E. A.N. E : Unreality In Reality

E. A.N. E : Unreality In Reality
Chapter 10 : "Unexpected Death"


__ADS_3

Enok telah berhasil mengambil sisi buruk para pekerja yang ada di pabrik sampah. Ia kemudian lekas keluar berniat untuk menyusul wanita pelacur tersebut, namun ternyata wanita itu sudah tidak ada lagi disana.


Sambil menundukkan wajahnya, pemuda itu terlihat menyeringai dengan senyuman yang tampak menakutkan.


"Bisa! Aku bisa mengubah dunia! tanpa harus mengotori tanganku!!" ucapnya dengan ekspresi wajah ambisius.


"Berikutnya adalah kau George Smith, aku akan langsung menyerang pemimpin negara ini. Kemudian aku akan memintanya untuk mengubah sistem peraturan yang ada, agar semua orang bisa hidup dalam kesetaraan"


Tapi apa aku harus berjalan kaki ke sana? Jaraknya sangat jauh sekali. Kalau tidak salah para konglomerat itu tinggal di distrik satu.


"Jealous!! Oi Jealous!! Apa kau bisa mendengarku?" aku berteriak di dalam pikiranku, siapa tahu dia bisa mendengarnya.


"Jealous!!


"Berisik sekali, kau tidak perlu berteriak sekencang itu. Suara mu membuat ruanganku berada jadi bergema" ―Ruangannya bergema? Memangnya kau ada dimana sekarang?"


"Di dalam kepalamu!" ―Apaa!! Bagaimana bisa kau ada di dalam sana. Cepat keluar!


"Memangnya kenapa?" ―Hahh, terserah kau sajalah. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.


"Apakah itu?" ―Apa Kekuatan ku hanya bergantung pada jarum Agulha ini? Maksudku apakah kekuatan fisik ku tidak ikut berubah layaknya manusia super.


"Bukankah sudah aku bilang sebelumnya, kau berada di ruang dan waktu yang berbeda. Hukum dunia manusia tidak berlaku pada tubuhmu saat ini. Kau bebas melakukan apapun, selama menggunakan topeng itu" ―Topeng ya.


"Ya, nama topeng itu adalah Ruwana. Kau hanya perlu menyebut namanya, maka dia akan langsung terpasang diwajahmu. Begitu pun dengan jarum itu." ―Baiklah aku mengerti.


"Oh iya anak muda," ―Ada apa?


"Tidak apa-apa" ―Hei kau jangan coba mengintip ingatanku.


...


Baiklah, Akan ku mulai. "Ruwana!"


Ketika Enok menyebutkan namanya, topeng tersebut langsung muncul dan terpasang di wajahnya. Ia kemudian berpikiran untuk mencoba melompat dengan menghentakkan kakinya.

__ADS_1


Tap!


'Whoaaaaa!! Yahoooo!!" Aku meloncat tinggi sekali, sampai semuanya terlihat berada di bawah bokongku sekarang, dan gedung-gedung pencakar langit ini serasa bisa ku lampaui.


"Huft!"


Aku mendarat disalah satu gedung pencakar langit, tepatnya dipuncak atapnya. Anginnya terasa deras sekali, membuat jaket hitam ku sampai berkibar-kibar dibuatnya. "Ahh~, sejuk sekali disini".


Jika di lihat dari atas sini, semuanya memang terlihat indah. Tetapi dibalik ini semua adalah sarang iblis yang berwujud manusia. Orang infinity corp itu mengatakan, jika ada iblis yang berbaur dan membuat keturunan dengan manusia. Bukankah itu sangat berbahaya sekali. Apakah topeng ini dapat membedakannya.


Tak lama aku mendengar suara alarm kota yang berbunyi keras. Menandakan para iblis itu kembali lagi berkeliaran untuk memangsa korbannya. "Ada tiga tempat!!"


Sial, mana mungkin aku bisa mendatangi ketiga tempat itu sekaligus. Pasukan Infinity Corp kemungkinan akan sedikit terlambat, karena Markas mereka berada di distrik 65 tepat ditengah-tengah kota Mega Metropolitan yang berbentuk lingkaran ini. Tidak ada waktu untuk ragu, aku akan memulainya dari suara yang terdekat dulu.


Aku melompat tinggi, dari gedung ke gedung yang lain. Orang-orang dibawah sana sama sekali tidak perduli dengan apa yang kulakukan. Semua berkat hukum kebenaran menjadi kebohongan yang di miliki Malaikat yang bernama Jealous itu, sehingga apapun yang terjadi padaku tidak ada pengaruhnya untuk mereka.


Suara teriakan minta tolong semakin jelas terdengar ditelingaku, seraya melompat di udara aku melihat ke bawah. Jalanan kembali menjadi macet dan berantakan, iblis-iblis itu mulai berdatangan dari gang sempit yang gelap. Mereka melompat sambil mengeluarkan senjata celuritnya, dan akan menyerang seorang ibu dan anaknya. ―"Tuhaan, tolong kamii!!"


Dari atas udara, aku langsung menukik tajam ke arah kedua orang tersebut. "Tidak akan kubiarkan!! Hyaaah!!


Mereka menangis, bersyukur menghadap ke atas langit. "Terimakasih kembali, tapi aku ini bukan tuhan. Aku apa ya? Sepertinya aku harus memberi julukan nama untukku sendiri. Tapi buat apa juga, mereka tidak ada yang tahu jika akulah yang sudah membunuh iblis-iblis itu" Pahlawan tanpa nama? bukan! Lebih tepatnya "Tidak ada", yah! Aku ini tidak ada!


