E. A.N. E : Unreality In Reality

E. A.N. E : Unreality In Reality
Chapter 03 : "At fly over park"


__ADS_3

Setalah masuk melewati jalur VIP yang penuh pengawasan begitu ketat. Aku dan teman-teman lama ku berada di barisan paling depan. Aku tidak memperdulikan perkataan mereka terhadap ku sebelumnya. Saat ini, dan pada momen ini aku bisa melihat Lyla bernyanyi untuk pertama kalinya adalah segalanya untukku.


Orang-orang sangat ramai di belakangku, mungkin ada ribuan orang yang sedang tak sabar untuk segera mendengarkan lagunya.


Panggungnya untuk tempat ia bernyanyi juga terlihat sangat megah dan elegan, benar-benar di desain untuk seorang Diva.


Whoooooooaaaaaaaaa~


Semua orang berteriak memberikannya sambutan, ketika Diva Lyla muncul dari balik stage. Ia pun membalas sambutan itu dengan lambaian tangannya ke semua penonton bersama senyuman cerah dari wajahnya yang tampak putih bersih berseri.


Aku pun terkagum melihat perubahan yang sudah terjadi pada dirinya. Paras wajahnya begitu cantik. Ketika ia berjalan, rambutnya yang hitam kemilau keemasan tertiup angin sepoi-sepoi begitu halus sehingga aku bisa melihat keindahan yang lain di baliknya.


Dia sekarang melihat ke barisan depan, apakah dia mengenali ku yang pecundang ini? Tentu saja tidak, padahal barusan kami bertatapan mata. Apa boleh buat, meskipun dia teman semasa kecilku kami sudah tidak bertemu dan tidak saling bertegur sapa selama 10 tahun.


Lyla mulai terdiam dan berdiri di tengah stage. Musik mulai di mainkan, itu adalah jenis musik pop. Ia membuka matanya melihat jauh ke depan, ia pun mulai bernyanyi.


Song by Lyla


Lyric : Ren Tsurugi


Kau pernah berjanji padaku pada hari itu


Saat kita berdua melukis kan angan bersama


Di bawah langit biru, di atas pasir putih


Ombak biru akan datang tuk menghapusnya


Tapi kau berdiri untuk menjaganya


Dengan senyum mu kau menjaga ku


Aku terharu di belakang pundak mu


Karena mu aku dapat melihat dunia


Dan karena mu aku ada disini

__ADS_1


Jika suatu hari kita bertemu kembali


Kan ucapkan rasa terimakasih


Di malam hari ku berdoa


Berharap impian mu kan tercapai


Aku tahu kau berjuang seorang diri


Tapi janganlah pernah tuk membenci


Dengan aku menyanyikan lagu ini


Ku harap kau akan dapat terus bangkit berdiri


Melangkah kembali


Tuk melawan dunia


Sampai kapan pun


Aku kan selalu percaya


Kau akan selalu menjadi dirimu sendiri


Semua penonton yang ada di arena memberikan tepuk tangan yang sangat meriah atas penampilannya. Lyla pun menunduk untuk membalas rasa terimakasih mereka. Dia kembali ke backstage, untuk persiapan lagu berikutnya.


Setelah ia menyanyikan beberapa lagu, akhirnya konser pertamanya pun selesai. Terlihat semua orang benar-benar menikmati penampilannya, dan kemudian mereka mulai meninggalkan arena secara tertib. Aku masih berdiri seperti orang bodoh disana, berharap ia akan kembali dan menyadari kehadiranku.


Hampir satu jam aku menunggu sebuah harapan. Tetapi tidak ada tanda-tanda jika dia akan datang menghampiriku. Mungkin semua ini hanya perasaanku saja yang berlebihan menanggapinya. Benar juga, mana mungkin dia mau menemuiku, memangnya aku ini siapanya?.


Dia sekarang sudah menjadi seorang Diva, posternya ada dimana-mana. Kau harus sadar siapa dirimu. Aku tahu, karena itu aku hanya ingin memberikan hadiah ini untuknya, memberikan ucapan selamat, lalu menghilang dari pandangannya untuk selamanya.


Sebenarnya aku masih berharap, tapi aku memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Aku melangkah sambil menunduk, dan tidak ingin lagi melihat kebelakang.


