E. A.N. E : Unreality In Reality

E. A.N. E : Unreality In Reality
Chapter 01 : "A Present for a promise"


__ADS_3

Sunday 08:30


Suara alarm berdering membangunkan-


BRAK! Jam alarm terhempas ke dinding akibat terkena tendangan.


"Berisik!! Aku sudah bangun!"


Maaf kalau aku sedikit kasar dan mengkagetkan kalian. Aku ini bukanlah seorang MC (Main Character) yang harus terbangun telat dan mendengarkan alarm itu terus-menerus berbunyi.


Kau pikir aku akan terlambat untuk hari yang sangat penting ini? Tidak! Aku tahu mungkin skill pasif kehidupan ku adalah sebagai orang pecundang. Karena itu aku selalu mencoba satu langkah ke depan untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi nantinya.


Bukan bermaksud ingin mendahului Tuhan, tapi kau tahu? aku ini orangnya sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan.


"Okay, mari kita lihat. Jaket hodie hitam redy, celana jeans biru redy. dan memakai sepatu bewarna merah. (Sempurna!)" ucap ku di depan cermin.


Konsernya di mulai jam 10 pagi, aku masih ada waktu satu setengah jam lagi untuk pergi ke toko pernak-pernik membelikan hadiah untuknya. Ku ambil Smartphone di atas meja ku, tidak lupa headphone wireless sebagai aksesoris wajib untuk seorang Introvert seperti ku.


Blam! Suara pintu yang tertutup.


Aku keluar berlari meninggalkan kos. Dua sejoli yang duduk bersama di depan pintu kosanya melihat kepergian ku yang terburu-buru. Tak perlu aku menyapa mereka yang sudah membuat kenyamanan tidur ku terganggu dengan ulah suaranya tadi malam.


"Sampah!!"


***


Aku sampai di stasiun MRT. Banyak sekali orang di hari minggu ini, orang tua dan anak-anaknya. Syukurlah, mereka bisa merasakan kebahagian itu bersama. Di luar sana masih banyak orang kurang beruntung dan menderita. Jaga anak kalian baik-baik, jangan sampai mereka terluka mental dan hatinya. Karena itu adalah bagian yang paling penting dalam diri manusia. Jika tidak, kalian hanya akan melahirkan kegelapan yang baru di muka bumi ini.


"Kereta Tujuan Sabang Lihum akan segera tiba, Mohon untuk tetap berdiri di atas garis kuning sampai kereta benar-benar telah berhenti, terimakasih."

__ADS_1


Aku sempat berpikir, apakah kalau aku mati tertabrak kereta bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua kesalahan yang telah kuperbuat? Jika bisa, aku ingin meminta maaf pada guruku, teman, dan juga orang-orang yang pernah ku rugikan. Sayangnya itu hanya di dalam cerita fiksi saja. Semua hal buruk yang telah kau perbuat di masa lalu hanya akan menjadi sebuah penyesalan. (Kenapa hatiku selalu merasa bersedih ketika mengingatnya). Apakah ini yang di maksud dengan dosa penyesalan? Rasanya begitu sesak di dada.


Kereta telah tiba, dan mulai berhenti di depanku.


Orang-orang yang berada disekitar ku mulai ikut masuk ketika aku melangkahkan kaki ku duluan. kebanyakan dari mereka duduk. Aku berdiri saja, karena aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini.


Selagi aku mendengarkan musik di dalam headphone yang ku pakai, aku memperhatikan sebagian dari wajah mereka. Ah, itu keluarga yang tadi. adik kecil itu imut juga, membuat hatiku menjadi terharu. Senyum anak kecil ternyata bisa membuat siapa saja menjadi bahagia. Dia melihat ke arah ku, matanya benar-benar terlihat masih suci. Aku ingin sekali menyapanya, tapi nanti sajalah di lain kesempatan, jika aku di izinkan untuk bertemu lagi dengannya suatu hari nanti.


Aku sedikit terkejut, setelah kereta MRT ini masuk ke tengah perkotaan. Pasalnya di setia setiap billboard dan di videotron aku melihat seorang gadis cantik yang sedang bernyanyi. (Kalian tahu videotron bukan?).


