
Disaat seperti ini aku harus terus memantau berita, itu karena akan memudahkanku untuk mengetahui apakah para iblis itu menyerang ke distrik yang lain. Aku berdiri di depan mesin minuman otomatis untuk membeli sebuah minuman dingin yang akan menyegarkan ku dari teriknya cuaca hari ini.
"Puahh!!!"
"Tidak ada berita yang menunjukan serangan iblis di daerah distrik lain" Jadi mereka benar-benar hanya menyerang distrik 8 saja ya. Aneh sekali, seakan semua ini benar-benar ingin ditujukan kepadaku.
Padahal tujuanku untuk membuat perdamaian sangat mudah, tetapi tak kusangka selama ini ada iblis berwujud manusia yang bermain dibalik layar. Dan mereka dipastikan semuanya adalah iblis tingkat 12.
Aku masih harus mengumpulkan kebencian yang ada di kota ini terlebih dahulu, jika ingin mendapatkan kekuatan lebih darinya (Jealous).
"Anak muda, sekarang kebencian di dalam hatimu sudah naik menjadi 80%. Itu adalah kemajuan yang luar biasa" ―Jealous!! Kau menguping lagi ya?
"Tidak kebetulan aku hanya lewat saja" ―Jealous!! Apa kau tidak bisa membantuku agar aku lebih cepat menyelesaikan semua ini.
"Aku yang sekarang ini adalah malaikat tanpa kekuatan, aku memerlukan energi kebencian agar wujudku bisa kembali seperti semula. Jika kau berhasil membuat hatimu memiliki kebencian 100%, aku bisa meminjamkan wujud asliku kepadamu sehingga kau akan benar-benar terlihat menjadi seperti seorang malaikat jatuh"
"Benarkah? Apa dengan begitu aku akan menjadi lebih kuat?"
"Tentu saja, kau bahkan bisa bertarung dengan mereka para iblis tingkat 12"
"Hei Jealous" ―Apa?
"Waktu aku bertarung melawan iblis yang bernama Urait itu, dia berkata Malaikat bodoh ini ingin memulainya kembali, dia bahkan tahu nama senjata jarum Agulha milikmu. Apa kau bisa menjelaskannya kepadaku"
"Jelas saja mereka tahu, mereka sudah hidup beratus-ratus tahun lamanya. Dan aku sudah lama bertarung menghadapi bangsa iblis seperti mereka"
"Oh ia satu lagi, disaat hatiku penuh dengan amarah dan kebencian. Aku tiba-tiba merasa berada disuatu tempat yang gelap. Lalu dari pandanganku yang samar-samar, aku melihat ada wanita berdiri sendiri dengan jubah merah yang terlihat seperti memiliki empat ekor."
Disaat aku sedang asik berbicara dengan Jealous melewati dalam pikiranku, tiba-tiba ada 7 orang anak badung datang menghampiriku yang sedang duduk berteduh di sebelah mesin minuman otomatis.
"Halo abang yang disana. Dari tadi kami lihat kau terus berbicara sendiri. Apa kau sedang mengidap penyakit kejiwaan?" ―Gerombolan Hyna datang, orang-orang yang membanggakan atas kelompok pertemanannya. Padahal mereka tidak lebih dari sampah yang hanya mengotori kota ini.
Aku berdiri dan menjawab pertanyaan mereka, "Tidak. Aku sedang menelepon temanku". Aku kemudian bermaksud beranjak untuk pergi meninggalkan tempat itu tapi,
"Eits, tunggu dulu lah. Mau kemana buru-buru, kita duduk-duduk dulu sebentar. Kau ada uang berapa?" Dia mengancamku dengan sebilah pisau.
__ADS_1
"Sejujurnya aku merasa terbantu dengan kedatangan kalian. Jadi aku tidak susah-susah untuk mencari kebencian itu"
"Ngomong apa ini orang?"
"Oi Rui, biarkan saja. Dia sepertinya benar-benar orang gila"
"Oh tidak semudah itu. Paling tidak kita harus mendapatkan sesuatu darinya, hati atau jantungnya mungkin"
Sepertinya aku mendapatkan sebuah info yang besar. Soalnya beberapa tahun terakhir memang ada sebuah berita tentang sindikat yang menculik anak perempuan dan laki-laki namun tak ada satupun polisi yang berhasil membongkarnya. Mereka terus berkelak dengan berbagai macam alasan di depan awak media.
"Oi bang, kalau tidak mau mati cepat serahkan semua hartamu sekarang" ―Skenario klasik.
"Ruwana!"