Aku kembali melompat, dari sisi gedung ke 1,2,3,4 lalu melompat ke atas agar bisa melihat keadaan dibawah dengan jelas. Berdiri sejenak di tepi atas gedung pencakar langit dan fokus mendengarkan arah suara minta tolong berikutnya.


Dari kejauahan aku melihat 3 titik hitam, yang tidak lain adalah pasukan Infinity Corporation. "Mereka sudah datang, itu adalah titik alarm ke tiga. Syukurlah, aku serahkan yang disana kepada kalian. Aku akan menuju ke titik yang ke dua"


Kali ini aku menjatuhkan diriku terjun kebawah dari atas gedung tempatku berdiri. Untungnya aku memakai topeng ini, jadi kalian tidak akan bisa melihat wajah jelekku ketika akan diterpa tekanan angin yang kuat. Sebentar lagi aku akan jatuh ke bawah, namun sebelum itu aku menumpukan kedua kaki ku ke dinding dan meluncur cepat diatas jalanan tol yang penuh kemacatan, layaknya sebuah roket.


Dari jauh aku sudah melihat, di ujung sana ada iblis yang membantai para warga sipil, baik itu orang tua, dan anak muda. "Sial, aku terlambat!!" Seraya aku meluncur di udara, aku memanggil jarum Agulha. Dan melemparkan kepada meraka sebanyak 11 kali.


Iblis-iblis itu tidak sempat menyadari setiap serangan yang kuberikan sehingga mereka yang tertusuk oleh jarum Agulha, seketika berubah menjadi pasir hitam.


Di ujung aksiku, aku melakukan putaran dan mendarat di atas badan panjang mobil container. Disana aku berdiri, melihat para korban yang berjatuhan. Keluarga mereka berdatangan dan menangisi mayatnya. Aku menyaksikan kesedihan itu dari balik topengku.


"Kurang, kekuatan ini, masih kurang!!" ucapku.

__ADS_1


Maafkan aku, padahal aku sudah memiliki kekuatan malaikat. Tapi aku masih belum bisa menyelamatkan semua orang.


Kulihat kondisinya sudah mulai kondusif, aku pun segera pergi untuk melanjutkan tujuan utamaku. Yaitu, menusuk presiden George Smith dengan jarum Agulha ini. Harinya sudah mulai senja, kemungkinan aku akan sampai ketika hari sudah menjadi gelap.


Pemuda bertopeng yang bernama Enok itu kembali meloncat, dari gedung satu ke gedung yang lainnya.


***


Benar saja, aku sampai ke distrik satu ketika harinya sudah mulai gelap. Pemandangan yang kulihat adalah gemerlapnya dari warna-warni lampu kota yang terlihat seperti bintang-bintang di atas langit malam. Disana juga terlihat beberapa lampu sorot yang menjulang terang ke atas.


Aku membuka smartphone, melihat GPS untuk mengetahui keberadaan Gedung Putih tempat presiden itu tinggal. Cahaya layar dari smarthphone yang terang memperlihatkan bentuk ukiran wajah di topeng Ruwana ini.


"Ini dia!" Hanya beberapa blok saja dari sini.


Setelah ku masukan smartphone itu ke saku celana jeans ku, aku berlari kencang dan melompat dari atap gedung satu ke gedung yang lainnya, karena jaraknya yang cukup berdempatan.


Dan akhirnya sampailah aku di suatu gedung dan Istana presiden itu terlihat dari tempat ku berdiri. Ketika aku ingin meloncat kembali, gerakan kedua kaki ku terhenti. Dari balik dinding bangunan yang terdapat di atas gedung ini, aku dikejutkan dengan seseorang berjalan keluar dari bayangan hitam.


Dia adalah seorang wanita cantik, penampilannya terlihat seperti orang kantoran. Rambutnya panjang halus terurai, dan ia berkacamata.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya dirinya kepadaku.


Aku pun terkejut mendengar dia bisa berbicara padaku yang seharusnya terlindungi oleh hukum kebenaran menjadi kebohongan.


"Kenapa Nona bisa melihat saya?"


Dia hanya tersenyum dan memberikan tatapan mata yang menghanyutkan. Karena aku merasa aman bersama kekuatan Malaikat ini, aku sama sekali tidak ada rasa takut dan curiga terhadapnya.


Wanita itu kemudian berjalan ke arah ku, lalu bagai angin yang berhembus sekejap. Dia sudah ada dibelakangku.


Setelah ia melewatiku, aku merasakan diri ini bagaikan roti yang baru di angkat dari dalam oven dan dipotong halus-halus lalu di olesi dengan slai stroberi yang hangat. Kemudian satu persatu diletakkan di atas meja dan siap disantap.


Wanita itu kembali lagi berjalan melewatiku dan dia berkata, "Jangan ganggu urusan kami" ia lalu tersenyum manis dan pergi meninggalkanku.


"Eh, Apa yang barusan terjadi" ucapku dalam hati.

__ADS_1


Ternyata pemuda yang bernama Enok itu telah dipotong menjadi 84 bagian dalam hitungan tidak sampai satu detik. Dan potongan tubuhnya jatuh satu persatu berserakan seperti potongan beef steak yang di lumuri dengan saus teriyaki.


__ADS_2