E. A.N. E : Unreality In Reality

E. A.N. E : Unreality In Reality
Chapter 16 : "Sounds like a ballistic?"


__ADS_3

Disaat genting seperti ini, aku malah mendengar adanya suara wanita yang berbisik di wajahku. Jika ditebak dari nada suaranya, sepertinya dia adalah seorang wanita yang cantik. Tapi siapa dia? Kenapa aku bisa mendengar suaranya?


"Ehehehe, Enok. Ayo kita hajar mereka sekali lagi" suaranya terdengar seperti wanita penggoda.


"Aah, maafkan aku. Siapapun dirimu Nona, tapi bisakah kita fokus dahulu untuk mengalahkan iblis yang tak terlihat ini?"


"Tak terlihat? Masa sih? Coba tutup saja mata mu nanti juga kelihatan. Hehe" ahhh, suaranya benar-benar membuatku ingin tertidur lelap bersamanya.


Aku mencoba mengikuti perkataannya, menutup mataku secara perlahan. Di dalam penglihatanku yang gelap, aku berada seperti di sebuah tempat penuh badai yang bewarna hitam. Anginnya sangat kencang, debu-debu pasir hitam beterbangan.


"Siapa itu, disana?"


Ini untuk kedua kalinya, aku seperti melihat seseorang di ujung badai pasir hitam ini. Aku bermaksud mendekatinya, tetapi ketika kulihat langkahku ini benar-benar sangat berat sekali. Dan saat aku menatap ke depan kembali, wajah wanita itu sudah tepat di depanku. Kami bertatapan cukup lama, tetapi aku tidak bisa melihat wajahnya. Semuanya tampak kabur di mataku.


"Tidak apa, kamu tunggu disini saja ya Enok! Ehehehe" Setelah ku dengar suara lembut yang memukul gendang telingaku. Tiba-tiba aku merasakan kantuk yang amat berat. Kedua kelopak mata ini berulang kali jatuh bangun agar bisa menahannya tetap terjaga, namun pada akhirnya aku terjatuh kedalam pelukannya.


...


Enok tertunduk dan kedua ukiran mata pada topeng Ruwana tersebut menyala kembali.


"Ternyata malaikat itu sudah kembali lagi. Dasar bodoh, ahahaha!"


Angin kencang bagaikan badai ekstrim melanda di tengah-tengah lapangan baseball tersebut. Pohon-pohon pinus yang berderet diluar area juga ikut menari bersama gerakannya. Bahkan saking cepatnya hembusan angin itu, terdengar suara lengkingan di setiap daun dan ranting yang terpotong.


Tekanan angin kuat datang dari langit yang tinggi, melesat ke arah Enok yang masih berdiri kaku ditengah-tengah badai tersebut.


"Hehehe" Seseorang tertawa menggoda dari balik topeng Ruwana.


Iblis itu terkejut melihat Enok tiba-tiba menghilang dari pandangannya. "Apa yang terjadi, bagaimana dia bisa menghilang secepat itu?"


"Kenapa ya?"


Suara berbisik terdengar di telinga iblis tersebut, sontak ia kembali terkejut dan mencoba menoleh kebalakangnya. Ternyata Enok sedang menaiki punggungnya dan ikut terbang bersamanya.

__ADS_1


"Ahahahahaha!!" Enok tertawa dengan suara perempuan.


"Kurang ajar!! Bagaimana bisa kau ada disitu!? Dasar manusia kurang ajar! ―"Kenapa ya, bangsa kalian itu suka sekali mengganggu manusia?"


"Berisik kau-


Enok menggenggam kedua tanduknya yang melebar seperti kerbau. ―"Jawab dong," Iblis yang tidak diketahui namanya tersebut berteriak memarahinya untuk melepaskan tangan itu dari tanduknya.


"Jawab atau aku belah dua kepalamu?"


Dia tidak ingin menjawab. Dalam kecepatan terbangnya yang seperti angin, Iblis itu melakukan sebuah rencana secara diam-diam. Ia bermanuver terbang tinggi ke atas lalu belok berputar dan menukik tajam ke bawah untuk membenturkan dirinya ke permukaan tanah lapangan baseball.


DUARR!!


Iblis itu terlihat melepaskan dirinya sebelum benturan keras terjadi. Sedangkan sebagian tubuhnya Enok terlihat menancap di permukaan tanah, dengan kedua tangan dan kaki yang melipat patah.


"Mati kau dasar manusia bodoh!" iblis tersebut menyumpah dengan memasang wajahnya yang terlihat sangat keji.


Aura kebencian yang bewarna hitam mulai keluar dari balik topeng Ruwana, membalut bagian kedua tangan dan kaki Enok yang patah, sehingga semuanya kembali normal seperti semula.


