
Lyla aku harus segera menemuinya malam ini juga. Sambil menuju ke arah tempatnya tinggal yang berada di distrik 18, aku mencoba menghubunginya terlebih dahulu.
Suara telepon berdering.
"Lyla kumohon jawablah panggilan teleponku ini"
Setelah dibuat cukup menunggu, akhirnya dia mengangkat panggilan teleponku.
"Ya selamat malam―"Lyla!!! Kamu sekarang ada dimana?" Maafkan aku telah memotong pembicaraan.
"Enok? Ada apa, kenapa kamu terdengar sangat terburu-buru?'
"Maafkan aku Lyla, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Ini sangat darurat, sekarang kamu ada dimana?" Aku masih terus melompati beberapa gedung, ditemani dengan lampu-lampu kota yang bersinar indah ditengah malam.
"Ah, aku lagi di apartemen. Baru juga selesai mandi, kenapa?" Mandi? Bagaimana ini, apakah aku berada di timing yang buruk?
"A, apakah kau sedang bersama, bersama.."
"Ya enggaklah, kamu kan tahu. Aku masih mau fokus berkarir dulu" Lylaaa!!! Begitu mendengarkan perkataannya hatiku berteriak memanggil namanya, membuat air mataku mengalir seketika. Aku tidak tahu apakah ini air mata bahagia, ataukah air mata kesepian di hatiku.
"Tunggu aku disana Lyla!!" ―"Enok tun-!" Teleponnya langsung kumatikan, aku merasakan semangat yang berkali-kali lipat di dalam darahku yang mengalir. Lompatan ku semakin kuat dan semakin jauh.
Dalam haru kebahagian yang baru saja dirasakan hatiku, aku mendengar sayup-sayup suara wanita meminta tolong "Suara orang minta tolong? Apa Iblis-iblis itu juga menyerang di malam hari?"
Aku langsung membelokkan arah lompatan ku ke arah sebelah kiri. Ku lihat dibawah sana adalah pemukiman yang cukup gelap, tempatnya becek dan terlihat kotor. Aku pun langsung menukik mendaratkan kedua kaki ku di atas tutup tong sampah yang berbentuk persegi.
Hantaman kaki ku yang mendarat keras, menghasilkan suara besi yang penyok. Tak lama wanita itu keluar dari sebuah gang yang gelap dengan penuh darah di tubuhnya. Aku langsung bergegas menghampirinya.
"Nona apa anda tidak apa-apa? Melihat dirinya yang lunglai hendak terjatuh, aku langsung menangkap tubuhnya.
Kulihat dia menahan di bagian perut, setelah ku geser tangannya. Ternyata bagian perut kirinya robek. Untunglah isi perutnya tidak keluar. "Bertahanlah nona, aku akan menyelamatkanmu"
Kekuatan ini merasakan adanya hawa membunuh yang kuat berasal dari belakangku, aku pun lekas menyandarkan Nona ini di dinding kotor yang banyak coretan vandaliseme.
Dari dalam kegelapan keluarlah seekor iblis yang berpakaian robek-robek. "Manusia yang tenggelam dalam nafsunya ya". Dia berjalan sempoyongan, seperti orang mabuk. Aku tidak ingin membuang waktu, aku langsung melemparkan jarum Agulha ke arahnya.
__ADS_1
"Hilang?" Tanpa kusadari dia sudah ada disampingku, mendaratkan tinjunya dengan sangat cepat tepat di wajah bagian kananku. Aku pun langsung terhempas keras sampai menghancurkan dinding bagian belakang rumah orang yang terbuat dari bata merah.
"Bangsat!! Baru kali ini aku terkena serangan para iblis itu" Aneh juga, rasanya tidak begitu sakit. Apakah ini berkat topeng Ruwana?
Dari dalam kepulan asap yang kotor penuh debu, aku melihat iblis itu mencoba mendekati Nona yang sedang terbaring tak sadarkan diri. "Tidak akan kubiarkan!"
Aku menerjang tepat di arah belakangnya, bermaksud ingin menusuknya. Anehnya kali ini aku bisa melihat gerakan cepatnya. Dalam pergerakan lambat yang ku lihat, dia melangkah berpindah ke arah kanan bermaksud ingin melakukan serangan yang sama. Pada detik itu juga aku memanggil satu lagi jarum Agulha tepat di atas kepalanya.
Belum sempat iblis itu memukulku, jarum itu terlebih dahulu menusuk kepalanya hingga tembus sampai kebawah. Dan detik itu juga ia berubah menjadi pasir hitam seketika.
"Maafkan aku" ucapku sambil melihat tumpukan pasir hitam yang ada di dekat kaki kananku.
Aku kemudian berlari mendekati Nona itu kembali. Merangkul tubuhnya dengan kedua tanganku, dan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat.
***
Nona itu berhasil terselamatkan dan orang-orang yang melihatku pada saat itu menyadarinya hanya sebagai seorang pemuda biasa.
