E. A.N. E : Unreality In Reality

E. A.N. E : Unreality In Reality
Chapter 05 : "Despair in the rain"


__ADS_3

"Hoi, apa tidak adakah yang mau datang menolongnya?"


Di dalam pandangan mataku yang penuh rasa iba terhadapnya, aku melihat monster itu menusuk perutnya lalu membelahnya menjadi dua. Membuat wanita itu langsung tidak bergerak lagi seketika.


Lyla berteriak histeris menangis ketakutan, tak lama bodyguardnya datang menjemputnya. Dia menyuruhku untuk segera lari dari tempat ini. Begitu pun dengan orang-orang yang ada di atas fly over, mereka semua berteriak dan berlari ketakutan.


Aku masih berdiri menangisi kenyataan atas nasibku, Lyla sudah mulai pergi menjauh. Aku bahkan belum sempat memberikan kado selamat ini untuknya.


Monster-monster itu semakin banyak bermunculan, mereka menyerang setiap orang yang berlari darinya, membuat keadaan jalan tol yang berada distrik 17 ini menjadi kacau tak terkendali.


"Apa ini...kenapa semua tiba-tiba menjadi seperti ini. Ini bukan skenario kehidupanku, aku ini hanyalah seorang pecundang yang bekerja di tempat sampah"


"Kenapa, kenapa tuhan terus menyiksaku?" aku menunduk meratapi pahitnya kenyataan ini.


"Nok! Cepat pergi dari sana!!" aku menoleh melihat ke arahnya, mendengar suara terakhir dari Lyla yang mulai masuk ke dalam mobil bersama rombongannya untuk membawanya pergi dari semua kekacauan ini.


Langit di ujung sana sudah mulai gelap, sepertinya akan turun hujan deras. Aku pun bergegas mengambil tas yang kuletakkan dibawah, lalu pergi berlari menuruni puluhan anak tangga.


Tanpa melihat GPS, aku berlari tak menentu arah. Lari dan terus berlari ditengah-tengah kepanikan semua orang. Saat ini semua orang hanya berlari demi menyelamatkan dirinya.


Ditengah semua rasa yang berkecamuh di dalam hatiku, aku mendengar sayup-sayup suara gadis kecil yang menangis meminta tolong dan terus memanggil nama ibunya. Hatiku memerintahkan untuk berhenti, dan menyuruhku pergi "selamatkan anak gadis itu apapun yang terjadi".


Langkah kaki ku terhenti, dan mulai mencari posisi anak itu melalui rintihan suara minta tolongnya. Aku kembali berlari, melewati lautan tumpukan manusia yang lari kesana-kesini, sampai akhirnya aku mendengarkan suara anak gadis itu semakin jelas.


Dia menangis sambil berdiri seorang diri di tengah langkah orang-orang bodoh yang tidak memperdulikannya. Aku langsung berlari mendekatinya, menggendongnya, dan membawanya lari bersamaku.


Katika cukup jauh aku berlari, anak itu berteriak ditelingaku memanggil nama ibunya, dan menunjukan arahnya. Ibu dan Ayahnya yang mengenali suara teriakan anaknya, tidak jadi masuk ke dalam mobil. Sang Ibu berteriak membalas teriakan buah hatinya. Aku pun langsung mengantarkannya kepada mereka berdua. Dua orang tua itu menangis sambil memeluknya.


"Apa yang kalian lakukan, meninggalkan anak kalian sendiri disana!" aku memarahi mereka dengan rasa haru yang menyesakkan dada.


"Maafkan kami, kami juga sudah berusaha mencarinya." ucapnya menangis sesenggukan.


"Sekarang cepat pergi dari sini sejauh mungkin! Lindungi anak kalian, meskipun nyawa kalian yang menjadi bayarannya! Cepat pergii!!!" Aku tidak tahan dengan scene yang terputar dihadapanku, mataku mulai berkaca-kaca. Mereka berdua menunduk dan mengucapkan terimakasih


Dalam tangisku, aku memberikan senyum ku yang tulus untuk pertama kalinya kepada seseorang. Anak itu sudah aman di dalam mobilnya, ia memberikan lambaian tangan selamat tinggal kepadaku. Aku pun mengangguk, membalasnya dengan senyuman penuh harapan.

__ADS_1


Aku merasakan rintik hujan mulai berjatuhan membasahi lantai trotoar tempat ku berdiri. Semakin lama suara hujan semakin terdengar deras dan kencang. Dengan hodi yang menutupi kepalaku, aku melanjutkan pelarian ditengah derasnya hujan.


Dalam hati aku terus bertanya, aku ini harus pergi kemana?


Ada tempat yang terlihat sepi, kurasa disana pasti tempat yang aman. Tetapi belum sempat aku melangkah kesana, aku dikejutkan dengan seorang pria tua yang terlihat gembel sedang makan dipembuangan sampah di tengah derasnya hujan.