Topeng Ruwana itu menatap ke arah iblis yang sedang bertahan di udara bersama kepakan sayapnya yang bewarna merah. Jarum Agulha kemudian muncul dalam genggaman tangan Enok, yang kemudian ia lemparkan ke arah iblis tersebut.


Iblis itu dengan mudah menangkisnya dengan menggunakan pedang yang ada di genggaman tangan kanannya.


"Agulha? Selama aku tidak tertusuk olehnya, senjata seperti itu hanyalah sebuah sampah!"


"Kau benar, kalau begitu kenapa tidak kita coba dengan cara yang baru" ―"Cara yang baru? Kau kira aku peduli!"


WUUSH!!


Iblis itu kembali tak terlihat. Ia berada dalam dunia milik kecepatannya sendiri, melihat Enok yang terdiam dengan gerakan lambatnya. "Pada dasarnya kalian hanyalah manusia tak berguna, memang sangat pantas kalian dijadikan budak oleh bangsa kami"


"Sekarang matilah kau manusia!!"

__ADS_1


Sebilah pedang panjang akan datang menikam leher Enok, dan di saat itulah topeng Ruwana menoleh ke arah iblis tersebut sambil memberikan senyumannya. ―"Hehe"


Tangan kiri Enok seketika di selimuti aura kebencian yang berkobar seperti api hitam, mengalir sampai ke lima jarinya dan langsung menangkap kepala iblis tersebut lalu membenturkannya ke tanah.


Dua tanduk iblis itu pun patah, kepalanya sampai terpendam ke dalam tanah. "Ahahahaha!! Jealous kau benar! kebencian anak ini berbeda, rasanya begitu nikmaat~"


Tangan kiri Enok menarik kepala iblis itu sampai keluar, wajahnya iblis itu terlihat berantakan dan berdarah-darah. "Kamu bisa beritahu aku tidak, siapa iblis pemilik distrik 8 ini? Kumohon~, aku harus segera mengumpulkan kebencian diseluruh tempat ini. Beri tahu ya?"


"Ca....ja..di..ri" ―"Hah? Apah? Kamu ngomongnya kurang jelas, aku tidak bisa mendengarnya dengan baik. Bisa tolong katakan sekali lagi?"


"To..lol"


Satu buah kata yang di lontarkan dari mulut iblis tersebut, membuat ukiran senyuman yang ada di topeng Ruwana berubah menjadi ukiran wajah yang terlihat cemberut. Ia mengangkat kepala iblis itu lalu membenturkannya kembali ke permukaan tanah sampai hatinya merasa puas.


"Mati!" 99x


Hingga akhirnya ia sadar, tangannya terus berayun tanpa menggenggam kepala iblis tersebut karena sudah habis hancur tak tersisa.


"Walah, udah ga ada lagi kepalanya. Ya udah apa boleh buat, aku akan pergi sendiri untuk mencari Iblis pemilik distrik 8 ini"


Enok berdiri memanggil jarum Agulha dari tangan kanannya yang mengarah ke atas, lalu menusukkannya pada mayat iblis tersebut hingga berubah menjadi pasir hitam.


"Dasar, padahal hanya iblis rendahan. Tetapi sombongnya sungguh keterlaluan"


Di tengah lapangan baseball yang sudah hancur berantakan, Enok pergi meninggalkan pasir hitam tersebut dengan terbang menuju ke atas langit biru menggunakan kedua sayapnya yang bewarna hitam bak kobaran api.


Dari atas sana ia bisa melihat keseluruhan distrik 8. Beberapa dari kepolisian dan pasukan Infinity Corporation bahu-membahu untuk memulihkan keadaan yang sedikit masih berantakan di beberapa tempat.


"Kasihan sekali, tempat tinggal Enok penuh dengan orang-orang yang berwajah palsu"


Sebuah simbol yang ada di kening atas topeng Ruwana terlihat menyala bewarna ungu, seseorang yang sedang mengambil alih tubuh Enok saat ini sedang mencoba mengaktifkan kekuatannya dalam skala besar untuk mengetahui keberadaan para pimpinan iblis yang sedang menduduki distrik 8 dalam wujud manusianya.


Mereka (iblis) yang sedang menikmati kesehariannya sebagai seorang ayah, ibu, konstruktor, pejabat, pedagang, insinyur, CEO dan juga hampir semua orang yang bekerja dipemerintahan tidak menyadari jika ada seseorang akan datang untuk mencabut kenikmatan itu semua.

__ADS_1


"Nok-Nok, mereka ada banyak sekali. Aku jadi bingung harus mulai dari mana. Ehehehe"


__ADS_2