bola dari kiper dioper ke kaki Alfan. Aku yang berada di lini depan bersiap menyambut umpan dari Alfan. Mereka masih berusaha bermain curang namun tidak bisa dan kini bola sudah berada di kaki ku. Kucari ruang tembak yang ideal dan tendangan sangat keras dari tengah lapangan berhasil di lepaskan dan tendangan itu lebih kuat dari tendangan mereka tadi.
Ini balasan untuk kalian!!!!
Mereka berhasil memblok tendangan ku dan bola kembali ke kaki ku. Tanpa ragu, ku ulangi tendangan yang sama dan kembali bisa di blok. Lalu bola muntah terakhir yang menuju ke kaki ku, aku kerahkan semua tenaga pada tendangan terakhir ku.
Kukerahkan semua tenaga yang kumiliki pada tendangan ini. Ini akan menjadi tendangan yang paling keras yang pernah aku keluarkan.
Ini ...… Untuk ..... KALIANNNNN!!!!!!!!
Duarrrr
Suara tendangan yang sangat keras dengan kecepatan sangat tinggi mengenai tangan kiper yang sedang waspada dan membuatnya terpental ke belakang sejauh 1 meter.
Bola masuk dan menambah skor menjadi 3-0
Namun, kegaduhan kembali terjadi dan sepertinya pihak suporter lawan protes karena tendangan tadi.
“woi, woi, woi. Apa-apaan itu tadi!, Itu harusnya gak sah, dong. Tendangan itu seperti ingin menyakiti teman kami. Kata suporter cowok pihak lawan
“terserah, lah. Teman kalian tadi juga melakukan hal serupa dan kenapa kita gak boleh? Teman Kami malah cedera karena ulah teman kalian.” Kata suporter cewek tim kami
“APA!? NGAJAK RIBUT KALIAN!!” Kata suporter cewek pihak lawan
Suasana menjadi ricuh dan berujung dengan kerusuhan antar kelas. Karena kegaduhan itu, membuat Rena dan Amelia keluar dari ruang OSIS. Mereka kemudian mencari Ryan dan Alfan serta menanyakan apa yang terjadi.
“dimana Ryan dan Alfan? Apa yang terjadi?” tanya Rena pada rekan OSIS yang sedang berpatroli dari arah depan menuju ke arah belakang.
“Ryan dan Alfan bertanding dengan kelas 2D dan sepertinya mereka terlibat masalah karena pertandingan tadi.”
__ADS_1
Aku tahu kau melakukan itu untukku, karena itulah aku harus meluruskan kejadian yang sesungguhnya.
Rena dan Amelia kemudian bergegas menuju ke suatu tempat dimana mereka akan bertemu.