
Di dalam dunia yang gelap aku melihat gambaran kematian diriku yang telah di potong sampai menjadi 84 bagian. Begitu potongan tubuhku yang berbentuk kotak-kotak itu jatuh berantakan, aku langsung tersentak bangun.
"Haakh!!" Mimpi buruk itu benar-benar membuat wajahku berkeringat. Aku mencoba mengatur nafasku agar kembali normal. Aku memperhatikan sekitar, yang ternyata aku berada di dalam dunia pasir waktu.
"Halo, kamu sudah bangun anak muda?" ―Jealous!!
"Jealous, apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa aku mati begitu cepat?! Siapa wanita itu, aku tidak bisa melihat wujud aslinya bahkan dengan menggunakan topeng Ruwana" ―Hmmm.
"Kau masih terlalu cepat untuk kesana. Kemungkinan yang kau lawan itu adalah Iblis tingkat 12. Itu karena dia mampu menghapuskan wujud aslinya di depan topeng itu, dan kecepatannya yang sudah melampaui ruang dan waktu."
"Itu terdengar sangat gila, bisa-bisanya kau memberikan aku kekuatan yang tidak sebanding dengan mereka" aku menatapnya yang sedang duduk santai di singgasananya.
"Kau yang gila, kenapa kau langsung menyerang kesana? Kau harusnya sadar diri, umurmu itu baru seumur jagung. Sedangkan Iblis turun di dunia ini sudah sangat lama, mereka pasti sudah lama beranak pinak bersama manusia"
"Apaa? Jadi rumor tentang itu benar ternyata!" ―Rumor?
"Itu bukanlah rumor anak muda, itulah kenyataan yang telah terjadi. Tidak hanya iblis, malaikat dan para dewa lainya juga banyak yang menikah dengan manusia"
"Ahhh,Kepalaku sakit setelah mendengar perkataanmu. Itu artinya di dalam 9 milyar manusia yang hidup di dunia ini, ada mereka yang hidup berbaur bersama di dalamnya" ―Ya! "Tapi kenapa?! Apa tujuannya!!?
"Tentu saja tujuannya hanya satu, yaitu menyesatkan kalian para manusia agar hidup sejalan dengan tujuan mereka!" ―Apa buktinya?
"Bukti? Bukankah kebencian mu terlahir karena bukti-bukti itu" Enok terdiam.
"Mereka yang mengaku bertuhan dan beragama, tapi hanya dalam bentuk lisan. Mereka yang selalu berbuat kejahatan, ketidakadilan, keserakahan, kebencian, kesengsaraan, kemungkaran, itu semua adalah bagian dari sifat mereka."
"Kebencian? Apa itu berarti aku juga termasuk iblis?"
"Tidak, kebencianmu berbeda dengan meraka. Karena itulah aku menyukaimu." ―Hei, tolong jangan berkata seperti itu di depanku.
"Itu semua di pupuk menjadi satu yang bernama Nafsu. Siapa pun yang tidak berhasil melawan nafsunya sendiri, maka mereka akan tenggelam di dalamnya. Dan mengeluarkan wujud aslinya yaitu Iblis" ―Jadi iblis-iblis yang bermunculan di kota ini adalah para manusia yang tenggelam di dalam nafsunya?.
__ADS_1
"Ya!" Aku menepuk jidatku sendiri seakan tak percaya. Tunggu dulu, bukankah itu berarti aku telah menjadi seorang pembunuh?
"Secara tidak langsung iya, tetapi kau harus mengingatnya. Yang kau bunuh itu adalah manusia yang telah berubah menjadi iblis. Kau tidak perlu merasa berdosa akan itu"
"Sial!! Apakah ada anak-anak yang diluar sana yang terlahir dari orang tua iblis?" ―hampir semuanya.
Enok masih tidak percaya, ia terlalu mendapatkan banyak tekanan setelah mengetahui kebenaran itu. Wajahnya terlihat seperti orang stres dengan mata melotot penuh tatapan kosong.
"Woi, masih terlalu dini untuk menjadi gila. Kalau kau tidak sanggup kau bisa berhenti, aku tidak akan memaksamu"
Tidak! Tidak! Tidak! Tidaaaak!!! Lyla, aku harus segera menyelamatkan Lyla!!
"Lyla? Bukankah wanita itu sudah punya suami?" ―Tidak dia baru bertunangan dengan salah satu gubernur yang ada di distrik kota ini. "Aku hanya ingin menyarankan, jangan sampai merusak rumah tangga orang."