Apartemen tampat Lyla tinggal, sudah mulai terlihat. aku bisa menemukannya berkat share lokasi yang ia sudah berikan. Langkahku terhenti disana, tentu saja. Mana mungkin aku tiba-tiba berada dibalkon luar kamarnya. Bisa menjadi pertanyaan besar nanti.
Orang-orang yang di tinggal apartemen tidak ada satu pun yang menyadari penampilanku yang penuh dengan darah, begitu pun dengan Lyla.
"Enok, apa yang terjadi. Kenapa kamu terdengar panik saat menelpon? Lyla langsung menanyakannya, begitu ia membuka pintu kamar yang telah ku ketuk untuk memanggilnya keluar.
Dia menyuruhku untuk masuk, tetapi aku menolaknya. Aku langsung mengambil barang yang ingin kuberikan untuknya dari saku celanaku, bukanlah sebuah kado yang ingin kuberikan, tetapi sesuatu yang lain. Yang bisa melindunginya dari jangkauan para iblis itu.
"Apa ini Enok?"
"Itu, itu adalah" Bagaimana aku menjelaskannya. Apa aku harus mengatakannya kalau itu adalah sebuah jimat penangkal iblis.
"Enok?" ―"Lyla, itu adalah jimat penangkal iblis" Dia langsung tertawa geli ketika mendengarnya.
"Ya ampun Enok, jadi kamu terburu-buru tadi untuk mengantarkan gantungan ini?" Wajahnya yang tersenyum membuat hati ini meleleh. Untungnya aku memakai topeng, jadi dia tidak bisa melihat ekspresi wajah jelekku.
"Enok, terimakasih. Tapi kan kamu sudah tahu, aku sudah bertunangan. Beberapa hari yang lalu kita sudah berjanji bukan. Apa kamu sudah lupa?" Tangan kanannya mengembalikan pemberianku.
__ADS_1
"Tidak! Lyla tolong percayalah padaku. Simpan dan selalu bawa benda itu bersamamu. Kumohon Lyla, aku tidak ada bermaksud apa-apa." ucapanku yang memelas hatinya membuat niatnya berubah. Ia memberikan wajah empatinya kepadaku. Tidak apa, aku mengerti perasaan dia yang sebenarnya.
"Baiklah aku pulang dulu, ingat ya apapun yang terjadi benda itu harus tetap bersamamu"
"Iya, aku mengerti".
***
Keesokan harinya, di pagi hari aku sudah mendengar banyak sekali suara sirene mobil polisi dan helikopter. Aku berlari keluar dan melihat ke atas langit.
"Infinity Corporation?" Aku lekas memanggil topeng Ruwana, berlari lalu meloncat ke arah gedung yang tinggi. Dari atas sana aku melihat kepulan asap hitam ada di hampir seluruh distrik 8.
"Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba mendadak jadi seperti ini. Baru saja aku ingin memulai?"
Aku melihat banyak iblis berlari dan berlompat-lompat menyerang para warga sipil. Dan ketika aku ingin kesana untuk menyelamatkan, satu orang dari pasukan Infinity Corporation lompat dari helikopternya dan mendarat tepat menghadang iblis-iblis itu.
"Siapa orang itu? Iblisnya ada banyak, apa bisa dia mengalahkannya hanya dengan sendirian?"
Lelaki itu berambut putih, berkacamata elegan, dengan seragamnya yang terlihat keren. Iblis-iblis itu terlihat waspada akan kehadirannya. Satu dari mereka menyerang dengan celuritnya yang panjang. Pria berambut putih itu kemudian mengambil sebuah pistol yang terdapat dibagian celananya.
Ia menambaknya dengan sangat mudah. Berbeda denganku, tubuh iblis yang terkena tembakannya membuat tubuh mereka bergelembung lalu meledak.
"Awas! Di belakangmu!!" teriak ku yang menyaksikannya dari kejauhan.
Pria berambut putih itu tidak gentar sama sekali, padahal gerakan iblis itu sangat cepat. Tetapi ia dapat mengimbanginya untuk menghindari serangan mendadak dari belakangnya.
Pistol yang ia pegang berubah bentuk menjadi sebuah pedang. Lalu mengeluarkan kilatan listrik, gerakannya bahkan sangat lincah dan cepat, ia menunduk lalu tiba-tiba sudah berada dibelakang iblis tersebut.
SLASH!!!
Tubuh iblis itu terbelah dua, dan meledak seperti balon tiup. Ia terus melancarkan serangan, iblis-iblis itu tidak berkutik dibuatnya. Kelincahan dan ketangkasannya dalam melakukan serangan counter, membuatnya dengan mudah membantai iblis-iblis itu satu persatu.
"Kapten I.C.O Disini, sektor D Clear!!"
"Siapa sebenarnya orang-orang ini?"
__ADS_1
Dari balik topengku, aku benar-benar dibuat kagum dengan aksi yang dilakukan oleh pria berambut putih tersebut.