E. A.N. E : Unreality In Reality

E. A.N. E : Unreality In Reality
Chapter 09 : "First Act!"


__ADS_3

Senin pagi hari yang cukup cerah. Hari ini aku akan kembali lagi bekerja ke pabrik sampah itu. Di dalam kos, aku mulai merapikan barang-barang yang tergeletak berantakan dan membawa keluar barang yang tidak terpakai, termasuk tumpukan sampah.


Aku sadar, ternyata ini bukanlah masalah ada teman atau tidaknya yang akan datang menemuimu. Tetapi kepedulian kita terhadap lingkungan, kepedulian kita pada diri sendiri.


Pintu kos sudah ku kunci, dan aku mulai berangkat bekerja, berjalan kaki sampai ke halte Bus yang jaraknya sekitar 270 meter dari tempat kos ku berada.


Apakah sekarang aku masih dikatakan sebagai seorang pecundang setelah mendapatkan kekuatan super itu? Jealos, dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang malaikat jatuh. Siapapun pasti tidak akan ada yang percaya jika aku mengatakannya. Tidak sampai semua itu terjadi dihadapanku.


Enok sebelumnya sudah mati. Sekarang aku adalah diriku yang baru, dan aku bertugas untuk melindungi semua orang. "Kenapa sekarang ucapanku terdengar seperti seorang MC, apakah aku benar-benar telah menjadi seorang MC layaknya di dunia fiksi?"


Aku sedang menunggu jemputan di halte Bus. Duduk diantara orang-orang yang memakai dasi dan berpakaian rapi. "Selamat bekerja, orang-orang hebat"!


Bus jemputan datang.


Satu persatu dari mereka mulai masuk. Aku sengaja masuk paling belakang, agar bisa berdiri didekat pintu. Pintu tertutup dan Bus mulai berjalan.


Jarak tempuhku bekerja memakan waktu 45 menit jika berjalan kaki. Namun jika aku berangkat dengan menaiki Bus, hanya akan memakan waktu 15 menit saja.


Sembari memakai headphone aku membuka smartphone ku dan melihat berita media sosial hari ini. Kejadian kemarin benar-benar menjadi trending topik, banyak dari mereka yang menuntut ganti rugi kepada pemerintah, dan mereka yang menangisi keluarganya yang telah menjadi korban.


George Smith, dia adalah seorang presiden di negeri ini. Sekaligus keluarga terkaya nomor satu. Apanya yang kaya, seharusnya kau membuat peraturan baru demi memajukan kehidupan orang yang tinggal di distrik bawah, bukan malah semakin menutupinya dan membiarkannya begitu saja.


Benar juga, apa dengan senjata Agulha itu aku bisa merubah sisi buruknya? Kemudian aku akan meminta kepadanya untuk menolong orang-orang yang tinggal di distrik bawah.


"Patut dicoba, tapi sebelum itu aku akan mencobanya kepada seseorang" ucap ku dalam hati.


***


Sekarang aku sudah berada ditempat kerja, dan sedang mengganti seragam ku di ruang loker ganti. Seperti biasa mereka melakukan aktifitas rutinnya setiap pagi. Suaranya sampai terdengar ditempat ku berada.


"Ahh, terpaksa aku menunggu disini lagi"


Aku duduk bersandar di loker, dan membuka medsos.


"Lyla, dia trending topik"


Ternyata banyak juga hate komen tentang dirinya. Menurutku itu hal yang wajar, karena kita tidak bisa membuat orang suka dengan apa yang kita suka. Tapi komen yang satu ini terlalu berlebihan. "Ku repot kau!"

__ADS_1


Lyla akan mengeluarkan single barunya tanggal 27 Juni nanti.


"Satu bulan lagi"


...


"Suara itu sudah tidak terdengar lagi, sepertinya para pendosa itu sudah selesai dengan ritualnya." Aku kemudian keluar meninggalkan ruang loker dan segera menuju ke halaman belakang dimana, disanalah tempatku harus bekerja untuk memilah-milah sampah, memasukkannya ke dalam penggilingan, lalu membawanya ke dalam box agar bisa di daur ulang kembali.


Aku berpapasan dengan beberapa bekerja, wajah mereka terlihat sangat bahagia.


Disaat aku akan membuka pintu belakang, aku melihat seorang wanita muda keluar dari wc yang disusul dengan boss ku yang bernama Torang. Aku tahu wanita itu melakukannya demi kelangsungan hidupnya, wajahnya tidak tampak terlihat bahagia atas pekerjaan yang dilakukannya, tetapi dia tetap berusaha memberikan senyumannya kepadaku.


