
Aku tertunduk lesu, karena hampir semua uang tabungan ku habiskan demi membeli gantungan itu. Apakah aku sudah mengambil langkah yang salah? Tapi ini adalah kesempatan ku untuk memberikan hadiah itu. Padahal sudah 10 tahun berlalu, belum tentu dia mengingatnya. Bodohnya diriku!
"Eng?" (gantungan apa itu?).
Aku berdiri dan berjalan mendatanginya, lalu ku perhatikan setiap detail-detailnya.
Cukup unik, aku suka warnanya yang hitam. aku memutuskan untuk membelinya.
"Mba saya beli yang ini juga ya," Aku meletakkannya di depannya, ia terlihat sedang fokus menata pita merah di kotak kadonya. Aku kemudian kembali ke tempat duduk ku.
8 Menit kemudian dia datang membawa barang yang aku beli di toko itu, kemudian ia menyuruh ku segera ke kasir untuk melakukan pembayaran. Semuanya bekerja dengan senyuman, itu sedikit menenangkan perasaanku yang saat ini.
"Terimakasih silahkan belanja kembali"― (Hell, no!) Teriak ku dalam hati.
Aku membalas senyumannya di balik masker hitam yang masih ku pakai. Kemudian dengan perasaan yang menggebu aku melangkah cepat untuk segera meninggalkan tempat itu untuk yang terakhir kalinya.
"Hahh, skenario kehidupan" ucap ku mengeluh di luar pintu toko tersebut.
Masih ada satu jam dua belas menit lagi. Sebaiknya aku segera pergi kesana, karena dalam suatu tujuan pasti ada saja halangan yang menanti. Aku kembali melihat GPS untuk mengetahui seberapa jauh jarak yang harus ku tempuh jika dengan berjalan kaki dari tempat ku berada saat ini.
"30 menit ya," Aku lalu memasukan smartphone ke dalam saku celana jeans ku.
Sembari berjalan meninggalkan toko pernak-pernik itu, aku mencoba mengambil struk belanjaan ku untuk melihat total pembayarannya.
"Kenapa, harganya tetap? bukannya tadi aku membeli dua gantungan ya. Apa mungkin mereka lupa menghitungnya? tapi gantungannya ada di dalam kantong plastik"
Aku berdiri sejenak mencoba mendengarkan apa kata hati ku. Yang satu berkata kembali ke toko itu dan menanyakannya, sedangkan yang satu lagi mengatakan itu adalah rezeki ku.
Tentu saja aku mendengarkan kata yang ke dua. Benar juga, kalau di lihat dari kondisi keuangan ku sekarang, ini mungkin adalah sebuah rezeki. Tuhan pasti akan memakluminya, meskipun aku merasa sedikit ada yang mengganjal di dalam hati ini.
__ADS_1
Di bawah gedung-gedung pencakar langit aku berjalan di tengah ke ramaian orang-orang. Mereka semua terlihat seperti orang penting yang terus berjalan sambil melihat smartphonenya. Apakah dengan melakukan itu aku akan terlihat seperti orang yang punya banyak kesibukan?
"(Benar juga, kenapa aku tidak mengikuti gaya mereka saja. Supaya aku juga terlihat seperti orang yang berkepentingan")
Tak lama aku mengikuti gaya bodoh mereka, tanpa sengaja aku bertabrakan dengan seseorang yang juga melakukan hal sama di depan ku berjalan.
GUBRAK!! Headphone ku terlepas dari kepala dan jatuh ke atas trotoar.
"Woii! Kau kalau jalan lihat ke depan!" ucap seorang pria yang terlihat sangat kesal melihatku dengan mata yang melotot. Aku meminta maaf, tapi dia tetap masih kelihatan marah. Aku menunduk bukan karena aku takut, ini karena aku mengaku salah. Dia kemudian berdiri dan pergi melangkah meninggalkan wajahnya yang masih tampak kesal sambil menggerutu.
Aku yang terduduk mencoba berdiri.
"Mas, ini headphonenya jatuh" Aku mendengar ada suara wanita yang sedang berbicara di belakangku. Dalam hati ku berkata, ternyata masih ada juga orang yang waras di kota besar seperti ini.