Dalam keputusasaan, aku mendengar suara langkah kaki orang berlari yang sepertinya datang untuk menghampiriku. "Tapi apakah mungkin? Kenapa, kenapa kau terus mengharapkannya." Aku merasa kesal dengan suara hatiku sendiri.

__ADS_1


"Mas, mas, ini ada pesan untuk mas dari Nona Lyla. Dia meminta maaf karena tadi masih sibuk dibelakang stage" ucap dari seorang petugas setelah menepuk pundakku dari belakang.


Mendengarkan kebenaran itu darinya membuat cahaya masuk menyinari kegelapan yang ada di dalam hatiku. Aku memberikan ekspresi wajah yang sangat bahagia di depannya, sampai petugas itu kebingungan melihatnya.


"Terimakasih tuhaan!!" teriak ku sembari menatap ke langit yang biru.


Rasa penasaran dan ketidaksabaran membuatku langsung membuka isi suratnya, ia mengatakan "Aku akan menunggumu di taman jembatan layang". Siapa pun tidak akan ada yang percaya, seorang artis terkenal seperti dirinya menunggu kehadiran seorang pecundang seperti diriku. Mataku sampai berkaca-kaca, hidungku mulai tersumbat, dadaku terasa sesak dan akhirnya aku menangis sambil tertawa.


"Ahahahaha!!"


Aku langsung berlari dengan perasaan riang gembira, setiap langkahku berlari terdengar nada dan suara merdunya bernyanyi. Ini pertama kalinya aku merasakan dunia seperti membantuku, aku meyakini itu karena orang-orang yang ada disekitarku pergi menjahuiku, bahkan lampu penyeberangan jalan berubah menjadi bewarna hijau, sehingga aku dapat langsung menyebaranginya.


"Itu dia taman jembatan layang!" ucap ku penuh percaya diri.


Aku kemudian menaiki anak tangga yang cukup banyak , tapi itu tidak masalah. Demi bertemu dengan dirinya, apapun rintangannya akan ku lalui.


"hah..hahh..hahh" Sial, ternyata capek juga setelah sampai ke atas. Sambil mengatur nafasku normal kembali, mataku berlari untuk melihat dimana posisi Lyla berada. Namun yang ada dihadapanku hanyalah sepasang kekasih yang sedang menikmati kebahagiaannya.


PiP! PiP! Suara pesan masuk.


"Aku ada di depan mu, yang memakai topi hitam dan baju bewarna biru"


"Itu dia ada disana" Aku langsung berlari mendatanginya. Dia sedang menyandarkan kedua tangannya pada pagar stainles.


"Lyla!!" sapaku dengan jantung yang berdegub kencang. Ia kemudian membuka kacamatanya. Wajahnya terlihat sangat cantik dan matanya yang indah membuat hatiku malu jika terus menatapnya. Tapi, kenapa wajahnya terlihat merah dan penuh keringat. Apa mungkin dia kepanasan? Apa karena itu dia memilih tempat ini agar mendapat kesejukan?.


"Lyla, kenapa wajahmu terlihat memerah dan penuh keringat?" sial aku keceplosan, harusnya tidak menanyakannya.


"Apa itu yang ingin kau tanyakan padaku setelah 10 tahun kita tidak saling bertemu?" Sudah ku duga, itulah jawaban yang akan keluar. Ahh, opening yang buruk. Bodoh sekali kau Enok.


"Ah enggak, wajahmu terlihat seperti orang yang kelelahan? Atau kau sedang demam?"


"Iya, aku memang sedikit kelelahan. Tapi jangan khawatir, aku sudah terbiasa kok" Iya menjawabnya dengan senyuman dari bibirnya yang tipis.


"Syukurlah, kalau kau baik-baik saja." Bagaimana ini, aku tidak bisa membuat percakapan di depannya. Apa yang harus ku katakan? Apa sebaiknya aku menyerahkan kado itu lalu pulang begitu saja.


"Enok bagaimana kabarmu?" Apakah semua berjalan sesuai dengan harapan mu?" Lyla, apa yang kau harapkan dariku dengan menanyakan itu. Seharusnya kau bisa menebak dari penampilanku yang terlihat murah ini. Hah, berat sekali untuk menjawab bahwa aku telah menjadi orang gagal.

__ADS_1


__ADS_2