Pikiran Enok menjadi liar, hatinya penuh dengan rasa kecemasan.
"Jealous!! Aku akan pergi dulu untuk menemui Lyla!!" ―Ya hati-hati.
***
"Iblis tingkat ke 12, kenapa mereka bisa berada disana? Apakah mereka yang sedang memegang kendali negara saat ini"
"Jika itu benar maka semua biang keonaran yang sudah terjadi di seluruh dunia saat ini adalah ulah mereka semua dari balik layar"
"Aku harap dibelahan dunia lain ada orang yang memiliki kekuatan yang sama sepertiku" ―jawabannya adalah tidak ada!
"Jealous!?" Aku sedikit terkejut mendengar perkataannya. Jika itu benar, maka sudah berapa banyak korban yang telah berjatuhan karena ulah para iblis itu.
"Aku mengerti rasa keadilanmu itu. Perlu kau tahu, sebesar apapun kekuatan yang kau miliki, kau tidak akan pernah bisa menolong semua orang yang hidup di muka bumi ini dengan tangan mungil mu itu"
"Orang-orang akan mati dan terlahir kembali, itu adalah takdir kehendak. Yang bisa kau lakukan dengan kekuatan itu adalah untuk meyeimbangkannya"
__ADS_1
Enok terdiam di tengah angin dingin malam yang menyapu wajah murungnya. Dalam tatapan matanya yang penuh harapan, ia membayangkan nasib-nasib anak kecil yang ada di belahan dunia lain.
"Anak muda, tidak semua manusia itu memiliki sifat buruk di dalam hatinya, dimana ada kejahatan disitu ada kebaikan. Pasti akan ada orang lain yang mau untuk mengulurkan tangannya kepada mereka yang jatuh dibawah"
"Kau tidak-
Jealous terdiam setelah mengetahui keputusan Enok yang terbaca dari dalam pikirannya. Enok meninggalkan posisi duduknya, ia bangkit berdiri dan melangkah ke tepi atas gedung. Disana ia kembali melihat keindahan cahaya gemerlap lampu kota yang menghiasi suasana malam yang ada di distrik 1.
"Meskipun kau berkata seperti itu, tetap saja diluar sana masih banyak orang yang berteriak meminta tolong, berdoa kepada tuhannya, agar dirinya bisa selamat dan dapat melihat hari esok"
"Aku memang tidak bisa menyelamatkan mereka semua tapi, akan kubuat mereka semua selamat ditanganku."
"Dengan kekuatan ini, mulai besok aku akan memulainya. Mengumpulkan semua kebencian yang ada di seluruh dunia ini, di mulai dari distrik tempatku tinggal"
Enok melompat dari atas gedung dan jatuh meluncur kebawah. Ia melompat kesana-kemari di antara orang-orang yang sedang menikmati kehidupan duniawinya tanpa ada yang menyadari keberadaan dirinya.
Di atas gedung yang Enok tinggalkan, terlihat sosok Malaikat jatuh yang bernama Jealous. Dia berdiri memperhatikan pemuda itu dari balik jubah gelapnya yang tersamarkan dalam kegelapan malam.
"Jadi itu anak pilihan mu sekarang?" seorang wanita berpakaian kantoran keluar dari balik sisi gelap bayangan.
"Eina? jadi kau yang membantainya. Kasar seperti biasanya"
Wanita yang bernama Eina itu kemudian keluar dari balik bayangan hitam dan melangkah mendekati Jealous lalu berdiri di sampingnya.
"Anak itu masih polos, lebih besar rasa keadilannya dari pada kebencian yang di milikinya" ucap Wanita yang bernama Eina
"Aku tidak memilihnya, dia lah yang datang memilihku" jawab Jealous yang memperlihatkan sedikit cahaya matanya yang bewarna kuning dari balik jubah yang tertiup angin.
"Terserah kau saja, kalau mau merasakan kekalahan itu sekali lagi untuk yang sekian kalinya" Eina kemudian menghilang masuk ke dalam bayangannya.
...
__ADS_1
"Berjuanglah anak muda, meskipun semua ini sudah pernah terjadi puluhan ribu kali, aku berharap dengan adanya dirimu semua ini akan bisa berakhir"
Jubah kegelapan itu pecah menjadi serpihan debu dan menghilang di bawah sinar rembulan malam.