"Terimaka-
Begitu aku ingin mengucapkan rasa terimakasih ku kepada wanita itu, aku langsung membuang muka berpaling darinya. Untungnya dia belum sempat melihat wajahku. Semoga dia tidak menyadarinya.
"Suara itu? Kamu Enok kah?"
Aku berpura-pura tuli, lalu terus melangkah meninggalkannya. Tapi dirinya yang penasaran langsung menarik hodi jaket hitam ku sehingga aku tertarik kembali ke belakang.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Akhirnya kami berdua saling bertatap muka. Si pendek ini wajahnya tidak berubah. Ia masih tetap memasang wajah judesnya.
"Ternyata benar kamu Enok. Wah-wah, apa kabarnya sekarang. kenapa baru muncul ke permukaan?" Jangan pasang wajah sumringah seperti itu, aku tahu kau pasti sedang mencoba meledek ku.
Namanya adalah Rena, tingginya 150 cm. rambutnya sedikit panjang, kulitnya sawo matang dan dia adalah orang yang pernah jatuh cinta pada ku pada masa kuliah dulu.
Sambil berjalan, kami berdua bercerita.
__ADS_1
"Jadi kamu dapat undangan juga dari Lyla? kok bisa ya dia masih ingat sama kamu?"
"Aku juga nggak tau"
"Sekarang kamu bekerja dimana Nok? Apa kamu sudah bekeluarga? sudah 10 tahun loh kita tidak bertemu setelah wisuda, masa nggak ada perubahan?"
Ini dia, akhirnya datang juga pertanyaan "Legend" ketika seseorang bertemu kembali setelah beberapa tahun tidak bertemu.
"(Sebaiknya kau jangan mengharapkan nasib orang akan selalu baik seperti apa yang ada dalam keinginanmu)" Tapi biarlah, mari kita ikuti skenarionya.
"Aku bekerja di tempat sampah" aku menjawabnya dengan lantang. Dia pun langsung tertawa begitu mendengarkannya. Biarlah, ini adalah fakta dari sebuah kenyataan. Jika kau berhasil orang-orang akan bangga dan mendatangimu, namun jika kau adalah orang yang gagal. mereka akan pura-pura lupa dan pergi meninggalkanmu.
"Untung aku ga jadi pacaran sama kamu ya. Bisa malu aku nanti" Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depan orangnya langsung dengan ekspresi wajah yang tak berdosa.
Ahh, rasa sakit ini. Sudah berapa kali aku merasakannya sampai jadi terasa sangat nikmat di hatiku. Tapi tidak apa-apa, dia adalah seorang wanita dan itu adalah hal yang sangat wajar. Semua orang ingin mencapai kebahagiaan sesuai dengan idelismenya, karena itulah mereka bekerja keras untuk mewujudkannya.
"Kalau Rena bagaimana?"
"Aku sudah lama menikah, dan sekarang aku sedang menjalankan usaha di salon kecantikan milik suamiku"
"Wahh, hebat sekali. Beruntung ya kamu bisa dapat suami yang banyak uang"
"Iyah, cewek kalau mau menikah harus mencari calon suami yang tajir dan banyak uang jika rumah tangganya ingin berjalan dengan baik" ucapnya.
Dia benar, itu semua demi kebaikan bersama. Aku sudah beberapa kali mendengar mereka yang berkeluarga sedang mengalami kesulitan ekonomi berakhir dengan ending yang menyedihkan. Dan yang menjadi korban adalah anak mereka. Semoga suami mu terus lancar rezekinya ya, Rena.
Setelah lama berjalan dan berbincang dengannya, akhirnya kami berdua sebentar lagi akan sampai ke tempat konsernya Lyla. Orang-orang sudah mulai banyak yang berjalan masuk menuju arena.
Di saat kami berdua akan masuk ke dalam arena, aku bertemu lagi dengan teman-teman masa kuliah ku yang sekarang kelihatannya dia telah menjadi orang sukses setelah turun dari mobil mewahnya. Aku tidak bisa menghindarinya, terpaksa aku mengulang konversasi itu dan merasakan rasa sakit yang nikmat itu kembali.
"Ahahaha," itu adalah suara tertawa yang terdengar menyedihkan.
__ADS_1