Begitu aku memanggil nama topeng itu, ia secara automatis terpasang di wajahku. Orang-orang disekitarku tetap melakukan hal yang sama. Aku kemudian mengambil jarum Agulha di tangan kiriku lalu ku tusukan pada pria yang mengancamku dengan sebilah pisau tajam yang bewarna perak.
"Ahhhhh, apa ini?? kenapa aku memegang senjata berbahaya seperti ini"
Teman-temannya mulai terlihat kebingungan. "Oi Rui, kau kenapa tiba-tiba ikut menjadi gila?"
"Apa yang kalian bicarakan? Kalian ini siapa?" ekspresi wajah semua temannya semakin terlihat bingung melihat satu sama lain.
"Maaf mas ada apa? Kenapa kalian semua terlihat bersedih, apa telah terjadi sesuatu?"
"Bagaimana kami tidak bersedih, kami ini sudah banyak melakukan kejahatan!" jawab salah satu dari mereka.
"Kejahatan? Memangnya apa yang mas sudah lakukan?" ―Bagus, teruslah merengek seperti bayi.
...
"Di dalam distrik 8 ini ada sebuah perusahaan yang bernama, Blender. Mereka adalah perusahaan di bidang kosmetik. Namun dibalik itu semua, mereka adalah dalang dari penculikan anak-anak perempuan dan laki-laki."
"Mereka membesarkan mereka, lalu menjualnya ke tempat pelacuran. Sedangkan anak laki-laki, mereka...mereka...aku tidak sanggup untuk mengatakannya" dia tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Begitu ya, kejam sekali."
__ADS_1
"Bekingan mereka adalah gubernur dan pemerintahan, kepolisian, semuanya adalah orang-orang hebat. Kami di tugaskan untuk mencari anak-anak itu, lalu di malam hari akan ada orang lain yang datang menculiknya"
Pantas saja, beritanya hanya timbul tenggelam. Iblis, mereka adalah iblis yang sebenarnya. Orang-orang yang ingin meraih kenikmatan duniawi dengan cara apapun.
"Apa masnya tahu siapa CEO dari perusahan Blender tersebut?"
"Namanya adalah Rudolf, seorang pemuda tampan dan kaya raya. Selebih itu aku tidak tahu lagi."
"Begitu ya terimakasih" aku berpaling dan pergi meninggalkan mereka.
Di saat aku sudah hampir jauh berjalan meninggalkannya, tiba-tiba angin bertiup kencang melewatiku. Aku pun memiliki firasat buruk akan hal itu, sehingga membuatku untuk mencoba menoleh berpaling kebelakang dari balik topeng Ruwana yang terpasang di wajahku ini.
"A-apa yang terjadi..."
Aku terkejut setelah menyaksikannya, bagaimana tidak. 7 orang lelaki tadi semuanya habis terpotong menjadi beberapa bagian, begitupun semua benda mati yang ada disekitarnya.
Berselang setelah itu, topeng Ruwana ini memberikan sebuah peringatan melalui hawa keberadaan adanya seekor iblis tingkat tinggi yang datang mendekat.
Di pinggir jalan aku berdiri dalam keheningan, memfokuskan indra ku untuk mencari dimana keberadaan iblis biadap tersebut.
"Hahahaha! Jadi kau manusia yang sudah mulai ikut campur urusan kami ya" ―Siapa kau! Tunjukan wujudmu!.
"Ahahahaha!"
Aku sama sekali tidak bisa melihat pergerakannya. Apa dia sejenis burung? Atau apa?
Tanpa ku sadari sebuah senjata pedang yang mengkilap sudah melesat ke arah topeng di wajahku. "Tidak!! Aku tidak boleh mati lagi!!"
"Hehehe"
Aku seperti mendengar suara wanita tertawa yang kemudian waktu ini seolah terhenti, sehingga aku dapat memanggil jarum Agulha untuk menangkis tebasan pedangnya tersebut, membuatku jauh terpental sampai menghancurkan sebuah lapangan baseball.
"Akhhh.. "
"Syukurlah, tidak ada orang yang sedang bermain disini" Tubuhku tergeletak di dalam tumpukan tanah kotor dan penuh debu. Kemudian aku mencoba bangkit berdiri dari keterpurukan ini.
__ADS_1
"Sial!! Baru saja aku melawan dua ekor iblis sebelumnya, sekarang sudah datang lagi." ―Benar-benar, itu membuat tanganku menjadi gatal untuk menusuk-nusuk mereka lagi dengan jarum itu ehehehe.
"Eh, siapa yang bicara?"