Itu pasti previewnya! Ya tuhan, sudah 10 tahun kami tidak bertemu dan kau sekarang mempertemukan kami dengan status yang sangat jauh berbeda. Apa yang akan ku katakan di depannya nanti, bisa-bisa aku hanya akan di bilangnya si mulut besar, atau laki-laki pembohong. Tapi tak apalah, aku juga sudah tidak bisa berkelak dan tidak ada perlu alasan untuk semua itu. Mungkin, aku hanya akan tertunduk diam dan merasakan malu.


Melihat dirinya yang sekarang sudah berhasil mencapai cita-citanya, sudah membuat hatiku sangat senang. Aku juga sangat bersyukur, tuhan masih memberikan kesempatan kepadaku untuk bertemu dengannya. Aku rasa, mungkin ini adalah rezeki terbesar dalam hidupku.


"Eng? Infinity Corporation? Bangunan apa itu besar sekali." ucapku dalam hati.


Sepertinya sebentar lagi aku akan sampai ke tujuanku.


Kereta MRT berhenti, aku kemudian keluar dari kereta itu dan sejenak berdiri disana. Dadah, adik kecil. Niatnya hanya sekedar menyapa dalam hati, namun tanpa kusadari tangan ku melambaikan tangan sendiri kepadanya. Mereka tersenyum melihatku, untungnya aku pakai masker. Jadi mereka tidak bisa melihat ekspresi memalukan yang ku buat di wajah ku ini.


"GPS, GPS, Mari kita coba buka GPS" Jaraknya hanya 15 menit dengan berjalan kaki. Baiklah mari kita lekas kesana.


Aku sudah keluar dari stasiun MRT, dan sekarang sedang berada di distrik 17.


"Distrik, Barabai?" Aku melihatnya di atas sebuah papan billboard besar.


Keren sekali kota ini, hampir seluruh bangunannya gedung pencakar langit. Meskipun wilayah ini salah satu kota Mega Metropolitan, mereka tetap menjaga penghijauan dengan menanam pohon-pohon yang terlihat menghiasi di setiap tepi jalan. Jalanan trotoarnya juga tertata rapi dan benar-benar sangat bersih sampai tidak ada satu sampah pun yang terlihat di mata ku, kecuali diriku sendiri.


Bagaimana aku bisa membenci kota seindah ini?

__ADS_1


Disana-sini sangat ramai sekali, pakaian mereka juga terlihat mahal. Wajar saja, mereka mungkin orang yang sudah bekerja keras dan pantas untuk mendapatkan hasilnya, mungkin.


....


Akhirnya aku sampai juga di toko pernak-pernik ini.


"Permisi" ucap ku sebelum masuk.


Di dalamnya terlihat banyak sekali berbagai macam merchendise, aku mencari yang berasal dari kampung ku, ada tidak ya?


"Maaf, ada yang bisa saya bantu mas?" ada seorang pelayan wanita yang mendatangiku, apa yang harus ku lakukan? sebenarnya aku bisa saja sendiri untuk mencarinya. Tapi baiklah, akan aku ikuti skenarionya.


"Aah, saya lagi mencari gantungan yang seperti di gambar ini ada enggak ya? Buatan model lama?" Aku menunjukan fotonya melalui smartphone ku.


Dia sedang fokus melihat gambarnya, "Ada kok mas, mari silahkan" Aku disuruh mengikutinya dari belakang dan benda yang ku cari ternyata ada di bagian lemari pojok kanan.


"Karena ini model lama, jadi statusnya menjadi item langka" ucapnya tersenyum sedangkan aku terperanjat setelah mengetahui harganya yang tertulis disana.


Sial, total harganya sama seperti gaji yang sudah aku kumpulkan selama tiga bulan. Aku ingin menghela nafas boleh tidak?


"Bagaimana mas? apakah masnya berminat membeli" Ahh, senyumannya. Itu adalah senyuman pembunuh pelanggan. "Jadi mba, saya beli satu. Dan tolong di kemas dengan tali pita merah ya".


"Baik, mas. Silahkan duduk disana untuk menunggu sebentar"


Aku berjalan mendekati kursi kosong di antara beberapa orang yang sedang duduk di sekitarnya. Rasa apa ini, tiba-tiba hatiku terasa sangat hampa penuh kekosongan.


"Maaf, permisi" sapa ku dengan senyuman palsu.


"Eng?" Diriku yang sedang rapuh, dibuat terpana dengan sebuah gantungan yang terlihat berbeda dari yang terpajang berbaris disana.

__ADS_1


__ADS_2