"Oi Pak tua! Apa yang kau lakukan! cepat pergi dari situ!! Di luar sana ada banyak monster yang berkeliaran!" teriak ku ditengah derasnya suara hujan.


"Apa dia tidak dengar?" Apa boleh buat terpaksa aku mendatanginya.


"Besar juga badan pak tua ini" pikirku setelah mendekatinya.


"Pak, ayo cepat pergi dari sini. Di luar sana banyak monster yang berkeliaran" ucapku setelah menepuk pundaknya dari belakang.


Aku kaget, ketika dia bangkit berdiri. Karena postur tubuhnya tinggi sekali hampir mencapai 2 meter lebih dan kemudian ia mulai memperlihatkan wajahnya, yang membuatku jatuh terduduk di dekat tumpukan sampah tersebut.


Ternyata dia bukan seorang pak tua, dan dia juga tidak sedang memakan sampah. Dia adalah iblis yang berpakaian seperti manusia, wajahnya terlihat sangat mengerikan, tubuhnya bewarna merah, ia bertanduk, bola matanya hitam, dengan pupil yang bewarna kuning. Dan dia sedang memakan tangan manusia.


Aku tidak bisa berkata apa-apa, ketika ia membuka mulutnya, memperlihatkan daging-daging yang masih menyangkut di rongga-rongga giginya yang terlihat runcing dan empat taring yang keluar.


Aku menangis tak berdaya layaknya benar-benar seperti seorang pecundang. Aku bingung harus minta tolong kepada siapa. Benar juga, orang-orang saja pada berlarian untuk menyelamatkan dirinya, bagaimana mungkin akan ada yang datang untuk menyelamatkanku.


Iblis itu mencekik leherku dan menggantungkannya ke atas. Tubuhku tidak bisa bergerak hanya pasrah dengan keadaan. Dari raut wajahnya yang mengerikan dia seperti mengucapkan sesuatu kepadaku. Aku tidak mengerti apa yang sudah dia katakan, yang pasti setelah ia mengucapkan itu, tangan kanannya berubah menjadi sebuah celurit seperti milik malaikat pencabut nyawa.


Aku pasrah saja menatap ke atas langit yang gelap.


"Ternyata inilah ending dalam hidupku, seperti awan gelap yang ada di atas sana" ucapku menangis dalam hati.


"Meskipun aku sudah berbuat baik kepada orang, ternyata tidak ada jaminan akan mendapatkan balasan yang lebih baik"


"Benar juga, mungkin lebih banyak perbuatan buruk yang telah kulakukan dari pada perbuatan baik yang sudah ku berikan"


"Dan sekarang aku sedang menerima balasan dari semua perbuatan buruk yang telah aku buat"


Wajah ku terus dihujani air hujan yang deras, airnya yang asin membuat mataku terasa perih. Mungkin mereka sedang mencoba membantuku untuk menyamarkan air mata seorang pecundang ini.

__ADS_1


Di dalam satu detik, aku merasakan keheningan dan aku merasa tubuhku sedang melayang ke atas. Aneh sekali, tapi aku seperti melihat potongan bawah tubuhku masih berdiri disana. Apa itu hanya perasaanku saja?


BRUKK!!


Aku jatuh terhempas di tengah parkiran mobil yang luas, dan aku merasa seperti tidak merasakan apa-apa lagi dibagian bawah tubuhku kecuali kehangatan.


"Kenapa bisa terasa hangat disaat deras dan dinginnya air hujan ini"


Kenapa pandangannku mulai terlihat gelap, aku juga mulai tidak bisa mendengar suara derasnya air hujan yang jatuh disekitarku.


"Senyuman manis Lyla semakin terihat jelas"


"Indahnya senyuman itu,"


"Seandainya aku terlahir menjadi orang kaya, kau pasti akan kubuat bahagia dan akan kuantarkan dirimu menuju impianmu setinggi mungkin"


Badanku mulai terasa dingin. Tidak ada satupun anggota tubuh yang bisa ku gerakan lagi.


"Lyla, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa melupakanmu"


"Tapi keinginanmu untuk melupakanku akan segera terkabul" aku ingin tersenyum menatap langit pada saat kematianku. Sebagai tanda ucapan terimakasih pada-Nya karena sudah mempertemukan dengan dirinya, walaupun ending yang seperti ini. Tapi sepertinya aku tidak bisa melakukan itu.


Kegelapan mulai menutup kedua mataku, dan aku mendengarkan suara disaat-saat terakhir ajalku.


"Anak muda, apa kau merasa menyesal telah berbuat baik kepada orang"


"Tidak, aku sangat bahagia bisa menyelamatkan anak itu. Senyumannya menghangatkan hatiku yang gelap ini"


"Owh begitu"


...


...


...

__ADS_1


Disana terlihat seonggok potongan tubuh manusia yang sedang terkapar bersimbah darah, ditengah derasnya hujan.


__ADS_2