Tentu saja aku membalas senyuman itu, bagaimanapun juga kita harus menghargai satu sama lain. Terlepas baik dan buruknya perilaku yang ia lakukan, karena setiap tindakan selalu ada sebuah alasan.


Skenario kehidupan...


"Oi, Enok. Mau sampai kapan kau bersifat sok suci seperti itu! Mumpung kau masih muda, kau seharusnya menikmati hidupmu. Uang itu digunakan untuk bersenang-senang. Wanita tidak akan ada yang mau mendekatimu kalau kau tidak punya uang"


"Tapi jika kau punya uang, mereka akan datang dengan sendirinya. Kau bahkan bisa membelinya"


"Oi, kau dengar aku atau tidak. Jangan melamun disitu, cepat kerja sana!"


Kebetulan, saat ini pasti mereka sedang mengganti pakaiannya. Akan kucoba kekuatan itu disini.


Enok mengayunkan tangan kanannya ke arah wajahnya, membuat topeng bewarna putih itu muncul dan ia langsung memakainya. Torang tidak ada melihat perbedaan yang terjadi, ia terus menggerutu karena Enok tidak mendengarkannya.


Tangan kanan Enok masuk ke dalam ruang hampa, udara terlihat bergelombang di sekitarnya ketika ia melakukan itu. Ia kemudian menarik sesuatu dari dalamnya. Itu adalah jarum Agulha.


Ternyata benar, dia tidak melihat ada keanehan dari perubahanku. Meski sedikit ragu, aku tetap berjalan memberanikan diri untuk mendekatinya.


"Hei kau dengar aku apa tidak? Kau mendadak tuli atau gimana?"


JLEB! Jarum Agulha tertusuk diperutnya yang buncit. Dia terdiam seketika. Aku masih menahan jarum itu, menunggu efek apa yang akan terjadi. Anehnya tidak ada darah satupun yang menetes.


Kenapa dia tidak mengeluarkan reaksi? Apa jarum ini harus aku tarik dulu keluar, agar bisa melihat perubahannya. "Baiklah, akan kucoba".


Aku menarik jarum itu keluar, dan jarum itu hilang seketika dari genggamanku.

__ADS_1


"Ah Selamat pagi Enok, bagaimana kabarmu hari ini." ―Eh? Apakah efeknya hanya begitu saja.


"Enok, kenapa kamu diam saja. Apa kamu sakit? Kalau sakit bilang, biar bapak panggilkan dokter untuk mengobatimu."


Menarik, sekarang ayo kita ikuti skenarionya.


"Iya Pak, sebenarnya kepala saya sedikit pusing. Mau beli obat uang saya juga kurang"


"Kenapa kamu tidak bilang" Dia mengambil sesuatu dari saku celananya.


"Ini, gunakan uang ini sebaik mungkin. Sebaiknya kamu istirahat dulu tidak usah bekerja, nanti kalau belum sembuh juga bilang sama bapak. Biar kita panggilkan dokter yang hebat untuk mengobatimu"


"Wahh, terimakasih banyak Pak. Kalau begitu saya ijin pulang dulu Pak"


"Ya hati-hati." Aku pergi meninggalkannya, dan berjalan ke arah koridor ruang ganti.


Hahahahahaahahahaah!!! Apa ini!! Aku bisa mendapatkan uang tanpa harus bekerja? Bisa! Aku bisa merubah dunia dengan kekuatan ini!!


Wajah Enok pada saat itu menggambarkan kepuasan yang ia dapat atas luapan rasa ketidakadilan yang terus di alami terhadap dirinya selama ini. Jauh di dalam ekspresi bahagianya itu, ada sebuah kebencian yang ingin terlahir keluar.


"Oi culun, mau kemana kau?"


"Heh, palingan dia disuruh memisahkan sampah basah yang ada didepan"


Aku tertunduk mendengarkan ocehan mereka terhadapku. Benar juga, mereka telah mengotori wanita itu. Orang-orang yang mengaku bertuhan, tetapi berkelakukan binatang.


"Oi, kenapa kau diam aja? Kena mental ya"


"Hahahahah!!"


JLEB x2


Aku menusukan mereka dengan dua jarum Agulha dan setelah aku menarik jarum itu keluar, mereka tiba-tiba menangis seperti menyesali sesuatu. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi tetapi izinkan aku mengucapkan sesuatu,


"Selamat hari menjadi manusia"


Dua pria pendosa itu jatuh terduduk dan menangis penuh dengan rasa penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2